10 Bulan Kolaborasi Pentahelix: 9,5 Km Sungai Dayeuhkolot Bebas Pendangkalan, Benteng Banjir Makin Kokoh
KABUPATEN BANDUNG (METRUM) – Kerja kolektif Panitia Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot selama 10 bulan terakhir membuahkan hasil konkret. Sejak dibentuk pada akhir November 2025 hingga September 2026, aksi kolaborasi lintas sektor ini sukses menormalisasi 9,5 kilometer aliran sungai dan saluran air, sekaligus membentengi kawasan dengan deretan infrastruktur pengaman banjir.
Pendekatan pengerukan dilakukan secara bertahap dan sistematis dengan mengombinasikan alat berat serta aksi gotong royong manual di ceruk-ceruk sungai yang sempit. Ketua Pentahelix Dayeuhkolot, Tri Rahmanto, mengungkapkan bahwa fokus pekerjaan menyasar berbagai titik krusial di luar aliran utama Sungai Citarum.
“Alhamdulillah selama 10 bulan, kami sudah berhasil melakukan normalisasi sungai dan saluran sepanjang 9,5 kilometer. Kendalanya sungai di Dayeuhkolot ini banyak, bukan hanya Citarum,” ujar Tri Rahmanto kepada awak media, Sabtu (3/10/2026).
Rincian pembersihan mencakup pengerukan Sungai Cigede sepanjang 1,238 kilometer, Sungai Cikapundung 920 meter, dan Sungai Cipalasari sepanjang 3,067 kilometer. Selain itu, tim gabungan bersama elemen masyarakat dan Forkopimcam melahap normalisasi anak Sungai Cipalasari sepanjang 255 meter, drainase pemukiman dan jalan sepanjang 2,320 kilometer, serta saluran pembuang sepanjang 1,725 meter.
Suntikan Pintu Air hingga Pompa Darurat
Tak berhenti pada pengerukan lumpur, tim Pentahelix yang mempertemukan unsur pemerintah, komunitas, akademisi, dunia usaha, dan media ini juga merampungkan deretan fisik bangunan penunjang untuk menahan luapan air.
“Alhamdulillah kami juga memasang 13 unit pintu air, 20 unit pipa duckbill di lima titik rawan banjir, membangun TPT (tembok penahan tebing) sepanjang 630 meter di 7 lokasi, dan geobag sepanjang 66 meter untuk menahan longsoran,” tutur Tri.
Penanganan teknis turut dilengkapi pemasangan 6 unit jaring penahan sampah di 4 lokasi kritis, pembangunan U-Ditch dan box culvert sepanjang 72 meter, hingga pengecoran jalan sepanjang 490 meter di 8 titik demi menjaga kelancaran akses warga. Guna mengantisipasi skenario terburuk saat intensitas hujan tinggi, armada pompa siap pakai juga disiagakan di lapangan.
“Guna mengantisipasi genangan saat hujan lebat, tim juga menyiagakan 4 unit pompa air di titik rawan dan 2 unit pompa cadangan yang siap dikerahkan kapan saja saat kondisi darurat,” ucap Tri.
Keberhasilan penanganan banjir terpadu di Kecamatan Dayeuhkolot ini menjadi bukti bahwa pendekatan sinergis mampu mempercepat solusi masalah lingkungan yang berkepanjangan. Kendati demikian, kesadaran masyarakat menjaga kebersihan saluran tetap menjadi kunci utama.
“Kami berharap ke depannya, semua elemen masyarakat bisa makin kompak. Sebab, upaya penanganan banjir ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan pentahelix, tapi tanggung jawab semua pihak termasuk masyarakat,” kata Tri. (M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.