Tradisi Berlanjut, KDS Salurkan Kain Kafan untuk Warga Sambut Tahun Baru Islam
KABUPATEN BANDUNG (METRUM) – Bupati Bandung Dadang Supriatna kembali melanjutkan tradisi membagikan ribuan lembar kain kafan kepada masyarakat pada malam Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah. Tradisi yang telah berlangsung sejak dirinya menjabat Kepala Desa Tegalluar itu disebut sebagai bentuk kepedulian sekaligus pengingat akan hakikat kehidupan dan kematian.
Pembagian kain kafan akan dilaksanakan di Dome Balerame Soreang, Jalan Raya Al Fathu, Kabupaten Bandung, Senin (15/6/2026) malam dan didistribusikan kepada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), pengurus RT/RW, kepala desa, hingga berbagai elemen masyarakat di Kabupaten Bandung. Program tersebut diharapkan dapat membantu warga ketika membutuhkan kain kafan secara mendesak sekaligus menjadi sarana refleksi menyambut tahun baru Hijriah.
KDS menepis anggapan bahwa tradisi tersebut berkaitan dengan hal-hal mistis. Menurutnya, pembagian kain kafan justru mengandung pesan spiritual agar masyarakat senantiasa mengingat kehidupan akhirat dan meningkatkan amal kebaikan.
“Pembagian kain kafan ini bukan mistis, melainkan wujud kepedulian sekaligus pengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi kematian. Hidup di dunia hanya sementara. Dengan mengingat kematian, kita diharapkan lebih giat beramal, berbakti kepada orang tua, serta menjaga kebersamaan,” ujar Dadang Supriatna.
Ia berharap momentum 1 Muharam menjadi titik awal bagi masyarakat untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik, memperkuat keimanan, serta mempererat tali silaturahmi di tengah berbagai tantangan kehidupan.
“Kalau kita selalu ingat bahwa suatu saat akan dibungkus kain kafan, maka hidup akan lebih hati-hati dan penuh pertimbangan. Itulah pesan moral yang ingin disampaikan,” katanya.
KDS juga mengungkapkan asal mula tradisi tersebut. Gagasan membagikan kain kafan lahir dari pengalaman pribadinya saat melayat ke rumah seorang warga ketika masih menjabat sebagai Kepala Desa Tegalluar. Saat itu, keluarga almarhum kesulitan memperoleh kain kafan sehingga proses pemakaman harus tertunda.
“Saat itu jenazah sudah cukup lama menunggu untuk dikafani. Ketika saya tanyakan kepada keluarganya, ternyata mereka masih berusaha mencari penjual kain kafan. Dari pengalaman itulah muncul keinginan untuk membagikan kain kafan kepada masyarakat setiap malam Tahun Baru Islam agar kebutuhan tersebut selalu tersedia saat diperlukan,” tutur KDS.
Melalui tradisi yang terus dipertahankan setiap tahun, Pemkab Bandung berharap masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat secara langsung, tetapi juga menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum introspeksi diri, memperkuat nilai-nilai keagamaan, dan menumbuhkan semangat kepedulian terhadap sesama. (M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.