METRUM
Jelajah Komunitas

Menteri Luar Negeri: China Tidak Menjebak Afrika pada Utang

MENTERI Luar Negeri China Wang Yi, pada Kamis (6/1/2022), menolak pandangan bahwa Beijing memikat negara-negara Afrika untuk masuk ke dalam perangkap utang dengan menawarkan pinjaman besar-besaran. Ia menyebut “narasi” itu didorong oleh beberapa orang yang menolak pengentasan kemiskinan.

Wang, berbicara menjelang tur proyek infrastruktur yang didanai Beijing di Kenya, mengatakan pinjaman besar yang dikeluarkan oleh China kepada Afrika “saling menguntungkan” dan bukan strategi untuk mengekstraksi konsesi diplomatik dan komersial.

“Itu bukan berdasarkan suatu fakta. Itu adalah spekulasi yang dimainkan beberapa pihak dengan motif tersembunyi,” kata Wang kepada sejumlah wartawan di kota pelabuhan Mombasa, Kenya, seperti dilansir dari VOA.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi (kiri) dan dan Menteri Luar Negeri Kenya Raychelle Omamo bersalaman dengan mengadu siku dalam konferensi pers di Mobasa, Kenya, pada 6 Januari 2022. (Foto: Reuters/Joseph Okanga)
Menteri Luar Negeri China Wang Yi (kiri) dan dan Menteri Luar Negeri Kenya Raychelle Omamo bersalaman dengan mengadu siku dalam konferensi pers di Mobasa, Kenya, pada 6 Januari 2022 (Foto: Reuters/Joseph Okanga).*

Kunjungan Wang ke tiga negara, yaitu Eritrea, Kenya dan Komoro, dilakukan setelah kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken ke Afrika pada November lalu yang antara lain bertujuan untuk melawan pengaruh China yang berkembang di benua tersebut.

China adalah mitra dagang terbesar Afrika, dengan nilai perdagangan langsung mencapai lebih dari $200 miliar pada 2019, menurut angka resmi yang dikeluarkan pemerintah China.

China menjadi pemberi pinjaman terbesar kedua di Kenya setelah Bank Dunia. China juga mendanai sejumlah proyek infrastruktur mahal sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa Nairobi terus menumpuk utang di luar kemampuannya membayar.

Di Mombasa, Wang mengadakan pertemuan tertutup dengan tim menteri pemerintah sekaligus menandatangani perjanjian perdagangan dan investasi, kesehatan, keamanan, perubahan iklim dan alih teknologi yang ramah lingkungan.

Para pekerja terlihat di lokasi pembangunan jalan tol Nairobi, yang menjadi bagian dari proyek kerja sama antara pihak swasta dan publik di bawah Korporasi Jalan dan Jembatan China (CRBC), di Nairobi, Kenya, pada 20 Oktober 2021. (Foto: Reuters/Thomas Mukoya)
Para pekerja terlihat di lokasi pembangunan jalan tol Nairobi, yang menjadi bagian dari proyek kerja sama antara pihak swasta dan publik di bawah Korporasi Jalan dan Jembatan China (CRBC), di Nairobi, Kenya, pada 20 Oktober 2021 (Foto: Reuters/Thomas Mukoya).*

Ia kemudian bertemu dengan Presiden Uhuru Kenyatta dan mengunjungi Pelabuhan Mombasa, di mana China sedang membangun terminal baru senilai $353 juta yang memungkinkan kapal-kapal tanker berukuran lebih besar berlabuh.

“Kunjungan itu merupakan bukti semakin dalamnya hubungan kedua negara,” kata Menteri Luar Negeri Kenya, Raychelle Omamo.

Ditanya tentang perjalanan Wang, juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price mengatakan Amerika Serikat berkomitmen untuk melakukan “kolaborasi berkelanjutan dan transparan” dengan negara-negara Afrika dan tidak meminta negara-negara itu untuk memilih antara Amerika Serikat dan China.

“Kemitraan yang ditawarkan Amerika Serikat kepada negara-negara Afrika – didasarkan pada kesempatan bersama, saling menghormati,” kata Price.

Pinjaman besar-besaran Beijing mengalami kelambanan dalam beberapa tahun terakhir karena para peminjam menunda pembayaran dan pandemi virus corona menimbulkan keterpurukan ekonomi. (M1-VOA/mg/ka)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: