METRUM
Jelajah Komunitas

90 Persen Warga Gempol Sari Sudah Pilah Sampah, Gempolin Andalkan 300 Kader hingga Tingkat RT

KOTA BANDUNG (METRUM) – Kelurahan Gempol Sari, Kecamatan Bandung Kulon Kota Bandung, terus memperkuat upaya penanganan sampah dari sumbernya melalui inovasi Gempolin. Program yang berjalan sekitar enam bulan ini tidak hanya mengandalkan pengangkutan sampah tetapi diawali dengan pendataan warga, edukasi, pemilahan hingga pengolahan sampah organik di tingkat kawasan.

Persoalan sampah organik di Kelurahan Gempol Sari, Kecamatan Bandung Kulon, mulai ditangani dari sumbernya. Melalui program Gempolin, pemerintah kelurahan mengedukasi warga untuk memilah sampah sekaligus memastikan sampah organik tidak langsung berakhir di tempat pemrosesan akhir.

Lurah Gempol Sari, Ruslan Adidjaja, mengatakan Gempolin merupakan inovasi yang diadopsi dari aksi perubahan Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang). Program tersebut menyasar sampah organik yang belum terakomodasi dalam skema pengelolaan sampah lainnya.

“Gempolin itu salah satu program untuk penanganan sampah, khususnya organik di kelurahan. Warga didata dulu, yang sudah memilah maupun yang belum, kemudian kita edukasi,” ujar Ruslan di Kelurahan Gempol Sari, Kamis (20/8/2026).

Setelah dipilah dari rumah, sampah organik dikumpulkan petugas Gober untuk diolah. Sebagian sampah dimanfaatkan sebagai pakan maggot yang kemudian mendukung proses produksi kompos.

Skema tersebut mampu menangani sekitar 200 kilogram sampah organik setiap hari, khususnya sampah yang belum tertangani melalui program Gaslah.

Ruslan menjelaskan, Gempolin dan Gaslah memiliki fungsi berbeda. Gaslah merupakan program Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dengan petugas di setiap RW, sedangkan Gempolin berperan menangani sisa sampah organik yang belum terakomodasi.

“Kalau untuk organik, selain Gaslah dikasih Gempolin. Alhamdulillah sudah terselesaikan,” katanya.

Dalam pelaksanaannya, sekitar enam petugas Gober ditugaskan khusus untuk menarik sampah organik dari warga. Sementara petugas lainnya menjalankan tugas berbeda, termasuk pengelolaan maggot dan pekerjaan lingkungan seperti penanganan gorong-gorong.

BACA JUGA:  Dies Natalis ke-44 Unla: Dari Penguatan SDM hingga Peresmian Teknologi Pengelolaan Sampah Modern

90 Persen Warga Mulai Memilah

Ruslan mengakui tantangan terbesar Gempolin bukan semata soal sarana pengolahan, melainkan mengubah kebiasaan masyarakat. Edukasi dan pendampingan terus dilakukan agar memilah sampah menjadi kebiasaan dari rumah.

Hasilnya mulai terlihat. Saat ini, tingkat partisipasi warga dalam memilah sampah disebut telah mencapai lebih dari 90 persen.

“Alhamdulillah sekarang hampir 90 persen lebih warga sudah memilah sampah,” ujar Ruslan.

Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Gempol Sari, Wahidin Sinaga, menegaskan Gempolin tidak sekadar sebuah aplikasi. Program tersebut merupakan gerakan yang menggabungkan proses pendataan, pemilahan, pengolahan hingga pemanfaatan sampah.

“Gempolin itu sebenarnya selain sebagai aplikasi juga sebagai gerakan. Gempolin merupakan singkatan dari gerakan mengolah data, memilah, mengolah dan memanfaatkan sampah,” jelas Wahidin.

Konsep tersebut dikembangkan dari prinsip Kang Pisman dengan sasaran utama menyelesaikan sampah organik sedekat mungkin dengan sumbernya. Dengan demikian, volume sampah yang harus diangkut menuju tempat pemrosesan akhir dapat ditekan.

Data Warga Dipetakan hingga Tingkat RT

Salah satu kekuatan Gempolin terletak pada pendataan. Kader yang berasal dari kelompok tani dan Dasawisma di tingkat RT turun langsung dari rumah ke rumah untuk mengetahui kondisi pemilahan sampah setiap keluarga.

Data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam sistem Gempolin. Pemerintah kewilayahan dapat mengetahui warga yang sudah memilah, yang belum memilah, hingga warga yang membutuhkan edukasi dan pendampingan.

“Dengan adanya Gempolin, kita tahu berapa orang yang sudah memilah. Kita juga punya petanya, sehingga terlihat sebaran warga yang sudah memilah,” kata Wahidin.

Hingga kini, pendataan telah mencakup 2.093 kartu keluarga, atau sekitar 63 persen dari total KK di Kelurahan Gempol Sari.

Untuk memperluas gerakan, sekitar 300 kader Gempolin dikerahkan di 10 RW dan 67 RT. Mereka tidak hanya menggelar sosialisasi, tetapi mendatangi rumah warga secara langsung.

BACA JUGA:  Dekranasda Bandung Akan Perbaiki Sistem Kurasi UMKM, Aryatri Tegaskan Pentingnya Transparansi

Cara tersebut dinilai lebih efektif karena edukasi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.

“Kalau sosialisasi dikumpulkan banyak biasanya kurang efektif. Kita punya kader-kader Gempolin yang berkeliling, mengetuk pintu untuk melihat kondisi keluarganya sudah memilah atau belum. Jadi diedukasi langsung,” ungkap Wahidin.

Tak Ada Satu Metode untuk Semua Wilayah

Gempol Sari memiliki keterbatasan lahan sehingga pengolahan sampah tidak bisa menggunakan satu metode yang sama di seluruh wilayah.

Karena itu, Gempolin menerapkan pendekatan berbeda sesuai karakteristik masing-masing RT. Pilihannya antara lain komposter, bata terawang, loseda, rumah maggot hingga lubang kompos.

“Dengan Gempolin ini kita tidak hanya memberikan sarana prasarana ke RW tetapi juga melihat kondisi RW dan RT tersebut. Semuanya disesuaikan dengan kondisi topologinya,” ujar Wahidin.

Saat ini, sekitar 21 RT telah terkonfirmasi bekerja sama dan masuk dalam sistem Gempolin. Ratusan warga juga telah mendaftarkan diri untuk mengikuti program pemilahan.

Yang membedakan Gempolin dengan sekadar pendataan adalah adanya mekanisme pembaruan status berdasarkan tindakan nyata warga.

Warga yang sebelumnya tercatat belum memilah dapat berubah status setelah benar-benar melakukan pemilahan dan melaporkannya melalui sistem.

“Jangan hanya laporan bahwa dia sudah memilah, tapi ternyata tidak ada action. Dengan adanya ini ada aksi dari warga yang memang benar-benar sudah memilah,” tegas Wahidin.

Gempolin pada akhirnya mencoba mengubah pola penanganan sampah dari sekadar mengangkut dan membuang menjadi memilah, mengolah dan memanfaatkan. Jika konsistensi partisipasi warga dapat dipertahankan, beban sampah organik yang keluar dari kawasan Gempol Sari berpotensi terus ditekan. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.