ITB Hadirkan Akulturasa 2026, Festival Inovasi Pangan Berbasis Sains dan Budaya
KOTA BANDUNG (METRUM) – Institut Teknologi Bandung (ITB) mulai menggaungkan semangat kolaborasi lintas disiplin melalui peluncuran pre-event Akulturasa ITB 2026 bertajuk “Mula Rasa” yang digelar di Ruang Kreasi Bersama Alumni ITB, Jalan Ganesha, Bandung, Selasa (2/6/2026).
Kegiatan ini menjadi pembuka menuju penyelenggaraan Akulturasa ITB 2026 yang akan berlangsung pada 20–21 Juni 2026 di Kampus ITB Ganesha. Mengangkat tema “Ruang Kolaborasi Sains, Teknologi, Budaya, dan Pangan dalam Simpul Ganesha”, festival tersebut dirancang sebagai ruang pertemuan berbagai disiplin ilmu untuk menghadirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.
Akulturasa menjadi wadah yang menghubungkan sains, teknologi, seni, budaya, hingga sektor pangan dalam satu ekosistem kolaboratif. Melalui agenda ini, ITB memperkenalkan konsep gastronomi berbasis sains dan teknologi, sekaligus menampilkan berbagai produk fermentasi hasil inovasi mahasiswa serta pelaku UMKM binaan.
Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB, A. Rikrik Kusmara, mengatakan Akulturasa lahir dari besarnya potensi riset dan inovasi pengolahan pangan yang berkembang di lingkungan kampus.
Menurutnya, ITB tidak hanya berfokus pada penelitian, tetapi juga berupaya menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Semangat tersebut menjadi fondasi utama penyelenggaraan Akulturasa.
Ia menambahkan, festival ini merupakan bentuk komitmen ITB dalam memperkuat kolaborasi antara sains, teknologi, seni, dan desain guna meningkatkan literasi publik sekaligus mendorong apresiasi terhadap kekayaan pangan lokal Indonesia.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya ITB sekaligus Guru Besar Mikrobiologi Industri, Dea Indriani Astuti, menjelaskan bahwa teknologi hayati memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui pemanfaatan mikroba dalam berbagai produk pangan fermentasi seperti tempe, keju, dan aneka makanan tradisional lainnya.
Menurutnya, kemajuan teknologi hayati telah meningkatkan kualitas dan keamanan pangan fermentasi. Perkembangan tersebut juga semakin didukung oleh kolaborasi multidisiplin yang melibatkan berbagai fakultas dan sekolah di ITB, sehingga mampu menghasilkan produk pangan bernilai gizi tinggi dengan tampilan yang menarik.
“Kolaborasi yang semakin luas menghadirkan manfaat besar dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.
Akulturasa sendiri berakar dari program tahunan Fermenstation yang selama ini diselenggarakan Program Studi Mikrobiologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB. Program tersebut mengangkat fermentasi sebagai teknologi warisan budaya yang memiliki nilai ilmiah dan ekonomi.
Ketua Umum Akulturasa 2026, Kamarisima, menjelaskan bahwa mulai tahun ini semangat Fermenstation diperluas melalui konsep baru bernama Akulturasa dengan melibatkan lebih banyak disiplin ilmu, mitra industri, dan komunitas.
Menurutnya, sinergi antara SITH, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Sekolah Farmasi (SF), dan Fakultas Teknologi Industri (FTI) menjadi langkah konkret dalam mendukung pengembangan ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
Akulturasa juga diarahkan untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pengentasan kemiskinan dan penghapusan kelaparan melalui penguatan rantai pasok pangan lokal serta penerapan prinsip zero waste.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Akulturasa turut berkolaborasi dengan Gebyar Dies Natalis ITB ke-67 dan agenda Pulang Kampus (Homecoming) Alumni ITB 2026. Ketua Umum Ikatan Alumni ITB, Agustin Perangin-angin, menyebut kegiatan tersebut menjadi ruang sinergi antara alumni, sivitas akademika, dan masyarakat.
Dukungan juga datang dari sektor perbankan. Regional Office Head BTN Jawa Barat, Asvianti Handaru, menilai kolaborasi antara dunia akademik dan industri keuangan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan ekonomi kreatif dan pembangunan berkelanjutan.
Apresiasi serupa disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, yang menilai Akulturasa sebagai inovasi yang lahir dari ekosistem kolaboratif kampus dan mampu memberikan manfaat bagi UMKM serta pelaku ekonomi kreatif.
Pada puncak acara 20–21 Juni mendatang, Akulturasa akan menghadirkan sekitar 72 tenant terkurasi yang terdiri atas UMKM, produk inovasi mahasiswa dan fakultas, hingga pelaku usaha bidang kesehatan dan pangan. Berbagai agenda seperti Jamuan Nusantara, pameran riset, lokakarya, kompetisi memasak, pertunjukan seni, dan piknik kampus akan menjadi daya tarik utama festival tersebut.
Melalui Akulturasa 2026, ITB ingin menunjukkan bahwa kolaborasi antara sains, teknologi, seni, budaya, dan pangan mampu melahirkan inovasi berbasis kearifan lokal yang berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan Indonesia secara berkelanjutan. (M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.