METRUM
Jelajah Komunitas

Mang Ohle yang Sempat Dilupakan

Oleh Ahmad Nada*

SORE itu, suasana begitu meriah di acara Pameran Industri Pers di Gedung JCC, Jakarta, medio Juni 2006. Saya baru saja istirahat setelah usai menggambar sekitar belasan orang yang meminta diabadikan dalam bentuk karikatur sebagai persembahan Pikiran Rakyat kepada pengunjung stand “PR” terpilih saat itu.

Ahmad Nada.*

Ketika itu, datanglah seorang bapak setengah baya menuju stand pameran “PR”, melihat-lihat, lalu mendekati saya. ”Mas boleh saya minta digambarkan Mang Ohle? Soalnya tadi saya minta ke teteh yang di sana, katanya nggak ada pernak-pernik Mang Ohle lagi,” ujar lelaki yang mengaku telah berlangganan ”PR” sejak ia remaja tersebut. Dengan berat hati saya menolak permintaan Bapak ini. Pasalnya, ia menyangka saya yang menggambar karakter tokoh Mang Ohle. Meski saya bersedia menggambarkannya, garis dan goresannya pasti bakal berbeda. Untuk membuatnya, perlu latihan & ketelitian untuk mempertahankan karakter kartun ini secara keseluruhan.

Kartunis “PR” (Dari kiri: Nada, Deni RSD/SK Priangan, Dien Nurdin, dan Didin D. Basoeni/mang ohle) di Stand “PR” Pameran Industri Pers, 21-24 Juni 2006 di JHCC, Senayan Jakarta (Dok. Penulis).*

Malam itu, Saya merenung di Mes ”PR” Pondok Indah. Mengapa ya sosok Mang Ohle yang merupakan logo ikon ”PR” saat itu tidak pernah dipakai lagi oleh Harian Umum Pikiran Rakyat? Padahal dulu, pernak-pernik produk ”PR” mulai dari spanduk, t-shirt, tas, kop surat, kalendar, cangkir, gelas, jam, hingga asbak dihiasi gambar Mang Ohle. Padahal berkembangnya logo type (lambang identitas visual Pikiran Rakyat dengan huruf bodoni poster yang diolah) berjalan seiring dengan logo ikon sosok Mang Ohle ini. Kisaran 2004 – 2014 sosok kartun yang selalu bersarung poleng, berpeci dan memakai bakiak itu jarang muncul sebagai pernak-pernik dan identitas khas Pikiran Rakyat. Pada periode itu, sepertinya Mang Ohle sempat dilupakan manajemen “PR” sebagai sosok kartun ikonik dalam sejarah koran ini atau mungkin juga pengelola mengganggap kartun Ohle sudah ketinggalan zaman?

**

Dekade 60-an hingga 80-an, hampir semua surat kabar di Indonesia memiliki tokoh kartun. Sebut saja Panji Koming, Oom Pasikom (Harian Kompas), Pak Tuntung (Harian Analisa Medan), Pak Bei (Suara Merdeka), I Brewok (Bali Post), Clekit (Jawa Pos) dan Doyok (Pos Kota). Kartun — dan karikatur — pada saat itu, mampu berperan sebagai media kritik nan tajam, tetapi tetap etis dan humanis. Mengapa demikian? Pada masa Orde Baru, pers begitu santun. Kritik pun se­ring berputar sebelum mencapai tujuan. Insan pers sering menggunakan simbolisasi. Dan kartun, media yang efektif untuk digunakan.

Karakter Mang Ohle karya Sutedjo alias Teddy MD, dimuat di “PR” pada 4 Juli 1957 (Dok. PDR “PR”).*

Kartun sebagai bentuk wacana atau berita pikiran tentang “sesuatu”. Dengan simbol-simbol yang bercorak sinekdote — memperlihatkan sebagian untuk mengatakan keseluruhan — dan tentu saja, karikatural berita — pikiran yang disampaikan tak lain daripada sebuah ajakan berdialog yang intens dengan kekuasaan, masyarakat umum atau dengan siapa saja.

Simbol-simbol karikatural yang dengan kreatif menonjolkan unsur-unsur yang lucu dan di luar kebiasaan itu bukan saja memberikan kebebasan bagi sang kartunis untuk menyampaikan berita — pikirannya tetapi juga secara cerdik mengalihkan daya tusuk dari dialog yang intens tersebut. De­ngan begini, yang getir dan pahit dapat di­sampaikan sebagai keanehan yang lucu saja.

