METRUM
Jelajah Komunitas

Misteri Mary Pearcey: Perempuan yang Diduga Jadi “Jack the Ripper” Versi Lain

DUA tahun setelah teror berdarah “Jack the Ripper” mengguncang London, publik dikejutkan oleh kasus pembunuhan brutal lain yang memiliki kemiripan mencolok. Pelakunya adalah seorang perempuan bernama Mary Pearcey—sosok yang kemudian masuk dalam daftar tersangka paling kontroversial dalam sejarah pembunuh berantai legendaris tersebut.

Pada 1888, kawasan East End, khususnya Whitechapel, menjadi panggung horor. Lima perempuan ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan—leher nyaris terpenggal, organ tubuh hilang, dan luka yang menunjukkan keahlian anatomi. Pelaku yang tak pernah tertangkap itu dikenal dengan julukan “Jack the Ripper”, nama yang muncul dari surat-surat provokatif yang dikirim ke Scotland Yard.

Namun, seiring waktu, muncul teori yang tak kalah mengejutkan: bagaimana jika “Jack” sebenarnya adalah perempuan?

Teori “Jill the Ripper”: Saat Pembunuh Diduga Seorang Perempuan

Hipotesis ini bukan sekadar spekulasi modern. Sejak era Viktoria, beberapa tokoh sudah mencurigai kemungkinan tersebut. Kepala Inspektur Inggris saat itu, Frederick Abberline, pernah mempertimbangkan bahwa pelaku bisa saja perempuan—terutama setelah saksi mengaku melihat salah satu korban masih hidup beberapa jam setelah waktu kematiannya. Dugaan muncul: pelaku mungkin menyamar menggunakan pakaian korban untuk melarikan diri.

Penulis terkenal Sir Arthur Conan Doyle juga punya pandangan serupa. Menurutnya, hanya seorang bidan yang bisa berjalan di jalanan London dengan pakaian berlumuran darah tanpa menimbulkan kecurigaan.

Dugaan ini diperkuat oleh temuan ilmiah di abad ke-21. Pada 2006, ilmuwan asal Australia, Ian Findlay, mengekstrak DNA dari perangko dan amplop surat yang diduga dikirim oleh sang pembunuh. Meski tidak mengarah pada identitas pasti, profil DNA tersebut membuka kemungkinan bahwa pelaku bisa saja seorang perempuan.

Mary Pearcey: Tersangka yang Mengguncang Logika

Di tengah spekulasi itu, nama Mary Pearcey mencuat sebagai kandidat paling mencolok. Lahir dengan nama Mary Eleanor Wheeler, ia dihukum mati pada 1890 setelah membunuh kekasih pria simpanannya, Phoebe Styles, dengan cara yang sangat brutal—menggorok leher korban hingga hampir terputus, lalu membunuh bayinya.

BACA JUGA:  Esther Jones, Sosok di Balik “Betty Boop” yang Terlupakan Sejarah
Mary Pearcey adalah salah satu dari sedikit tersangka perempuan yang dipertimbangkan oleh polisi London sebagai pembunuh berantai terkenal “Jack the Ripper”. (Foto: allthatsinteresting.com).*

Kasusnya penuh detail mengerikan. Pearcey mengundang Styles ke rumahnya dengan dalih minum teh. Tak lama setelah korban tiba, ia menyerang dan menghabisinya. Bayi Styles juga tak luput dari kekejaman tersebut.

Saat polisi datang, Pearcey mencoba berkelit. Ia mengaku noda darah di rumahnya berasal dari mimisan, lalu berubah alasan dengan menyebut darah itu dari tikus yang ia bunuh. Polisi tak percaya—ia ditangkap dan diadili.

Di pengadilan, Pearcey divonis bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Menariknya, sebelum dieksekusi, ia sempat berkata dingin, “Hukuman saya memang pantas, tapi banyak bukti yang tidak benar.” Pernyataan ini justru memicu spekulasi baru: apakah ia menyembunyikan kejahatan lain?

Petunjuk Misterius dan Dugaan Keterlibatan

Kecurigaan terhadap Pearcey makin menguat setelah ditemukan iklan misterius di surat kabar Spanyol dengan inisial “M.E.C.P.” dan “M.E.W.”. Sebagian peneliti meyakini inisial tersebut merujuk pada korban-korban Ripper dan identitas Pearcey sendiri.

Selain itu, metode pembunuhan Pearcey—menggunakan kekuatan fisik dan senjata tajam—sangat tidak lazim bagi pembunuh perempuan pada abad ke-19 yang umumnya menggunakan racun. Hal ini membuatnya berbeda dan lebih dekat dengan profil “Ripper”.

Namun, hingga kini, tidak ada bukti kuat yang benar-benar mengaitkan Pearcey dengan pembunuhan di Whitechapel. Semua yang ada masih bersifat indikatif dan spekulatif.

Misteri yang Tak Pernah Usai

Apakah Mary Pearcey benar-benar “Jill the Ripper”? Atau ia hanya kebetulan menjadi pembunuh brutal di era yang sama?

Jawabannya masih terkubur dalam kabut sejarah. Yang pasti, kasus ini menunjukkan satu hal: bahkan dalam kisah kriminal paling terkenal sekalipun, kebenaran bisa jauh lebih kompleks—dan mungkin lebih mengejutkan—daripada yang selama ini dipercaya. (M1-Sumber: allthatsinteresting.com)***

BACA JUGA:  Mumi Perempuan Mesir Kuno yang "Menjerit" Diduga Meninggal karena Kesakitan

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.