Jejak Sekolah Era Victoria Terungkap: Kelereng dan Batu Tulis Ditemukan di London
ARKEOLOG yang tengah melakukan penggalian menjelang pembangunan properti baru di London menemukan sejumlah kelereng berwarna indah serta pecahan batu tulis yang dulu digunakan murid sekolah pada era Victoria. Penemuan ini membuka gambaran tentang kehidupan anak-anak sekolah di Inggris pada abad ke-19.
Beberapa kelereng keramik bercorak pusaran warna ditemukan di dalam saluran air bata yang tertutup. Diduga, kelereng tersebut terjatuh saat anak-anak bermain di waktu istirahat. Selain itu, tim juga menemukan pecahan batu tulis lengkap dengan pensil tulisnya, bahkan masih menyisakan coretan samar tulisan tangan anak-anak.
Menurut pernyataan dari Museum of London Archaeology (MOLA), artefak tersebut ditemukan dalam penggalian di kawasan SEGRO Park Wapping, London Timur, sebelum pembangunan gedung komersial baru dimulai. Di lokasi tersebut, arkeolog juga menemukan fondasi sejumlah bangunan yang aktif antara abad ke-16 hingga ke-19, termasuk kapel, rumah sedekah (almshouse), dan sekolah gratis untuk anak laki-laki dari keluarga kurang mampu.
Kelereng yang ditemukan dikenal sebagai “alley marbles”. Meski terbuat dari keramik, desainnya dibuat menyerupai batu alabaster dengan corak berwarna-warni. Temuan ini tergolong langka, karena artefak yang berkaitan langsung dengan kehidupan anak-anak relatif jarang ditemukan dalam catatan arkeologi.
Selain mainan, pecahan batu tulis yang ditemukan menunjukkan bagaimana proses belajar mengajar berlangsung saat itu. Anak-anak menggunakan kapur atau pensil batu tulis untuk menyalin pelajaran dari papan tulis dan berlatih menulis, lalu menghapusnya untuk digunakan kembali pada pelajaran berikutnya. Pada beberapa pecahan, masih terlihat sisa tulisan samar yang sulit terbaca.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa sekolah dan almshouse tersebut sudah tercatat dalam survei London tahun 1598. Tempat itu diperuntukkan bagi pendidikan 60 anak laki-laki miskin, serta menyediakan hunian bagi 14 warga lanjut usia kurang mampu yang menerima tunjangan rutin.
Kedua lembaga ini didukung oleh Worshipful Company of Coopers, sebuah serikat pengrajin pembuat tong (cooper). Pada masa itu, industri pembuatan tong sangat penting dan menguntungkan, sehingga banyak penghuni almshouse memiliki keterkaitan dengan profesi tersebut.
Pada 1720, tercatat 20 orang tinggal di almshouse tersebut, terdiri atas 14 perempuan dan enam laki-laki. Para penghuni menerima tunjangan berkala serta fasilitas kamar, ruang bawah tanah, dan kebun kecil. Sebagian besar memiliki hubungan keluarga dengan para pembuat tong.
Penggalian ini memberikan gambaran menarik tentang kehidupan sosial London berabad-abad lalu. Di lokasi yang kini hampir terlupakan itu, para janda dan keluarga pengrajin kemungkinan menjalani hari-hari sederhana, sementara suara anak-anak dan bunyi kelereng yang beradu pernah menggema di halaman sekolah. (M1-Sumber: allthatsinteresting.com)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.