Menurut Prof. Imam Buchori Zainuddin, salah seorang dosen FSRD ITB, kartun adalah gambar yang melukiskan adegan tentang perilaku manusia dengan berbagai kiprahnya dalam kehidupan sosial, baik diungkapkan secara simbol maupun representasional dengan cara-cara humor, atau cara-cara yang satiris. Bahkan Erich Kaestner, seorang sastrawan Jerman termasyhur, menilai kartun memiliki daya ekspresi yang luar biasa. Sebagai sarana nonaksara, Kaestner menganggap kartun memiliki unsur cerpen.

Jadi kartun haruslah dipahami sebagai media yang dipakai oleh kartunis untuk menangkap dan menafsirkan berbagai keprihatinan yang hidup dalam masyarakat.

Satu di antara tokoh kartun yang dikenal oleh masyarakat Jawa Barat adalah Mang Ohle. Dulu, karakter ini setiap hari Sabtu senantiasa menghiasi etalase halaman muka (cover) HU Pikiran Rakyat. Mang Ohle termasuk salah satu tokoh kartun paling tua di Indonesia dan hingga kini masih eksis sebagai salah-satu rubrik andalan di “PR” (sekarang hadir setiap hari Sabtu di halaman “Berakhir Pekan”).

Lewat diskusi panjang di jajaran Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat, tokoh pria gemuk, yang selalu berkaus oblong, bercangkong (cangklong rokok atau padudan bako ini sekarang sudah dihilangkan dalam gambar) dan tidak pernah le­pas dari sarung polet garis-garis dan kopeah (peci) dempek ini divisualisa­sikan untuk pertama kalinya pada tahun 1955 oleh Sutedjo (menurut almarhum Pak Tjetje –purnabakti karyawan “PR”–, Sutedjo biasa dipanggil Mas Anto, beliau seorang tentara Angkatan Udara). Sutedjo memakai nama pena Teddy M.D dalam karyanya. Informasi yang saya dapat, Pak Su­tedjo terakhir menetap di Magelang. Pada masa Teddy M.D ide gambar sering datang dari Sakti Alamsyah, Pemimpin Redaksi “PR” saat itu.

Mang Ohle karya Soewardi yang dimuat “PR” pada 8 Mei 1966. (Dok. PDR “PR”).*

Selain sosok Mang Ohle, Sutedjo juga menciptakan karakter lainnya, yaitu Sang istri tercinta Bi Ohle, dan kedua anaknya, si Ujang dan si Nyai. Sebelum pemerintah mencanangkan Program Keluarga Berencana (KB) pada Februari 1967, Pikiran Rakyat melalui kartun Mang Ohle telah terlebih dahulu menggambarkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera. Cukup 2 anak saja!

Pada tahun 1963, penggambar Mang Ohle berganti tuan kepada Soewardi Nataatmadja yang menggambar karakter ini hingga tahun 1983 (sekitar 20 tahun). Pada masa Soewardi, ide-idenya sering digali dibantu oleh Sarbini yang saat itu menjabat sebagai Redaktur Luar Negeri.

Periode 1983-1985, karakter Mang Ohle digambar oleh T. Sutanto (sekarang mengisi ”karikatur opini” setiap hari senin di ”PR”) dan sempat pula oleh Tatta Sukmara, lebih dikenal sebagai Tatta Essas (ilustrator senior, pencipta karakter Ki Ohi di Tabloid Hikmah Grup PR yang sudah ditutup, dan hingga kini masih sering mengisi ilustrasi di Galura, anak penerbitan “PR” lainnya).

Setelah Tatta, mulai tahun 1985 ilustrator ikon kartun “PR” ini dibuat Didin D. Basoeni yang mempertahankan karakter Mang Ohle hingga beliau wafat pada 17 Desember 2016. Pada masa Didin dan T. Sutanto, ide-ide sering datang dari Redaktur Pelaksana Pikiran Rakyat, Bram M. Darmaprawira. Pada masa Didin, kartun Mang Ohle pernah diangkat PT Pos Indonesia dalam seri prangko Indonesian Cartoon Characters pada 13 Maret 2000.

Mang Ohle versi Tatta Essas yang dimuat koran “PR” pada 13 Oktober 1984 (Sumber: PDR “PR”).*

Setelah Didin wafat, ilustrator Mang Ohle tidak dipegang secara khusus oleh satu orang ilustrator, tapi dibuat secara bergantian oleh para ilustrator internal Pikiran Rakyat hingga kini.

Jadi, jika dihitung, ada 5 kartunis dan juga para ilustrator internal “PR” yang menggambar karakter Mang Ohle, berjuang mempertahankan tradisi kritik santun dan ikut berperan membesarkan dan mempertahankan eksistensi Pikiran Rakyat hingga sekarang ini.

