METRUM
Jelajah Komunitas

“Masa Lewat Garut”: Gerakan Literasi Sejarah Garut

MINGGU, 6 Desember 2020, (Re)aksi Remaja menyiarkan episode ke-8 bertopik “Telisik Sejarah Garut” di Metrum Radio. Acara ini dipandu host Reza dan Sapitri bersama narasumber Ferdy Yudha Pratama dari Masa Lewat Garut.

Masa Lewat Garut adalah gerakan literasi di bidang sejarah Garut. Menjawab soal mengapa harus literasi? Kang Ferdy melihat bahwa sejarah Garut itu penting karena sejarah daerah sendiri harus dicari tahu dan digali. “Sejarah erat kaitannya dengan literasi dari mulai mencari data lewat membaca, lalu mencatat dan membagikan hasil catatan sebagai sejarah dengan publikasi berbentuk narasi,” ujar Ferdy.

Masa Lewat Garut berusaha menghadirkan kembali narasi sejarah bagi orang yang penasaran tentang sejarah Garut. Hal yang dilakukan oleh Masa Lewat Garut yaitu penelusuran sejarah Garut dengan data primer ataupun data sekunder seperti buku ataupun hasil penelitian, dan menghadirkan kembali cerita sejarah yang sudah ditelusuri menjadi bentuk yang populer dengan sasaran anak muda, seperti membuat blog di masalewat.home.blog di sana terdapat artikel lengkap mengenai sejarah Garut dan sosial media Instagram @masalewat_garut. Informasi yang disajikan berupa narasi dan infografis.

Ferdy Yudha Pratama (Dok. RR).*

Menurut Ferdy, Garut di masa lalu mengalami beberapa kejadian, seperti perubahan administratif yaitu pada awal abad ke-20 nama Garut diubah menjadi Kabupaten Garut yang sebelumnya bernama Limbangan. Di wilayah ini juga terjadi letusan gunung Guntur yang terus menerus meletus pada abad 17-19.

Lalu, di awal abad ke-20, Garut menjadi kabupatén dengan banyak tempat wisata yang mendunia, banyak wisatawan dari mancanegara yang datang ke Garut, bahkan ini sudah terjadi sejak masa kolonial atau penjajahan. Seperti Gunung Papandayan dan Kawah Kamojang yang sejak zaman kolonial sudah menjadi destinasi tujuan wisata yang banyak dikunjungi orang.

Garut juga memiliki julukan kota intan. Penyebutan nama ini didapat dari catatan arsip Nasional Republik Indonesia. Pada tahun 1960, pemerintahan Republik Indonesia yang dipimpin oleh Ir. Soekarno membuat lomba kebersihan antarkota se-Indonesia yang dimenangkan oleh Kabupaten Garut.

“Sebagai apresiasi atas kemenangan Garut, Ir. Soekarno datang dan berkunjung ke Garut, tepatnya di Babancong, dan mengatakan bahwa Garut ini bersih layaknya intan,” kata Ferdy menjelaskan asal-usul penyebutan nama Garut sebagai kota intan.

Ferdy mengungkapkan, pada zaman dahulu, kelompok masyarakat dibagi menjadi beberapa bagian berdasarkan status sosialnya. Mulai dari kalangan menak (Bangsawan Sunda), kalangan cacah (masyarakat menengah ke bawah), hingga kelompok agama seperti kiai dan ulama. Hal ini menyebabkan remaja pun masuk ke dalam bagian-bagian golongan tersebut berdasarkan status orang tuanya.

Sapitri (Dok.RR).*

Remaja menak atau bangsawan ini sudah dari sejak kecil dipersiapkan untuk menjadi penerus bapaknya. Jika bapaknya seorang camat atau bupati maka anaknya akan dididik dari segi fisik dan mentalnya untuk menjadi penerus bapaknya.

Dari segi pendidikan, kalangan menak yang berkecukupan pun bisa bersekolah dengan layak. Berbeda dengan remaja dari kalangan cacah atau dari kalangan menengah ke bawah, seperti remaja yang orang tuanya bekerja sebagai petani, maka anaknya pun sejak kecil dididik untuk tmenjadi petani juga, termasuk ikut ke ladang, sawah, dan menggembala.

Sementara itu, remaja dari kalangan agama, seperti anak-anak kyai atau para ulama, sejak kecil sudah dipesantrenkan atau mondok, yang kemudian dipersiapkan untuk menjadi ustadz atau da’i.

Pada zaman dahulu, kelompok masyarakat terbagi-bagi atas status sosial sehingga ada jarak sosial yang memisahkan keduanya. Sekarang status sosial mulai melebur. Anak kyai, anak bupati, dan anak-anak dari kalangan masyarakat biasa bisa bergaul dengan siapa saja. Remaja zaman sekarang juga dapat memilih kesempatan masa depannya akan menjadi apa, siapapun bisa menjadi Bupati ataupun bahkan presiden, tidak harus melulu keturunan dari pejabat. Sekarang, sebagian besar remaja mendapatkan kesempatan yang sama utuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi dan kesempatan yang sama untuk mendapatkan beasiswa.

Zaman sekarang, seseorang yang eksis di media sosial atau di dunia maya maka dia adalah orang yang paling banyak dikenal atau paling hits. Berbanding terbalik dengan zaman dulu, dimana dengan orang-orang mengenal seseorang berdasarkan status sosial. Kepopuleran seseorang dinilai berdasarkan status sosialnya, seperti anak pejabat dan anak ulama.

“Siapa sih yang tidak mengenal keturunan atau keluarga dari para pejabat zaman baheula? Begitulah kira-kira mindset orang dahulu,” ujar Ferdy.

Menurut Ferdy, ada pula remaja atau orang-orang yang populer dan banyak dikenal masyarakat karena kemampuannya dalam bidang-bidang tertentu, seperti bela diri, kemampuan dalam hal ilmu agama, dan kemampuannya baca tulis sebagai hal paling penting pada saat itu.

Reza (Dok. RR).*

Ferdy menambahkan, ada yang menyebutkan bahwa kita menjalani hidup untuk masa sekarang, maka fokus saja di masa sekarang, baru kemudian kita rencanakan segala sesuatu yang baik untuk masa mendatang. Hal tersebut tidak salah, tetapi jangan lupa bahwa kita masih bertahan dan bisa hidup nyaman di masa sekarang dan masa mendatang itu juga berkat adanya pemahaman kita terhadap masa lalu.

“Jadi apabila kita belajar dan mengetahui tentang sejarah Garut, maka kita akan tahu bagaimana indah dan nyamannya Garut untuk ditinggalinya. Bahkan, sampai orang-orang dari mancanegara berbondong-bondong datang ke Garut untuk melihat keindahan alam di Garut. Dengan mengetahui sejarah Garut, maka kedepannya orang akan menjaga keutuhan Garut dan segan untuk merusaknya. Begitulah pentingnya memahami dan mengetahui tentang sejarah Garut terutama bagi kaum remaja,” ungkap Ferdy.

Ferdy menyampaikan pesan terhadap para remaja Garut pada akhir sesi siaran, “Perbanyaklah belajar tentang banyak hal, salah satunya sejarah. Walau sebagian besar dari kalian sudah tahu, baik secara langsung atau tidak langsung, secara sadar atau tidak sadar mengenai cerita-cerita Garut pada zaman dulu dari orang tua atau kakek dan nenek buyut kalian.”

Di akhir perbincangan Ferdy mengungkapkan harapannya, “Saya berharap remaja Garut ada kemauan untuk belajar sejarah, sehingga akan timbul rasa bangga menjadi bagian dari masyarakat daerah kita, yaitu Garut. Jika kedepannya kita menempuh pendidikan di kota lain, maka kita tidak lupa akan identitas kita sebagai warga Garut. Lebih baik lagi jika kita bisa mengharumkan nama Garut.” (Sapitri Sri Mustari)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: