METRUM
Jelajah Komunitas

Nyeri Sendi Berawal dari Usus? Fakta Medis yang Masih Jarang Dipahami Masyarakat

Oleh Dewi Nada*

SELAMA bertahun-tahun masyarakat Indonesia terbiasa menganggap gangguan pencernaan sebagai penyakit ringan. Diare berkepanjangan, nyeri perut yang datang dan pergi, atau berat badan yang terus menurun sering kali hanya dikaitkan dengan pola makan yang buruk, maag, atau infeksi biasa. Di sisi lain, nyeri punggung dan sendi kerap dianggap akibat kelelahan, usia, atau kadar asam urat yang tinggi.

Padahal, dunia medis menunjukkan fakta yang jauh lebih kompleks. Ada hubungan biologis yang sangat erat antara usus dan persendian. Ketika seseorang mengalami Inflammatory Bowel Disease (IBD) atau penyakit radang usus kronis, risiko munculnya Spondyloarthritis (SpA) sebagai penyakit radang sendi juga meningkat. Hubungan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari mekanisme penyakit autoimun yang saling berkaitan.

Persoalannya, kesadaran masyarakat terhadap hubungan kedua penyakit tersebut masih sangat rendah. Banyak penderita baru mencari pertolongan ketika kerusakan pada usus maupun persendian sudah berlangsung lama. Kondisi ini membuat proses pengobatan menjadi lebih sulit, biaya meningkat, dan kualitas hidup pasien menurun.

Fenomena tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan literasi kesehatan. Edukasi kesehatan di ruang publik masih lebih banyak berfokus pada penyakit menular atau penyakit metabolik, sementara penyakit autoimun sering kali luput dari perhatian. Akibatnya, gejala awal yang sebenarnya dapat menjadi “alarm” justru diabaikan.

Konsep gut-joint axis atau sumbu usus-sendi menjadi bukti bahwa tubuh manusia bekerja sebagai satu sistem yang saling terhubung. Ketika dinding usus mengalami peradangan kronis, sistem kekebalan tubuh dapat memicu inflamasi pada organ lain, termasuk sendi. Bahkan sekitar 20–30 persen penderita IBD akhirnya mengalami keluhan yang mengarah pada SpA, sementara sebagian penderita SpA ternyata juga memiliki peradangan usus yang sebelumnya tidak terdeteksi.

BACA JUGA:  Wayang Timplong yang Tersisih Zaman

Fakta tersebut seharusnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap keluhan kesehatan kronis. Dokter pun kini tidak lagi melihat penyakit berdasarkan satu organ semata, melainkan melalui pendekatan multidisiplin. Diagnosis IBD dan SpA membutuhkan kolaborasi antara dokter spesialis gastroenterologi dan reumatologi, didukung pemeriksaan laboratorium, kolonoskopi, MRI, hingga pemeriksaan genetik bila diperlukan.

Yang paling penting adalah membangun budaya deteksi dini. Jangan menunggu gejala menjadi berat baru mencari pertolongan medis. Diare yang berlangsung lama, nyeri perut berulang, disertai nyeri punggung atau sendi yang menetap bukanlah kondisi yang layak dianggap normal. Semakin cepat penyakit dikenali, semakin besar peluang mencegah kecacatan, komplikasi, dan penurunan kualitas hidup.

Kesehatan bukan hanya soal mengobati penyakit, tetapi juga memahami sinyal yang diberikan tubuh. Ketika usus mulai “berteriak” dan sendi ikut merasakan dampaknya, mungkin tubuh sedang menyampaikan pesan penting bahwa ada penyakit inflamasi kronis yang membutuhkan perhatian serius. Literasi kesehatan yang baik akan membantu masyarakat mengenali pesan tersebut lebih awal, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum penyakit berkembang menjadi lebih berat.***

*Penulis Navigator Kesehatan (Navigating life with SJS, Autoimmune, TMJ, Tinnitus, & Stroke)

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.