**

Menurut sejarah, kartun dan karikatur lahir sejak abad pertengahan seiring dengan sema­ngat humanisme yang meletakkan manusia sebagai objek dan subjek untuk mengenal berbagai hakikat kehidupan.

Mang Ohle versi TS yang dimuat di Koran Pikiran Rakyat 11 Desember 1983 (Dok. PDR “PR”).*

Karikatur sendiri diketahui berasal dari bahasa Itali caricare, yang berarti memuat atau me­nambah muatan secara berlebihan. Dengan kata lain, karikatur adalah reformasi le­bih atas objek yang terkenal de­ngan cara mempercantik dari ciri yang paling menonjol atas objek tersebut. Dengan demikian, karikatur yang baik sudah bisa dipastikan mempunyai kadar humor, estetika dan yang pa­ling penting sarat nilai kritik.

Saat ini, muncul pertanyaan dari beberapa teman kepada saya. Kata mereka, ”Mang Ohle sepertinya kok tidak cerdas ya? Terkesan ketinggalan zaman. Sambil memban­dingkannya dengan karakter kartun di media lain. Apakah benar demikian?”

Lalu saya jawab, segala sesuatu yang penting tujuannya kan? Saya ingat pesan almarhum Pak Onong Uchyana Effendy, dosen saya dulu. Sebagus apa pun pesan — yang disampaikan komunikator (pembuat pesan) pada komunikan (khalayak penerima), jika tidak ada efeknya, bisa dikatakan komunikasi itu gagal total! Dan, Mang Ohle, menurut saya termasuk kategori berhasil dalam menyampaikan pesan. Buktinya, sekarang banyak pembaca yang menanyakan keberadaan rubrik Mang Ohle (meski muncul satu minggu sekali dan nyumput di halaman dalam).

Mang Ohle terlihat lugu tetapi cerdas, seperti tokoh fiktif Sunda Si Kabayan. Ohle selalu kritis dan kerap memberikan ide sekaligus solusi kepada pejabat dan masyarakat. Meski menyindir, tetapi tidak membuat orang marah.

Dalam statusnya sebagai editorial cartoon, tokoh kartun Mang Ohle — sebagai kritik karikatur — sebenarnya cukup berhasil dalam usaha menyampaikan masalah aktual ke permukaan, sehingga muncul dialog antara yang dikritik dan yang mengkritik, serta dialog antara masyarakat itu sendiri, dengan harapan akan adanya perubahan. Mang Ohle, mampu menyampaikan kritik yang langsung sampai pada sasaran, tapi tidak menyinggung objeknya (manusianya), yang seringkali malah tertawa, meski seuri koneng.  

Hingga kini saya belum mendengar seorang pun dari para kartunis Mang Ohle yang berurusan dengan pihak berwajib gara-gara karyanya. Ini berarti, mereka mampu untuk tidak perlu berbenturan langsung dengan suatu kekuasaan. Tetapi bagaimana kecerdikan mereka untuk me­ng­­akali suatu kekuasaan takluk oleh sebuah kerendahan hati. Atau kata Jaya Suprana “Positioning”, bagaimana seni menempatkan diri.

Mang Ohle versi Didin dimuat Koran Pikiran Rakyat pada 16 April 1984 (Dok. PDR “PR”).*

Kendatipun dengan nada kritik yang benar-benar pahit, secara keseluruhan karyanya tetap positif. Kritik dan ejekan yang dilemparkan dilandasi oleh sikap optimis dan hasrat reformis dan berisi pesan etika dan moral yang tinggi.

Belum lagi, kini para pengelola pers tidak bisa menyangkal arti penting kehadiran kartun dalam media massa. Kartun telah menyatu dengan pers. Mengingat bahwa kartun dapat sebagai penyejuk setelah membaca artikel-artikel berat dengan sederetan huruf yang cukup melelahkan mata dan pikiran. Ia dibutuhkan sebagai penangkal kepenatan.

Bahkan, jika dipandang dari sudut lain, penyampaian berita disertai penyajian gambar akan mudah dii­ngat, apa lagi dalam bentuk kartun dan karikatur. Di tanah air, dapat dikatakan kartun dan karikatur tumbuh dan berkembang ber­sa­ma pers.

Pada akhirnya, di tengah gempuran teknologi dan munculnya media baru, serta era transformasi media menuju digital dan multiplatform, semoga pesan bijak Mang Ohle kepada Bibi sang istri tercinta, kepada kedua anaknya Ujang dan Nyai, dan untuk warga Jawa Barat pada umumnya masih bisa kita simak dan baca di berbagai platform Pikiran Rakyat. Semoga Mang Ohle panjang umur, berikut juga media yang memuatnya.***

*Penulis praktisi media dan Sekjen Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Barat.

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: