METRUM
Jelajah Komunitas

Harmonisasi Suami-Istri Melalui Bersepeda

TAK hanya sekedar hobi atau olahraga, bersepeda merupakan aktivitas yang menyenangkan dan menginspirasi. Bersepeda menjadi salah-satu bentuk harmonisasi pasangan suami-istri dalam menjalani kehidupan rumahtangganya.

Faktanya, kini banyak pasangan suami-istri yang memiliki kegemaran yang sama, yaitu bersepeda. Bisa dilihat di setiap event bersepeda, selalu saja ada pasangan suami-istri sebagai peserta atau seringkali mereka juga terlihat gowes bareng di jalanan kota di setiap akhir pekan.

Ilustrasi pasangan suami-istri pesepeda.*

Mungkin hal biasa ketika kita melihat seorang suami bersepeda, sementara sang istri tidak. Begitu pun sebaliknya. Namun, menjadi hal yang menarik ketika sepasang suami-istri sama-sama memiliki hobi bersepeda. Hal ini bisa mencerminkan adanya keharmonisan dalam rumahtangga mereka. Bersepeda bersama menjadi salah-satu cara mengekspresikan kebahagian dan kemesraannya.

Uniknya, banyak pasangan suami-istri pesepeda tersebut rata-rata berusia separuh baya, bahkan ada yang berusia lanjut. Hebatnya lagi, beberapa pasangan merupakan para senior atau legiun yang sudah lama dikenal dan malang-melintang di dunia persepedahan. Mulai dari kegiatan sepeda fun, adventure, downhill-uphill hingga touring.  

Abah Nada & Emak Uwie (Dok. Metrum).*

Mereka terkadang bersepeda berdua, beserta sekeluarga atau bersama komunitas sepedanya. Tidak sedikit dari pasangan ini memiliki jam terbang yang cukup tinggi sehingga memberi semangat dan inspirasi bagi yang lainnya. Terutama bagi generasi muda pesepeda di bawahnya.

Kita memang tidak tahu kehidupan rumah-tangga mereka seperti apa. Yang jelas, tampak dari cara mereka bersepeda yang selalu ceria, kompak dan penuh kasih sayang. Seolah tergambar bahwa di antara keduanya tidak ada beban atau persoalan. Keduanya begitu menikmati setiap kayuhan sepedanya diiring canda tawa, obrolan santai, sambil saling mengawasi dan menjaga dengan penuh perhatian.

Mereka tetap terlihat begitu sehat, segar dan ceria. Dari wajah-wajahnya seringkali terukir senyum dan tawa. Begitu bahagia walau berbaur dengan rasa lelah dan keringat yang membasahi tubuh mereka.

Pasangan Gofur dan Riri Rita, pegiat sepeda lipat asal Kota Bandung (Dok. Riri Rira Rachman).*

Sepertinya ada keasyikan tersendiri yang mereka dapatkan dengan sama-sama memiliki hobi bersepeda yang mungkin tidak banyak orang merasakannya.

“Ada rasa yang sedikit sulit untuk dijelaskan. Tapi yang pasti bikin tambah dekat dan peduli dengan pasangan, serta ada kebahagian tersendiri bisa gowes bareng Istri tercinta,” ujar Bambang Suryadi dari Yuk Gowes Bandung di media sosial.

Sementara itu, bagi Rohanih Zahra, pesepeda asal Bogor, bersepeda bersama pasangan itu bahkan dapat menimbulkan kenangan indah masa pengantin baru. “Menyenangkannya tidak perlu jaim kalau sama pasangan, kalau cape ya istirahat dua-duanya. Berasa lagi bulan madu. Semenjak suami gemar bersepeda seperti pengantin baru,” ujar Rohanih melalui pesan whatsapp dilampiri emoticon tertawa.

Pasangan Bunda Azwa & Bang Uthom Herlino, pegiat sepeda lipat Kab. Purwakarta. (Dok. Bunda Azwa).*

Beberapa pasangan suami-istri pesepeda ada yang telah menuai prestasi dan prestise melalui kegiatan boseh ini. Mulai dari melakukan bersepeda jarak jauh, bersepeda umrah, bersepeda kampanye isu sosial, kampanye lingkungan dan kesehatan, hingga bersepeda keliling dunia bersama pasangan.

Meski sebagian besar pasangan suami-istri pesepeda telah berusia lanjut, kini mulai hadir pasangan-pasangan muda pesepeda. Hanya saja, karena baru memulai, beberapa masih minim dalam pengetahuan bersepeda. Namun, ada juga dari pasangan-pasangan muda ini yang memiliki jam terbang tinggi di dunia bersepeda yang mereka dapatkan ketika mereka aktif di komunitas sepeda saat masih lajang dulu.

Memang, beberapa pasangan muda sudah gemar bersepeda sejak masih lajang. Tapi ada juga yang mulai melakukan aktivitas bersepeda setelah menikah karena mengikuti hobi gowes suami atau istrinya.

Kang Heri Supriatna & Bunda Ida Siswati (Dok. Heri).*

Pasangan-pasangan muda pesepeda, entah karena masih baru dalam berumah tangga atau karena anaknya masih kecil, banyak yang memilih bersepeda family, bersepeda santai bareng keluarga, sambil mengasuh anak keliling kota, taman, atau sekadar mengunjungi car free day (cfd) di setiap akhir pekan.

Kita berharap, banyaknya jumlah pasangan suami-istri pesepeda ini semakin menumbuhkan minat dan memotivasi masyarakat untuk mulai bersepeda, khususnya menginspirasi dan menularkan “virus” bagi pasangan lainnya. Selain manfaat kesehatan bagi tubuh, semoga melalui gowes bareng suami-istri ini, ikut menciptakan harmonisasi keluarga dalam berumah-tangga. Salam Boseh dan Go Green! (Cuham, Forkom Komunitas Pesepeda se-Bandung Raya)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: