METRUM
Jelajah Komunitas

Ngabuburit di Atas Roda: Tradisi Sepatu Roda Bandung dari 1970-an hingga Kini

BULAN Ramadan selalu identik dengan tradisi ngabuburit—aktivitas menunggu waktu berbuka puasa yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Sunda, khususnya di Bandung. Dari sekadar jalan santai hingga berburu takjil, ada satu aktivitas yang sejak puluhan tahun lalu menjadi ikon tersendiri: bermain sepatu roda.

Dari Jalanan Sepi Tahun 1970-an

Sekitar era 1970-an, sepatu roda menjadi tren di Bandung. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa memadati jalanan untuk meluncur di atas aspal, terutama saat Ramadan. Kala itu, lalu lintas kendaraan belum sepadat sekarang, sehingga banyak warga memanfaatkan waktu selepas sahur maupun sore hari menjelang magrib untuk bermain sepatu roda di jalanan yang masih lengang.

Sepatu roda bukan sekadar olahraga. Gerakannya yang dinamis dan ritmis juga menyimpan unsur seni yang memikat. Tak heran, banyak orang yang awalnya hanya menonton akhirnya tertarik untuk mencoba.

Era Disco Skate 1980-an

Memasuki tahun 1987, tren sepatu roda semakin berkembang dengan hadirnya arena disco skate seperti NASA Disco Skate di Asia Afrika Plaza dan Lipstick Disco Skate di Mall Palaguna. Tempat-tempat ini menjadi magnet remaja Bandung untuk mengisi waktu ngabuburit dengan aktivitas yang sehat sekaligus penuh gaya.

Fenomena ini sejalan dengan tren global. Di Amerika Serikat dan Eropa, budaya roller disco memang populer pada akhir 1970-an hingga 1980-an, memadukan olahraga, musik, dan gaya hidup urban.

Booming Inline Skate Tahun 1990-an

Perubahan besar terjadi pada 1992 ketika sepatu roda tipe inline skate—dengan susunan roda sejajar lurus—mulai masuk dan booming di Indonesia. Merek-merek seperti Rollerblade, Ultra Wheels, Flashline, Bauer, hingga California Pro menjadi incaran para penggemar.

Model inline skate kemudian mendominasi tren sepatu roda hingga kini, baik untuk kebutuhan rekreasi maupun prestasi olahraga. Meski begitu, komunitas quad skate (dengan empat roda dua-dua sejajar) tetap memiliki penggemar tersendiri.

BACA JUGA:  Dangiang Sabalad Pangandaran

Secara internasional, olahraga ini juga diakui secara kompetitif melalui federasi seperti World Skate (dulu FIRS – Fédération Internationale de Roller Sports), yang menaungi berbagai cabang olahraga sepatu roda, termasuk inline speed skating dan artistic skating.

BB-Inline Skate Academy, Konsisten Membina Generasi Muda

Di Bandung, salah satu klub yang konsisten membina atlet dan penggemar sepatu roda adalah Balance Bandung (BB) – Inline Skate Academy. Berdiri sejak 2008 dan awalnya berlatih di Balaikota Bandung, komunitas ini kini aktif di kawasan Saparua.

Klub didirikan oleh Detje Ahmad Nursyamsi sosok legendaris dalam dunia olahraga sepatu roda Indonesia, khususnya bagi komunitas di Bandung dan Jawa Barat. Beliau bukan sekadar atlet, melainkan perintis yang membawa nama harum daerah di kancah nasional. Setelah gantung sepatu sebagai atlet, ia tidak meninggalkan dunia olahraga, dan tetap aktif membina atlet-atlet muda di Bandung.

Klub ini membina peserta mulai dari usia 4 tahun hingga remaja dan dewasa. Jumlah anggota terdaftar sangat banyak, dengan sekitar 100 anak TK, SD, dan SMP yang aktif berlatih setiap hari. Latihan rutin digelar setiap Jumat sore serta Sabtu dan Minggu pagi di area Saparua.

Sekretariat sekaligus mini store BB – Inline Skate Academy berada di Jalan Ambon No. 15, kawasan Saparua, Kota Bandung.

(Foto-foto: Dok. Detje).*

Ramadan: Latihan Sambil Ngabuburit

Memasuki Ramadan, BB – Inline Skate Academy menghadirkan program latihan sambil ngabuburit di Saparua. Konsepnya sederhana: berolahraga ringan menjelang berbuka agar tubuh tetap bugar, hati lebih bahagia, dan jejaring pertemanan semakin luas.

Menurut berbagai sumber kesehatan seperti rekomendasi WHO dan Kementerian Kesehatan RI, aktivitas fisik ringan hingga sedang saat berpuasa tetap aman dilakukan selama memperhatikan hidrasi dan intensitas. Olahraga menjelang berbuka bahkan dinilai efektif karena tubuh segera mendapat asupan cairan dan nutrisi setelahnya.

BACA JUGA:  Politik dalam Perdagangan Internasional

Tak hanya itu, pada Sabtu, 14 Maret 2026 mendatang, komunitas ini juga berencana menggelar acara Iftar bersama anak yatim di Saparua. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berbagi kebahagiaan sekaligus menanamkan nilai sosial kepada para anggota sejak dini.

“Bagi yang belum memiliki sepatu roda, baik quad skate maupun inline skate, pihak komunitas menyediakan sepatu secara gratis untuk dipakai bergantian saat latihan,” ujar Detje.

“Go Balance Go!” menjadi semangat yang terus digaungkan oleh Detje, founder komunitas tersebut, dalam membangun budaya olahraga sepatu roda yang sehat, inklusif, dan penuh kebersamaan.

Ngabuburit tak selalu harus dengan duduk menunggu waktu. Di Bandung, tradisi itu telah lama bergulir di atas roda—menggelindingkan semangat sehat, persahabatan, dan kebahagiaan. (Nada Ahmad)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.