METRUM
Jelajah Komunitas

Puasa sebagai Media Evaluasi

Oleh Dr. Tatang Muttaqin*

SUBSTANSI kehidupan manusia bukan hanya terletak pada kesempurnaan jasmaniah semata sebagaimana hewan, akan tetapi hidupnya semua organ tubuh jasmaniah dan ruhaniah manusia secara simultan dan harmonis. Organ tubuh manusia sebagai suatu sistem memiliki suatu pusat pengatur utama atau sejenis traffic management center, yaitu hati.

Hal ini sesuai apa yang disabdakan paduka Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Ketahuilah sebenarnya dalam diri manusia ada segumpal daging, apabila gumpalan daging itu baik maka baiklah seluruh amalnya, dan apabila segumpal daging itu rusak maka rusaklah semua amalnya. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah hati”.

Tatang Muttaqin (Dok.Pribadi).*

Sebagai faktor penentu, maka berfungsinya organ tubuh manusia dala wujud sikap perilaku sangat ditentukan oleh berfungsinya atau tidak berfungsinya hati. Karena demikian pentingnya peran hati tidaklah berlebihan apabila Allah SWT memerintahkan orang-orang yang beriman untuk selalu memelihara dan menghidupkan hati, dan malapetaka yang paling besar adalah mati dan tidak berfungsinya hati.

Setidaknya ada enam karaktetistik hati yang hidup, yaitu: Pertama, hati yang sensitif terhadap asma Allah dan ayat-ayat-Nya. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Al-Quran: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keyakinan mereka dan hanya kepada Allah-lah mereka menyandarkan diri” (QS 8:2). Kepekaan terhadap asma Allah akan mampu memupuk rasa dekat dan cinta kepada-Nya sehingga akan senatiasa berusaha menggali dan mengeksplorasi ayat-ayat-Nya sebagai wujud rindu pada-Nya serta dibarengi dengan sikap menyandarkan diri hanya pada-Nya atau tawakal.

Kedua, hati yang tunduk pada Allah danRasul-Nya. Hati yang hidup hanya tunduk dan patuh kepada suatu perbuatan yang tidak bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman: “Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya apabila mengajak kamu kepada yang memberi kamu kehidupan, dan ketahuilah bahwa Allah berada antara manusia dan hatinya, dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dihimpun kembali” (QS 8:24).

Ketiga, hati yang ikhlas dalam mengabdi kepada Allah. Hati yang hidup merupakan hati yang fungsional, yang terhindar dari segala gangguan dan penyakit sehingga akan menjadi jernih dan bening (qalbunsalim). Allah berfirman: “Katakanlah, sesungguhnyashalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku, dan aku adalah orang yang pertama menyerahkan diri”. (QS 6:162-163).

Keempat, tegas kepada para penolak kebenaran dan penyayang terhadap ketundukan. Sikap ini dapat diteladani dari sikap dan perilaku Rasulullah bersama sahabatnya yang diabadikan Allah dalam surat Al-Fathayat 29, yaitu: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah tegas terhadap para penolak kebenaran dan penyayang sesama muslim”.  Kelembutan dan kasih sayang akan melahirkan kekuatan solidaritas dan persatuan kesatuan kelompok yang dibarengi dengan sikap tegas dan konsisten dalam menghadapi kemunkaran-kemunkaran sehingga semuanya tetap ada dalam cinta pada-Nya.

Kelima, hati yang takut pada Allah. Hati yang hidup akan senantiasa merasa dekat dengan Allah sehingga akan merasa takut dan segan untuk melanggar aturan-Nya, dan sebagai tanda takut kepada Allah adalah selalu berusaha mempersiapkan diri untuk kembali kepangkuan-Nya dengan hati yang bersih dan taubat. Hal ini sejalan dengan firman Allah: “… Yaitu orang-orang yang datang kepada Allah yang Maha Penyayang sedang Dia tidak kelihatan oleh mereka, dan mereka kembali dengan hati yang bertaubat” (QS 50:33).

