Sekda Bandung Tegaskan MPLS Harus Ramah Anak, Tanpa Perpeloncoan dan Tekanan Mental
KOTA BANDUNG (METRUM) – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung Iskandar Zulkarnain menegaskan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) harus menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi peserta didik baru. Ia menolak segala bentuk perpeloncoan maupun tindakan yang berpotensi memberikan tekanan psikologis kepada siswa.
Penegasan tersebut disampaikan Iskandar saat meninjau pelaksanaan MPLS di SD Negeri 001 Merdeka dan SMP Negeri 5 Bandung, Senin (13/7/2026).
Di hadapan ratusan siswa baru, orang tua, dan tenaga pendidik, Iskandar mengucapkan selamat kepada seluruh peserta didik yang memulai tahun ajaran baru. Ia berharap MPLS menjadi langkah awal yang positif untuk membangun semangat belajar sekaligus mengantarkan siswa meraih cita-cita.
“Selamat kepada anak-anak dan juga orang tua yang memulai pembelajaran pada hari ini. Mudah-mudahan ke depan belajarnya sukses sesuai dengan cita-cita yang diinginkan oleh anak-anak maupun orang tuanya,” ujar Iskandar.
Menurutnya, konsep MPLS saat ini telah mengalami perubahan mendasar dibandingkan masa lalu. Kegiatan pengenalan sekolah tidak lagi identik dengan ospek yang bersifat keras atau penuh tekanan, melainkan diarahkan untuk membangun karakter, memperkenalkan lingkungan sekolah, serta menciptakan rasa nyaman bagi peserta didik baru.
“Kalau dulu mungkin kita mengenal ospek. Sekarang sudah tidak seperti itu. Anak-anak datang ke sekolah dengan zamannya sendiri. MPLS harus menjadi kegiatan yang menyenangkan, membangun karakter, dan membuat anak merasa nyaman,” katanya.
Iskandar menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang ramah terhadap kesehatan mental anak. Menurutnya, sekolah harus menjadi tempat yang aman dan membahagiakan, mengingat meningkatnya perhatian terhadap persoalan kesehatan mental pada usia sekolah.
“Ada data yang menyebutkan lebih dari 60 persen anak mengalami depresi. Karena itu sekolah harus menjadi tempat yang happy. Sekolah harus menjadi rumah kedua bagi anak-anak,” ungkapnya.
Ia juga mengapresiasi pelaksanaan MPLS di SDN 001 Merdeka yang melibatkan siswa kelas atas untuk menyambut dan mendampingi adik kelasnya. Pendekatan tersebut dinilai mampu menumbuhkan rasa kekeluargaan sekaligus membantu peserta didik baru beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
Selain itu, Iskandar memastikan Pemerintah Kota Bandung akan terus memperkuat sektor pendidikan melalui dukungan anggaran maupun peningkatan sarana dan prasarana sekolah.
“Kami dari pemerintah akan terus mendukung, baik dari sisi anggaran pendidikan maupun infrastruktur. Nanti kita lihat apa saja yang perlu diperbaiki agar proses belajar mengajar semakin nyaman,” kata Iskandar.
Saat melanjutkan peninjauan ke SMP Negeri 5 Bandung, Iskandar mengajak seluruh siswa baru untuk bangga menjadi bagian dari salah satu sekolah unggulan di Kota Bandung dan memanfaatkan kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya.
“Saya ucapkan selamat kepada anak-anakku yang masuk SMPN 5 Bandung. Harus bangga menjadi siswa SMPN 5,” katanya.
Ia kembali menegaskan bahwa MPLS tidak boleh lagi diwarnai praktik perpeloncoan ataupun hukuman yang merendahkan peserta didik. Sebaliknya, peran Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) adalah membimbing siswa baru agar cepat beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
“Sekarang tidak ada lagi yang namanya dipojokkan atau perpeloncoan. Anak-anak justru harus dibimbing oleh kakak-kakak OSIS agar mengenal lingkungan sekolah dan merasa nyaman,” tuturnya.
Iskandar berharap sekolah benar-benar menjadi rumah kedua bagi peserta didik, tempat mereka belajar, berkembang, dan membangun karakter bersama guru serta teman-temannya.
“Selain rumah bersama ayah dan ibu, sekolah juga harus menjadi rumah kedua bersama bapak dan ibu guru,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala SD Negeri 001 Merdeka, Sri Winggowati, menegaskan keberhasilan pendidikan memerlukan kolaborasi erat antara sekolah dan keluarga. Menurutnya, pembentukan karakter anak tidak dapat dilakukan hanya di lingkungan sekolah.
“Kami menerima amanah dari orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak selama berada di sekolah. Namun pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Ketika anak berada di sekolah selama sekitar tujuh jam, maka waktu selebihnya menjadi bagian orang tua di rumah. Pendidikan di sekolah dan di rumah harus berjalan selaras,” katanya.
Sri juga mengajak seluruh peserta didik baru membiasakan hidup disiplin, menghormati guru, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekolah sebagai bekal selama menempuh pendidikan.
Sementara itu, perwakilan orang tua siswa, Ayahanda Alzaidan, menyampaikan kepercayaan penuh kepada pihak sekolah dalam mendampingi putra-putri mereka selama menjalani proses pendidikan.
“Kami menitipkan putra-putri kami kepada Bapak dan Ibu guru untuk dibimbing, dididik, dan diarahkan agar tumbuh menjadi anak yang berakhlak baik, disiplin, percaya diri, serta semangat belajar. Kami percaya pendidikan terbaik lahir dari kerja sama antara sekolah dan orang tua,” ujarnya. (M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.