Pemkot Bandung Percantik Simpang Lima, Bangunan Cagar Budaya Jadi Prioritas
KOTA BANDUNG (METRUM) – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai melakukan penataan di kawasan Simpang Lima sebagai bagian dari persiapan menyambut Festival Asia Afrika. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, langkah tersebut menjadi upaya awal untuk mempercantik salah satu ikon kota sekaligus menciptakan kawasan yang lebih nyaman bagi masyarakat dan wisatawan.
Pemkot Bandung menegaskan penataan kawasan Simpang Lima yang tengah berlangsung baru bersifat sementara. Revitalisasi menyeluruh di koridor Jalan Ahmad Yani hingga Jalan Asia Afrika baru akan dilakukan setelah diselaraskan dengan pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) yang ditargetkan berlangsung hingga 2027.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, sejak tahun lalu Pemkot sebenarnya telah merencanakan penataan total kawasan tersebut. Namun, rencana itu harus menyesuaikan dengan pembangunan koridor BRT agar tidak terjadi pekerjaan yang tumpang tindih.
“Keinginan kami sebenarnya sejak tahun lalu kawasan ini dibereskan secara menyeluruh. Namun karena ruas Ahmad Yani sampai Asia Afrika merupakan koridor BRT, maka penataannya harus berjalan bersamaan dengan proyek tersebut,” ujar Farhan saat meninjau penataan Simpang Lima, Jumat (10/7/2026).
Menurut Farhan, pembangunan BRT saat ini masih memasuki tahap pembangunan halte dan sosialisasi kepada masyarakat. Setelah tahapan tersebut selesai, pemerintah akan melanjutkan dengan perbaikan jalan sekaligus penataan kawasan secara terpadu.
Ia pun meminta masyarakat bersabar karena revitalisasi koridor Jalan Ahmad Yani, Jalan Asia Afrika, Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan Otto Iskandardinata (Otista) akan dikerjakan secara terintegrasi sebagai bagian dari proyek BRT.
Sementara itu, penataan yang sedang dilakukan difokuskan pada kawasan cagar budaya di sekitar Simpang Lima. Pemkot Bandung mulai merapikan bagian depan sejumlah bangunan bersejarah, termasuk Gedung Pensil dan Gedung Vigano, agar tampil lebih tertata dan menarik.
Selain mempercantik wajah kawasan, petugas juga membersihkan tumpukan sampah serta menertibkan area yang selama ini kerap digunakan sebagai tempat tinggal oleh gelandangan dan pengemis (gepeng) maupun warga tanpa tempat tinggal.
“Sekarang bagian depannya rapi dulu. Simpang Lima ini dikelilingi banyak bangunan cagar budaya, jadi harus kita jaga dan percantik,” katanya.
Untuk meningkatkan kenyamanan masyarakat, Pemkot Bandung juga berencana menambah fasilitas ruang publik berupa bangku di sejumlah titik trotoar serta memasang lampu dekoratif sehingga kawasan tersebut semakin nyaman dinikmati warga maupun wisatawan.
Di sisi lain, sebuah tiang reklame yang menempel pada salah satu bangunan cagar budaya akan dibongkar secara hati-hati agar tidak merusak struktur bangunan bersejarah.
Menjelang pelaksanaan Festival Asia Afrika, Pemkot Bandung juga menyiapkan rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas jalan. Pengalihan arus akan diberlakukan di kawasan Jalan Naripan, Jalan Sunda, Jalan Asia Afrika, Jalan Sukarno hingga Jalan Braga.
Lokasi parkir akan dipusatkan di kawasan Cikapundung dan Naripan. Kegiatan festival dijadwalkan dimulai pukul 08.00 WIB dengan pawai hingga sekitar pukul 11.00 WIB, kemudian dilanjutkan berbagai rangkaian acara di kawasan Braga dan Jalan Sukarno.
Farhan menegaskan, Pemkot Bandung tidak akan memberikan ruang bagi praktik parkir liar maupun aksi premanisme selama festival berlangsung. Petugas akan menindak tegas pelaku pungutan liar maupun oknum yang memaksa meminta uang parkir kepada pengunjung.
“Kalau ada parkir liar langsung kita tindak. Kalau ada yang melakukan pungutan liar atau mengetok parkir kendaraan juga langsung kita tindak,” tegasnya. (M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.