METRUM
Jelajah Komunitas

Kabupaten Bandung Darurat Judol, Kombes Tri Suhartanto: Kemenangan Awal Itu Cuma Umpan Palsu!

KABUPATEN BANDUNG (METRUM) – Bahaya laten judi online (judol) makin menggerogoti warga Kabupaten Bandung. Kapolresta Bandung Kombes Pol Tri Suhartanto melontarkan peringatan keras agar masyarakat tidak mudah tergiur dengan ‘kemenangan manis’ di awal permainan yang sengaja dirancang untuk menjebak korban.

Tri menegaskan, illusi kemenangan tersebut tak lebih dari jebakan pemicu kecanduan yang berujung pada kehancuran finansial, lingkaran setan pinjaman online (pinjol), hingga keretakan rumah tangga.

“Yang namanya judol itu tidak ada untungnya. Mungkin awal-awal diberikan kesempatan untuk menang, setelah itu nanti habis. Kemudian setelah judol, dia berharap uang kembali, dan akhirnya terlilit utang dan pinjol,” kata Kombes Pol Tri Suhartanto di Soreang, Rabu (7/10/2026).

Kondisi Kabupaten Bandung sendiri sudah masuk tahap alarm bahaya. Data PPATK mencatat lebih dari 182.000 warga terpapar judol. Lebih mengejutkan lagi, catatan Diskominfo menunjukkan setidaknya 1.066 Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Bandung terindikasi terjerat judi digital ini dengan total deposit menembus Rp6,5 miliar.

Melihat fakta mengerikan tersebut, Kapolresta mengimbau pengawasan ketat dari lingkungan keluarga sebagai benteng pertahanan utama.

“Untuk memerangi judol, kami mengajak masyarakat untuk selalu melakukan pengecekan kepada seluruh anggota keluarga termasuk anak-anak mereka. Kalau memang ada misalkan suami istri yang sudah terpengaruh dan tidak bisa lepas, sampaikan kepada kami pihak kepolisian atau kepada orang terdekat lebih dulu sehingga bisa memutus rantai penyakit ini,” tegasnya.

Ia menilai, hasrat mendapatkan uang secara cepat tanpa kerja keras kerap menjadi pintu masuk masyarakat masuk ke lubang hitam perjudian.

“Karena kan menimbulkan ketergantungan. Kalau lihat konsepnya, menang itu ada batasnya. Tapi kalau kalah tidak ada batasnya. Nah ini yang harus dipahami. Karena kadang-kadang mental masyarakat kita itu ingin cepat atau instan dalam mendapatkan sesuatu,” tutur Tri.

BACA JUGA:  Medsos Jadi Ladang Kejahatan Baru, Kejari Bandung Soroti Rendahnya Literasi Digital

Padahal, menurut Tri, Kabupaten Bandung dianugerahi lahan pertanian dan perkebunan yang sangat potensial untuk menggerakkan ekonomi ketimbang mempertaruhkan nasib pada mesin judi.

“Walaupun orang tuanya petani, kalau kita tanya, mau jadi apa? Mereka lebih baik, mohon maaf, jadi karyawan atau lebih baik jadi tukang ojek online daripada harus jadi petani lagi. Ini sangat disayangkan, padahal pertanian dan perkebunan itu bisa jadi sumber penghasilan yang luar biasa. Kalau di luar negeri, seperti Jepang, Cina atau Eropa, petani itu masuk dalam daftar sepuluh orang yang paling kaya,” ucap Tri.

Guna mengikis maraknya judol, pihak kepolisian menyadari keterbatasan personel untuk mengawasi sekitar 4 juta penduduk Kabupaten Bandung yang tersebar di wilayah seluas 1.767 Km². Dengan rasio 1 polisi berbanding 2.200 warga, keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci utama.

“Karena perlu diakui bahwa kepolisian itu masih banyak kekurangan. Namun itu bukan menjadi kendala buat kita memberikan pelayanan yang terbaik. Contohnya di Polresta Bandung ini, rasio polisi yang baik itu 1 berbanding 450 atau 500 lah… Walaupun ada kekurangan tapi tidak menjadi halangan bagi kita untuk memberikan yang terbaik. Karena saya selalu bilang kepada anggota bahwa polisi itu diciptakan bukan untuk sempurna, tapi diciptakan untuk berguna,” pungkas Kapolresta. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.