Ben Healy Kejutkan Persaingan, Rebut Kaus Kuning dari Pogacar
PERSAINGAN memperebutkan kaus kuning—simbol pemimpin klasemen Tour de France (TdF) 2025—hingga Etape ke-10, Senin (14/7/2025), diwarnai kejutan. Pebalap Irlandia dari tim EF Education, Ben Healy, berhasil merebutnya dari tangan juara tiga kali TdF, Tadej Pogacar (UAE Emirates XRG/Slovenia).
Meski demikian, performa Pogacar dari Etape pertama hingga ke-10 tergolong sangat konsisten dan tangguh. Pergantian pemegang “Maillot Jaune” lebih disebabkan oleh situasi tak terduga yang terjadi di Etape ke-10, yang dimanfaatkan Healy untuk mencuri momentum.
Sebagai pebalap unggulan yang piawai di tanjakan dan disiplin individual time trial (ITT), Pogacar diperkirakan akan kembali memimpin klasemen setelah istirahat sehari, Selasa (15/7/2025). Prediksi mengarah pada Etape ke-12 dengan rute menanjak ke Hautacam, kawasan Pegunungan Pyrenees, sebagai titik balik penguasaan kaus kuning oleh Pogacar.
Dari evaluasi performa di sepuluh etape pertama, hanya Jonas Vingegaard (Visma Lease a Bike/Denmark)—juara TdF 2022 dan 2023—yang dinilai mampu memberikan perlawanan yang seimbang kepada Pogacar.
TdF masih menyisakan sebelas etape menuju garis finis di Paris, dengan medan menanjak di Pyrenees dan Alpen menjadi tantangan tersendiri. Pertarungan kemampuan antara Pogacar dan Vingegaard akan benar-benar diuji pada dua rangkaian pegunungan berat tersebut.
Visma Lease a Bike sebagai tim Vingegaard dikenal solid dalam mendukung pemimpinnya. Namun, kelemahan Vingegaard sempat terlihat pada Etape ke-5 ITT sejauh 33 km, di mana ia finis di urutan ke-13, terpaut 1 menit 5 detik dari Pogacar yang berada di posisi kedua. Pemenang etape tersebut, Remco Evenepoel (Soudal Quick Step/Belgia), unggul 16 detik atas Pogacar.
Etape ke-12 dengan rute tanjakan ekstrem akan menjadi ujian berat bagi Jonas untuk menyamai Pogacar yang tengah berada dalam performa terbaiknya. Terlebih, sejak awal musim 2025, Pogacar sangat aktif mengikuti balapan klasik dan berhasil meraih banyak kemenangan, berbeda dengan Jonas yang minim jam terbang.
Vingegaard hanya mengikuti satu balapan besar musim ini, yakni Paris–Nice pada Maret, tetapi gagal menyelesaikannya karena terjatuh di Etape ke-4 dan mengalami retak pada pergelangan tangan.
Legenda balap sepeda asal Belgia dan juara TdF lima kali, Eddy Merckx, turut mengomentari perbedaan pendekatan dua rival tersebut. Ia menilai keikutsertaan Pogacar di berbagai lomba memberi keunggulan dalam hal kesiapan fisik, mental, dan ketahanan. Merckx menyebut bahwa jam terbang tinggi menjadi kunci kesuksesan Pogacar, termasuk keberhasilannya menjadi juara dunia tahun lalu.
Sebaliknya, Vingegaard dinilai terlalu bergantung pada latihan, tanpa banyak pengalaman bertanding melawan lawan-lawan tangguh. Bahkan, Merckx menilai Vingegaard perlu merombak pendekatan persiapannya jika ingin kembali berjaya seperti pada TdF 2022 dan 2023.
“Tanpa perubahan pola, sulit bagi Jonas untuk mengalahkan Pogacar tahun ini. Ia bisa semakin tertinggal terutama di etape tanjakan berat. Namun, harapan tetap ada jika performanya membaik dan tim Visma bisa memberikan dukungan penuh,” ujar Merckx kepada TNT Sport.
Situasi Pogacar sendiri tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Tim UAE Emirates XRG kehilangan salah satu pembalap andalan, Joao Almeida, akibat cedera di Etape ke-9. Namun sejauh ini, Pogacar tampil sangat solid, meski harus bertarung lebih mandiri.
Kini, perhatian tertuju pada sisa etape menuju Paris, 27 Juli 2025. Akankah Jonas mampu memperkecil jarak dan menjaga persaingan tetap ketat, atau Pogacar kembali mendominasi dan meraih gelar keempatnya? Kita tunggu duel epik mereka di jalur-jalur berat pegunungan mendatang.
(M1-BK)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.