Keenam, tenang dan lapang dada. Hati yang hidup akan selalu dipenuhi ingat kepada Allah sehingga akan tumbuh rasa tentram dan tenang dalam menghadapi tantangan dan lapang dada dalam menghadapi berbagai masalah dan musibah (QS 13:28).

Keenam karakteristik tersebut tentunya tidak akan muncul dan ada dalam diri kita begitu saja dengan cara sim-salabim sehingga perlu usaha yang sungguh-sungguh dengan penuh kesadaran, kesabaran dan keseriusan yang berkesinambungan dan Ramadan merupakan saat yang paling tepat karena bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh kesempatan untuk melatih diri menuju takwa kepada Allah.

Dengan intensitas ibadah yang tinggi dan tuntutan kepedulian sosial yang lebih tajam maka sangatlah tepat apabila momentum ramadhan ini dijadikan wahana untuk melatih dan menghidupkan hati.

Kehidupan modern dengan segala kompleksitas permasalahan yang  ihadapi semakin menempatkan aspek material sebagai tolok ukur keberhasilan telah membawa manusia pada kehampaan dan kegersangan hati yang pada titik kulminasinya dapat mematikan fungsi hati. “Kematian” hati pada manusia merupakan malapetaka yang sama dahsyatnya dengan kematian manusia itu sendiri, bahkan lebih berbahaya karena hati merupakan faktor penentu sistem organik manusia yang hakiki.

Agama Islam sangat peduli terhadap usaha untuk menghidupkan dan memfungsikan hati melalui ritus-ritus keagamaan yang berdimensi sosio-psikologis. Dan moment yang paling banyak kesempatan untuk menghidupkan hati adalah momentum ramadhan melalui syaum, shalat tarawih, tadarus, i’tikaf, zakat fitrah dan ibadah lainnya.

Dengan tidak makan dan minum serta perbuatan yang membatalkan lainya di siang hari, maka kita akan merasakan lapar dan dahaganya tidak makan dan minum sehingga mampu meningkatkan kepekaandan rasa solidaritas yang akan mampu menumbuhkan sikap rendah hati dan kepatuhan kepada Allah Dzat Yang Maha Kuasa secara sadar dan ikhlas. 

Rasa lapar dan dahaga secara jasmaniah akan sangat kondusif untuk melatih kesadaran berempati terhadap saudara-saudara kita yang kurang beruntung dan berkekurangan, dan dengan rasa lemahnya tubuh kita maka akan mampu mengurangi keangkuhan diri dan kesombongan jiwa serta mampu menumbuhkan rasa takut yang dibarengi cinta kepada Allah dan mengasihi sesama. Dengan adanya pengaturan waktu dalam berpuasa akan meningkatkan kedisiplinan dan ketegasan.

Intensitas ibadah dan membaca firmannya di bulan Ramadan akan menumbuhkan ketentraman batin yang akan mempermudah kita dalam menangani berbagai problematika kehidupan yang selalu menghimpit manusia sehingga tercipta kelapangdadaan dan kesabaran yang tulus. Semuanya akan membantu usaha untuk menghidupkanhati kita yang selama ini kurang terperhatikan karena tersibukkan dengan pemenuhan kebutuhan dan keinginan bahkan keserakahan material yang tidak akan pernah ada habisnya.

Pada akhirnya seberapa banyak-pun kesempatan yang Allah berikan kepada kita, tetaplah akan sangat tergantung pada kemauan dan usaha kita yang telah diberi kebebasan untuk memilih, dan di sanalah salah satu kesejatian manusia kebebasan yang berkonsekuensi tanggungjawab. Apakah kita mampu mengoptimalkan kesempatan Ramadan tahun ini yang sangat bisa jadi di tahun depan kita tidak memiliki kesempatan untuk menikmatinya. Semoga kita mampu mengoptimalkan bulan yang penuh berkah ini.***

* Menyelesaikan PhD di Universitas Groningen Belanda dan Executive Education di Universitas Harvard, serta Ketua Pembina TK Siti Masitoh Jayaraga, Garut.

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: