METRUM
Jelajah Komunitas

Lapak Permanen Pedagang Buku Cihapit Didemolisi, Pemkot Bandung Wajibkan Sistem Bongkar Pasang

KOTA BANDUNG (METRUM) – Langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dalam menertibkan fasilitas publik kembali teruji di kawasan Cihapit. Sebanyak 13 kios milik Pedagang Kaki Lima (PKL) di depan Polsek Bandung Wetan dibongkar secara mandiri oleh pemiliknya setelah menerima teguran kelurahan. Meski begitu, para pedagang tidak langsung ditendang out dari kawasan tersebut.

Pemkot Bandung memastikan para pedagang, termasuk penjual buku legendaris Cihapit, tetap diberi ruang untuk mengais rejeki. Syaratnya tegas: tidak ada lagi bangunan permanen maupun semi-permanen, serta wajib menggunakan lapak bongkar pasang yang tak menyerobot hak pejalan kaki.

Salah seorang pedagang buku senior di Cihapit, Bagja Tanuraharja, menyambut baik kelonggaran ini. Demi mempertahankan basis pelanggan buku langka dan bekas yang sudah dibangun puluhan tahun, warga Cihapit ini rela merogoh kocek sendiri untuk membeli tenda portabel.

“Saya berencana membeli tenda berukuran 2×3 meter dengan biaya sekitar Rp1,2 juta dari dana pribadi agar tetap bisa berjualan di tempat yang sama,” ujar Bagja saat mengurus lapak barunya.

Sementara itu, Lurah Cihapit, Yoga Hananto, menegaskan bahwa kebijakan penataan ini bukan bentuk penutupan ruang usaha warga, melainkan langkah penegakan fungsi trotoar agar kembali rapi dan ramah bagi pejalan kaki.

“Untuk ke depannya saya mengimbau untuk berdagang dengan cara bongkar pasang, yaitu tidak semi permanen dan juga tidak mengganggu pejalan kaki,” kata Yoga.

Yoga mengapresiasi sikap kooperatif para pedagang serta dukungan dari pengurus RT, RW, dan warga sekitar. Proses pembongkaran mandiri berlangsung kondusif tanpa gejolak.

“Alhamdulillah berjalan aman, kondusif, dan semua pedagang menerima serta bersepakat untuk menaati aturan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kawasan Cihapit yang kini menjelma menjadi salah satu destinasi ikonis Bandung harus ditata agar memikat wisatawan tanpa mengorbankan estetika dan ketertiban lingkungan.

BACA JUGA:  Dylan Van Baarle Juara dan Catat Rekor Tercepat “Hell of the North”

“Harapannya ketika nanti kembali berdagang, kawasan menjadi lebih indah dan wisatawan nyaman ketika berkunjung ke wilayah Cihapit,” tuturnya.

Ke depan, sosialisasi serupa akan terus digencarkan ke titik-titik lain di wilayah Cihapit yang masih membandel dengan kios semi-permanen. Yoga pun memberikan wanti-wanti keras terkait masalah kebersihan lokasi setelah aktivitas perdagangan usai.

“Berangkat bersih, pulang bersih,” tegas Yoga. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.