METRUM
Jelajah Komunitas

Saat Ramadan, Busana Muslim dan Buah Kurma Jadi Primadona

HIRUK pikuk pembeli dan ­pedagang di pusat perbelanjaan lebih dari bulan-bulan biasanya menandakan datangnya bulan ­Ramadan. Tak hanya kebutuhan pokok, busana Muslim dan ­penganan khas puasa seperti kurma menjadi kebutuhan yang diincar ­pada bulan yang penuh berkah ini.

Dilansir dari Pikiran Rakyat Senin, 6 Mei 2019, Sudah menjadi tradisi umat ­Islam di Indonesia ketika me­nyam­but Ramadan, masya­rakat mulai banyak yang membeli busana Muslim. Mereka biasanya mempersiapkan busana terbaik untuk ber­ibadah selama bulan Puasa dan Lebaran.

Oleh karena itu, pusat perbelanjaan dan pertokoan yang menyediakan busana Muslim dan perlengkapannya mulai ramai diserbu pembeli. Pedagang pun telah memprediksi akan terjadi lonjakan permintaan sehingga mereka telah memperbanyak stok beberapa bulan sebelum Ramadan.

Kalangan ekonomi menengah-atas biasanya memilih merek-merek premium dengan desain dan motif yang terbatas. Salah satu merek busana Muslim terkenal, Shafira misalnya, mempersiapkan 50 desain baru untuk para pelanggan dalam menyambut Ramadan.

Ahmad Rohman, Project Manager New Concept Shafira menyebutkan, peningkatan penjualan di 21 toko Shafira di seluruh ­Indonesia mulai terasa sejak sepekan sebelum bulan Puasa. Penjualan tertinggi sebesar 40% disumbang oleh toko-toko di Jawa Barat, terutama Cirebon, Bandung, dan Bogor.

Menurut dia, pada bulan-bulan biasa atau low season, penjualan setiap toko berkisar 500-1.000 helai per bulan. Namun, selama bulan Puasa, penjualan bisa mencapai rerata 2.000 helai di setiap toko. ”Tahun lalu pe­ningkatan penjualan 20% pada bulan Ramadan. Tahun ini kami menargetkan kenaikan 30%,” ucapnya, Jumat (3/5/2019).

Namun, ceruk pasar yang paling besar adalah produk-produk untuk kalangan menengah ke bawah. Para pedagang kecil atau usaha mikro, kecil, dan menengah ­menjadi yang paling banyak memanfaatkan momen Ramadan untuk meraup untung lebih besar.

Di Kota Bandung, misalnya, pusat per­belanjaan Pasar Baru sudah diserbu pembeli sejak awal April 2019. Para produsen yang memasok untuk toko-toko di Pasar Baru ­sudah menerima lonjakan permintaan barang sejak awal tahun 2019.

Salah satu UMKM yang menyuplai busana Muslim ke Pasar Baru adalah merek Kapake by Iyank asal Kota Bandung. Pemilik merek Kapake, Riani Karmila, mengaku sudah ­mengalami lonjakan omzet hingga 80% sejak tiga bulan lalu.

”Jauh hari di bulan biasa, paling omzet se­kitar 400 helai per bulan. Sejak tiga bulan lalu sampai sekarang bisa mencapai 1.000 helai per bulan dengan omzet Rp 50 juta-Rp 100 juta per bulan,” ucapnya.

Di Pasar Baru, para pembeli berdesakan ­untuk membeli busana Muslim dan perlengkap­annya. Mereka bukan hanya warga Kota Bandung, tetapi juga dari luar kota dan negeri tetangga, yaitu Malaysia dan Singapura. Ada yang membeli dalam partai besar ataupun secara eceran.

Toko Asia Batik yang pada bulan biasa menjual baju batik, sejak sebulan lalu mengganti produknya dengan baju koko karena melihat potensi pasar yang besar. Irma, karyawan toko, menyebutkan, omzet penjualan baju koko saat Ramadan bisa lebih dari dua kali ­lipat penjualan batik pada bulan biasa.

Impor

Harian Nasional

Tak hanya busana Muslim, kurma yang menjadi penganan khas selama bulan Puasa pun mengalami peningkatan permintaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, salah satu barang impor konsumsi yang melonjak adalah kurma.

Sepanjang Maret 2019, impor kurma segar dan kering mencapai 19 juta dolar AS. Jumlahnya jauh lebih rendah dari nilai impor kurma pada Januari-Maret 2018 yang mencapai 33,3 juta dolar AS. Namun, impor kurma menjelang Ramadan 2019 masih lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018 sebesar 17,3 juta dolar AS.

Penurunan permintaan masyarakat terhadap kurma lebih dirasakan oleh para pedagang musiman yang menjajakan di pinggir jalan. Sementara itu, pedagang kurma reguler seperti di Pasar Baru tetap mengalami ­peningkatan penjualan.

Hal itu seperti dialami Ahmad Solehudin, pemilik Toko Arfa yang menjual perlengkapan haji dan kurma di Pasar Baru. Ia mengaku menjual empat jenis kurma. Kurma mesir seharga Rp 35.000/kg, kurma saudi Rp 30.000-Rp 40.000/kg, kurma tunisia Rp 70.000-Rp 100.000/kg, dan kurma ajwa Rp 300.000/kg.

”Peningkatan di bulan Puasa biasanya sekitar 10%-15% dari bulan biasa. Kalau bulan ­biasa, pembelinya yang mau umrah atau haji. Mereka beli kardusan (10 kg per kardus). Kalau bulan Puasa, plus pembeli eceran per kilogram,” tuturnya.

Menurut dia, kurma yang paling laku adalah kurma mesir dan saudi sekitar 50% karena harganya relatif murah. Selanjutnya, diikuti kurma tunisia dan kurma ajwa yang harganya cukup mahal.

Secara umum, permintaan busana Muslim ataupun kurma akan mencapai puncaknya ­pada pekan kedua Ramadan. Pasalnya, pada pertengahan bulan Puasa, para pekerja sudah menerima uang tunjangan hari raya (THR) atau bonus dari perusahaan. (Sumber: Asep ­Budiman/”PR”, M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.