METRUM
Jelajah Komunitas

In Memoriam Asep Irawan “Jejak”

SORE hari pada Senin, 19 September 2022, saya mendapat kabar duka melalui media sosial facebook dari salah satu teman pesepeda yang akunnya bernama Ndy Nendys (Jejak), bahwa Asep Irawan atau Kang Asep, ketua komunitas pesepeda Jelajah Jalur Setapak (Jejak) meninggal dunia di Rumah Sakit Al Islam pada pukul 15.00 WIB. 

Semua yang mengenal almarhum terutama para pegiat sepeda dipastikan merasa kaget, sedih, dan berduka yang mendalam, serta sangat kehilangan sosok yang dikenal baik tersebut. Tapi menyadari bahwa mungkin itulah yang terbaik dari Sang Pencipta setelah selama kurang lebih tujuh tahun berjuang melawan penyakit kronis yang dideritanya.

Kepergian Kang Asep menyusul almarhum Asdan Ahmad, seorang sahabat soulmate dan tetangganya yang satu frekwensi di komunitas Jejak, yang meninggal pada tahun 2021 lalu.

Kang Asep dan Nubiker’s di Kegiatan 350 Moving Planet (Foto: Dok. Hasnan).*

Kang Asep merupakan salah-satu sosok pesepeda yang tangguh, bersahaja, penuh loyalitas, dan bersahabat. Selain itu, ia dikenal aktif dalam keagaman sebagai pendakwah dan tergabung dalam komunitas dakwah yang kemudian bermetamorfosa pada politik dan menjadi salah satu kader terbaik di partai yang diikutinya.

Selain itu, Kang Asep juga aktif dan menekuni hobi desain grafis, fotografi, seni kaligrafi, dan bersama beberapa teman seperjuangannya di jalur dakwah membentuk grup vocal nasyid Saoutul Harokah, yang terkenal dan populer di negeri jiran, Malaysia.

Sebagai pegiat sepeda, Kang Asep lebih menyukai trek-trek jalan setapak perkotaan, perbukitan atau pedesaan. Bersama teman-teman pesepeda terdekatnya, di antaranya Jae Lani, Asdan Ahmad (alm), Novi, Gerjito, Abuhe, Tatang Nori, Usep Basari, dan Ahmad Gozali membentuk komunitas bernama Jelajah Jalur Setapak (Jejak) pada Februari 2010 yang mendaulat kang Asep menjadi ketuanya.

Kang Asep dan salah-satu karya kaligrafi hasil buatannya (Foto: Dok. Asep Irawan).*

Sejak saat itu, Jejak mulai eksis dalam kegiatan bersepeda terutama rutinitas setiap akhir pekan menjajal jalur-jalur favorit yang cenderung ekstrem di seputaran Bandung Raya dan kerap membuat event dan kegiatan sosial.

Pada tahun yang sama, Kang Asep bergabung dalam gerakan Bike to Work (B2W) Bandung. Mulai dari sini saya pertama berkenalan dengannya dan semakin akrab karena sering kulineran bareng karena sama-sama memiliki hobi makan.

Jika ada kegiatan yang melibatkan lintas komunitas dan saya bagian dari panitianya, Jejak selalu diundang, salah satunya di kegiatan “Kampanye Indonesia Bersepeda Moving Planet” yang digelar Greeners.co di Kota Bandung.

Kenangan tahun 2011, Penulis Berfoto dengan Kedua Personil Jejak Yang Sudah Tiada (Foto: Dok. Jejak).*

Pada tahun 2011, Saya bersepeda ke Warung Bandrek (Warban) bersama Jejak dan Abege Asyiknya Bersepeda (Abasah) dan pernah pula diajak Jejak bersepeda melalui berbagai trek sepeda yang mengasah adrenalin dari mulai Warban, Firdaus, Warung Daweung, Tamiya, dan Padasuka.

Setelah makin eksis, Jejak tergabung dalam semacam koalisi komunitas pesepeda penggila jalur ekstrim yang diberi nama C-Pinterkojaks (CPK), akronim dari Cimahi Cyling Community (Threeple-C), Pines City, Telusuri Jalur Liar (Terjal), Komunitas Sepeda Kaskus (Koskas), Jejak dan The CengoS.

Di kalangan CPK, Kang Asep mendapat panggilan akrab GanAs (Juragan Asep) dan merupakan sesepuh yang begitu dihormati.

