METRUM
Jelajah Komunitas

Universitas Pasundan, Gramedia, dan Al@s Gelar Diskusi Buku “Bungkam Suara” Karya JS Khairen

KOTA BANDUNG (METRUM) – Universitas Pasundan (Unpas), Gramedia, dan Grasindo menggelar Book Discussion: Bungkam Suara, a Political Fantasy karya JS Khairen pada Jumat, 13 Januari 2022 pukul 15.00 WIB di Auditorium Fakultas Hukum Universitas Pasundan. Acara dihadiri puluhan pelajar SMA dan mahasiswa se-Kota Bandung. Kegiatan diskusi buku ini juga didukung oleh Alumni @School (Al@s) dan Clinical Legal Education Unpas. 

Kegiatan diawali penandatanganan kerjasama antara Fakultas Hukum (FH) Unpas yang diwakili langsung oleh Dekan FH Unpas Dr. Anthon F. Susanto, S.H., M.Hum dengan Gramedia yang diwakili Pimpinan Gramedia Wholesale Bandung Andyka Yuni Prabowo, S.E dan Al@s yang diwakili dr. Ridwan Gustiana, M.Sc., IPHA.

Dekan FH Unpas Dr. Anthon F. Susanto, S.H., M.Hum dan Pimpinan Gramedia Wholesale Bandung Andyka Yuni Prabowo, S.E. (Foto: Dok. Al@s).*
Dekan FH Unpas Dr. Anthon F. Susanto, S.H., M.Hum dan perwakilan Alumni @School (Al@s) dr. Ridwan Gustiana, M.Sc., IPHA setelah menandatangani kesepakatan kerjasama. (Foto: Dok. Al@s).*

Acara dibuka oleh Wakil Dekan 1 Fakultas Hukum Universitas Pasundan Hj. Rd. Dewi Asri Yustia. Dalam sambutannya, Dewi antusias menyambut puluhan pelajar SMA dan mahasiswa di Kota Bandung yang hadir dalam diskusi buku ini. “Selamat mengikuti kegiatan dari penulis yang tidak asing lagi bagi anak-anak SMA. Sinopsisnya bagus, menjadi inspirasi supaya tidak bersentuhan dengan hukum,” ungkap Dewi. 

Dewi juga memberikan informasi kepada para peserta diskusi tentang penandatanganan surat kesepakatan yang telah dilakukan dengan Gramedia dan Al@s untuk meningkatkan kualitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (P2M) Unpas. 

Wakil Dekan 1 Fakultas Hukum Universitas Pasundan Hj. Rd. Dewi Asri Yustia. (Foto: Dok. Al@s).*

Selanjutnya, Ridwan Gustiana yang akrab disapa Kang Jack memberikan sambutan dari gerakan Al@s. Menurut Ridwan, tujuan Al@s adalah menggerakkan alumni sekolah untuk kembali ke sekolah dan mendidik soft skill. Kerja Al@s fokus pada penjangkauan dan dimulai sejak 2021. 

Kang Jack yang bekerja sebagai dokter di UNICEF Bangkok, menyadari bahwa pengembangan soft skill itu penting. “Indonesia memiliki 30% populasi orang muda. Saatnya berkontribusi ke sekolah sebagai alumni untuk membangun literasi sebagai fondasi pengembangan diri,” tutur Kang Jack.

Diskusi buku dipandu Yokeu dari Gramedia yang bertindak sebagai MC sekaligus moderator di kegiatan ini.

Seberapa penting menjadi seorang penulis? 

Perjalanan menulis JS Khairen diawali saat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kampusnya mengundang seorang penulis yang memantik motivasi untuk para penulis pemula untuk mulai menulis. Khairen saat itu bertanya, “Bagaimana caranya menjadi penulis?” Lalu si penulis menjawab, “Bisa loe temuin gua nanti.“ Sejak itu, perjalanannya dimulai.

Khairen memperkenalkan beberapa karya novelnya. Salah satu yang populer adalah Kami Bukan Sarjana Kertas. Cerita Bungkam Suara berlatar tempat di sebuah negara tetangga Indonesia yang tidak terlihat di peta. Ceritanya dibuat secara komedi, hasil berguru kepada Raditya Dika, Dee Lestari, dan berbagai tokoh penulis lain.   

“Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, satu buku bisa menembus banyak kepala. Kita enggak tahu kalau tulisan kita akan mengubah dunia. Itulah kejadian yang diingat terus…. Apa yang kita lakukan, saat ketemu pembaca yang tepat, akan mendorong perubahan yang deras. Bahkan, ada seseorang yang bisa mendapatkan pacar setelah membaca buku saya. Orang bisa terpengaruh sebegitunya,” kata Khairen. 

Peserta diskusi buku serius menyimak pemaparan JS Khairen. (Foto: Dok. Al@s).*

Selain itu, ada seorang anak yang batal bunuh diri setelah membaca buku dari Khairen. Dalam tulisannya, Khairen memberikan prank pada motivator.    

Pada tahun 2025, akan ada bonus demografi di Indonesia. Talenta yang akan menang memiliki intuisi, kepemimpinan, jejaring, dan aktif membaca. Luangkan membaca satu buku fiksi dan satu buku non fiksi per bulan. 

Mengutip dari film Game of Thrones, Khairen menceritakan tentang kurcaci yang kakaknya memiliki pedang panjang dan berkata, “Pedang saya adalah pikiran saya dari buku yang saya baca.” 

Yokeu selaku moderator diskusi memantik diskusi dengan pertanyaan mulai dari bagaimana memulai dan menuangkan isi pikiran, hingga proses menulis sebuah buku. 

JS Khairen menceritakan peristiwa 10 tahun lalu. Saat menulis skripsi, ikut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik yang dikenal high class. Namanya Ekonomika, Mereka merekrut seorang Office Boy (OB). Ia sosok yang humble dan UKM menjadi anomali dengan membuat novel tentang mas Karno, OB mereka, untuk digali kisahnya, ditulis dan diarsipkan. 

“Ciptakan karakter yang bisa dibenci sekaligus disayang. Ada saat dibenci, ada saat disayang. Jangan berhenti untuk terus belajar. Ikuti berbagai kelas daring dari ahli menulis. Dan akhirnya, akan menemukan pola menulis sendiri,” tuturnya.

Karyanya meledak di novel ke-8 Saya Bukan Sarjana Kertas. Bahkan, tahun 2023 ini Khairen menandatangani kontrak novel tersebut menjadi film layar lebar. 

Diawali riset

Menurut Khairen, pola menulisnya diawali dari riset. Ide yang ditemukan kemudian diubah menjadi kerangka.

Misalkan tentang energi terbarukan, serta Bandung dan Sumba. Empat mahasiswa dari satu kampus tinggal di Sumba. Selama tiga bulan, Khairen tinggal di Kampung Raja. Suasananya seperti megalithikum. Muncul ide cerita seperti ketemu mafia. Khoiren mengadu imajinasi, pengalaman, dan keresahan. Mafia melawan untuk memakai energi terbarukan. “Itu seru deh,” tukasnya.  

“Riset, imajinasi, kerangka, dan turun lapangan adalah empat tahapan penting dalam menulis,” ucapnya. 

Sebagai penulis, Khairen pernah mengalami penolakan dan lelah. Ia berkomitmen disiplin menulis. Dalam perjalanan kereta Argo Parahyangan ke Bandung. Khairen membiasakan menulis di gawai, di laptop, di mana saja. “Nulis sudah harus kayak nafas, pagi adalah waktu terbaik untuk mengerjakan tugas terberat…Bangun pagi itu full senyum dan tidak ada gangguan,” jelasnya. 

Sesi tanya-jawab

Di awal sesi tanya jawab, seorang peserta bertanya tentang tips menulis. Khairen menjelaskan Pertama, mencatat ide segera saat muncul. Penting untuk merekam dan mencatat. Di saat menulis dan merasa membutuhkan ide, kita bisa membuka bank ide dari catatan.

Kedua, rajin membaca. Mencoba baca banyak judul buku. Contohnya Raditya, ia adalah pembaca gigih. Perlu juga untuk membaca buku anak. Salah satu yang pernah Khairen baca adalah “apa ya?” untuk mengasah imajinasi menjadi ide cerita. Membaca membantu seseorang menghubungkan ide menjadi hal yang serius dan keren. Membaca membuka banyak kemungkinan dan menjadi komitmen sebagai penulis.

Sesi tanya-jawab (Foto: Dok. Al@s).*

“Temukanlah ceritamu sendiri,” imbuhnya. 

Seorang peserta diskusi Nurhayati memberikan dua pertanyaan, pertama tentang bagaimana jika mendapat ide baru justru saat menulis satu novel, apa yang bisa dilakukan? Khairen menjawab bahwa penerbit tidak mendikte penulis. Editor memeriksa struktur, logika, dan ejaan. Carilah penerbit yang mau dengan ide cerita yang kita buat.

Pertanyaan kedua, ketika menulis menjadi profesi dan diri tidak suka dengan tuntutan, seberapa penting menulis dengan hati? Khairen menjelaskan, ketika ide lain muncul saat sedang menulis sebuah karya, seseorang boleh tetap fokus maupun pindah. Hati-hati, bisa saja bahasa cerita yang sedang ditulis jadi bercampur. Fokus dulu pada yang dikerjakan. 

Sementara menjawab pertanyaan dari Siti Amina, Khairen menerangkan bahwa semua orang bisa jadi manager. Namun tidak semua mahasiswa FEUI bisa menjadi penulis. “Menjadi penulis adalah titik penting dalam kehidupan saya,” katanya. 

Kenapa Khairen fokus pada menulis fiksi? Semua orang bisa membaca karya fiksi. Hal yang penting adalah menjadi ringan dan renyah. Itulah kenapa ia memilih novel.

“Kita menciptakan air yang bisa diminum semua orang, itulah alasan saya memilih menulis novel,” imbuhnya.

Khairen gemar membaca buku yang sesuai dengan apa yang ingin dipelajari. Menjawab pertanyaan berikutnya, Khairen mengomentari, “semakin bahasa kamu rumit, semakin sulit menulis”. 

Khairen kemudian menantang beberapa peserta untuk menjelaskan apa itu uang kepada anak. 

(Foto: Dok. Al@s).*

Ada pertanyaan mengenai formula dalam menulis. Formula menulis diawali dari membuat kerangka karakter yang disebut character bible. Hal yang dituliskan termasuk latar belakang dan sebagainya. Unsur dalam karya tidak boleh punya kemiripan. Setiap karakter itu unik. Carilah cara untuk membuat cerita fresh. Buat daftar, cari tahu, dan buat sesuatu yang tidak ada di sana. 

Kalau ada kemiripan, karya tidak akan terbit. Penulis yang kaku tidak bertahan lama. Dan yang menjadi ciri khas Khairen adalah cara menulis yang berbeda untuk setiap novel. 

Salah-satu proses karya yang menarik adalah saat adegan pemilihan rektor. Ternyata ada mafianya. Latarnya di Kampus Udel, yang Khoiren ubah menjadi cerita fiksi. Ada main-mainnya.  

Sesi penandatanganan buku (Foto: Dok. Al@s).*

Hal menarik lain saat menulis tentang Negara Kesatuan LOLnesia menjadi Lawaknesia. Plotnya tentang politik negara. Awalnya naskah mau dibuang karena merasa minder. Khairen pertama kali minder menulis di karya ke-16. Menurutnya, cerita politik Indonesia lebih rame daripada cerita politik yang ia tulis. 

Yang paling unik bagi Khairen justru saat melangkah ke Sumba. Menyaksikan Asian Games, dan mengikuti Kejurnas Silat. Pada waktu itu ia kalah banting dengan mahasiswa dari UIN Jakarta. 

Di dalam ceritanya ada peristiwa “hari bebas bicara”. Setiap orang menunggu giliran, dan pasti kena. Dalam sebuah agensi, ada strategi saat orang terkenal cancel di media sosial. Resikonya informasi disebar dan dihujat rame-rame. “Yang saya lakukan adalah mengubah bentuknya menjadi jus mangga. Semua hal bisa di-frame sesuka hati,” katanya.

Sesi Foto bersama (Foto: Dok. Al@s).*

Di akhir kegiatan, seluruh peserta kegiatan foto bersama dan ada sesi penandatanganan buku langsung oleh JD Khairen. Peserta kemudian diundang untuk mengikuti serangkaian kegiatan rilis buku yang diadakan oleh Gramedia di Merdeka Creative Center pada 10-15 Januari 2023. (RK)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: