Farhan Dorong Perubahan Perilaku Warga, Pengelolaan Sampah Dimulai dari Rumah Tangga
KOTA BANDUNG (METRUM) – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menegaskan bahwa upaya memerangi persoalan sampah harus dimulai dari level terbawah, yakni Rukun Warga (RW). Sebanyak 1.596 petugas pemilah dan pengolah sampah telah diterjunkan untuk mencakup seluruh RW di Kota Bandung.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyoroti persoalan sampah sebagai tantangan serius yang harus segera ditangani. Hal itu disampaikannya dalam Wawancara Khusus “Berita Satu Spesial” B-Tv bertema Satu Tahun Kepala Daerah, Sinergi Pusat & Daerah, Jumat, 20 Februari 2026.
Farhan mengungkapkan, salah satu titik krusial persoalan sampah berada di Pasar Gedebage yang setiap hari memproduksi sekitar 20 ton sampah. Sebagian besar merupakan limbah pisang. Menurutnya, konsumsi pisang masyarakat Kota Bandung tergolong tinggi, namun yang dimanfaatkan hanya bagian buahnya, sementara kulit dan sisa lainnya menjadi beban pengelolaan.
Ia menjelaskan, limbah organik tersebut harus diolah menggunakan teknologi seperti biodigester yang berpotensi menimbulkan bau. Metode lain seperti pengolahan maggot maupun Refuse Derived Fuel (RDF) juga memiliki konsekuensi serupa. Bahkan teknologi berbasis termal sekalipun dinilai tidak sepenuhnya bebas dampak.
Mengutip arahan Presiden, Farhan menyebut persoalan sampah sebagai sebuah “perang”. Ia menegaskan, tantangan ini tidak mudah karena sumber sampah berasal dari perilaku masyarakat sendiri.
Sebagai langkah konkret, Pemkot Bandung meluncurkan program “Gaslah” (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah). Melalui program ini, satu petugas ditempatkan di setiap RW untuk memastikan proses pemilahan sampah berjalan sejak dari sumbernya.
Dari total 1.596 RW di Kota Bandung, seluruhnya telah memiliki petugas. Namun Farhan menilai upaya tersebut belum cukup. Pemkot berencana memperluas cakupan hingga menjangkau 9.699 RT agar edukasi serta pengelolaan sampah dimulai dari tingkat rumah tangga.
Ia juga menegaskan, kawasan komersial seperti pasar, hotel, dan perkantoran wajib mengelola sampahnya secara mandiri tanpa membebani sistem pengelolaan kota.
Menurut Farhan, perubahan perilaku menjadi kunci utama keberhasilan. Edukasi harus dimulai dari rumah, sekolah, hingga lingkungan kerja, berjalan seiring dengan peningkatan teknologi pengolahan sampah.
“Jika tidak dimulai dari hulu, maka persoalan di hilir akan selalu menjadi beban,” tegasnya. (M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.