Seiring berjalannya waktu, Jejak pun mengalami dinamika komunitas yang berdampak pada eksistensinya, apalagi pada tahun 2015 Kang Asep jatuh sakit dan mengharuskannya mendapat perawatan dan pemulihannya memakan waktu yang cukup lama.

Aksi Sosial Jejak pada tahun 2011 (Foto: Dok. Jejak).*

Pada awal-awal pemulihan Kang Asep masih sempat bersepeda dan kumpul rutin setiap Jum’at sore bersama personil B2W Bandung di selasar lapangan Gasibu sebrang Gedung Sate. Saat itu saya juga sering hadir. Tak lama kemudian Kang Asep kembali mengalami drop dan harus dirawat, sampai akhirnya terkena stroke. 

Alhamdulillah, setelah sering bulak-balik rumah sakit, semakin lama kondisinya berangsur-angsur membaik, dari yang asalnya tidak bisa bicara jelas menjadi lancar, meskipun tidak selancar seperti biasanya. Beberapa bagian tubuh sudah bisa digerakan meski posisi tangan kiri tidak sempurna, badannya kurus berbeda 180 derajat sewaktu dulu yang cukup subur.

Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Kang Asep sudah mulai beraktivitas dan berniaga lagi dengan membuat seni kaligrafi yang karyanya sangat bagus dan bernilai. Sayangnya, masih sering mengalami drop dan harus dirawat di rumah sakit.

Dan pada Senin (19/9/2022) sore itulah terakhir kalinya Kang Asep dilarikan ke RS Al Islam, karena kemudian Tuhan Yang Maha Kuasa memanggilanya, pergi untuk selamanya. Kullu Nafsin Dzaiqotul Maut, Innalillahi Wa Inna Ilayhi Rooji’un.

Pileuleuyan Kang Asep, semoga mendapat tempat terbaik disisi Tuhan Yang Maha Kuasa, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.

Kang Asep di mata teman-temannya

Kang Asep cukup populer di lingkungan komunitas yang digelutinya, khususnya bagi teman-teman pesepeda di Bandung, seperti Jejak, C-Pinter Kojek, B2W Bandung, Sapedah Suka-Suka (SaSuSu) dan Nu Gareulis Ngagowes (NGN).

Kepergian Kang Asep membuat banyak orang yang mengenalnya bersedih dan merasa kehilangan. Sosoknya banyak meninggalkan kenangan baik bagi para sahabatnya, seperti apa yang disampaikan Wahid Zamzam Muazam anggota Jejak yang berprofesi sebagai guru dan pelatih olah raga.

“Kang ustad Asep Irawan merupakan orang yang bersahaja, humble, baik terhadap sesama tanpa memandang siapapun. Perkenalan pertama dengan beliau saat sama-sama gabung di B2W Bandung dan mengajak saya untuk bergabung di Jejak yang bermarkas di rumah beliau di Kebon Jayanti, Kiara Condong. Banyak pelajaran, pengalaman dan wawasan yang diperoleh dari beliau,” ujar Zamzam.

Zamzam menambahkan, Kang Asep menjadi saksi dalam pernikahannya. Selain itu, almarhum ia juga sangat berterima kasih kepada penulis karena sempat membantu mengoordinir pesepeda dari beberapa komunitas di Bandung Raya untuk gowes ngabring mengiring prosesi pernikahannya.

Almarhum di acara pernikahan Zamzam tahun 2014 (Foto: Dok. Penulis).*

Sementara Syaiful Rohman dari Greeners.co menuturkan bahwa Kang Asep adalah sosok yang baik, ramah, mengayomi dan dianggap sebagai kakak baginya, karena sejak pertama berkenalan selalu mau menjadi teman bercerita, bertukar ide terkait kegiatan bersepeda.

“Sebelum Greeners.co pindah ke Jakarta, kami sering bertemu pada ajang gowes bareng, atau fun bike di Kota Bandung atau momen-momen gowes dadakan sore ke malam,” ujar Syaiful.

Tentu masih banyak lagi yang menyampaikan testimoninya, baik tertulis maupun melalui rekaman suara, selengkapnya bisa disimak pad program “Bicara Bike, Membicarakan Segala Kebikean” di Metrum Radio, Media Terintegrasi Kaum Muda dalam Jelajah Komunitas, edisi #16, Minggu, 25 September 2022, pukul 16.00 – 17.00 WIB. Perdana disiarkan dari Studio 4 Metrum, Karawang. Salam Boseh dan Go Green. (Cucu Hambali, Bersepeda itu Baik)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: