METRUM
Jelajah Komunitas

Zoom Fatigue: Mengapa Kita Mengalaminya?

ZOOM Fatigue secara sederhana berarti merasa lelah, cemas, dan khawatir yang disebabkan oleh aplikasi-aplikasi konferensi video seperti Zoom. Menjalani meeting online biasanya tidak menguras begitu banyak tenaga, namun sejak wabah Corona kita menghabiskan hampir keseluruhan dari hari kita di depan layar dalam sebuah konferensi online. Lalu apa yang menyebabkan Zoom Fatigue ini? Ada beberapa alasan.

1. Hilangnya Komunikasi Non-Verbal

Mungkin Anda tidak menyadarinya, namun setiap kali Anda berbincang dengan seseorang, otak Anda membaca dan menerima berbagai tanda komunikasi non-verbal. Seperti bahasa tubuh dan ekspresi wajah. Kita sudah membiasakan diri dari kecil untuk membaca tanda-tanda non-verbal tersebut, namun dalam sebuah konferensi online banyak dari komunikasi non-verbal tersebut hilang. Sehingga kita harus mengeluarkan tenaga lebih banyak untuk menebak apakah yang kita katakan diterima baik oleh lawan bicara atau tidak.

2. Jeda Antara Pembicara Dan Pendengar yang Merusak Irama Komunikasi

Tentunya bagi siapapun yang pernah menggunakan Zoom, jeda tersebut bisa jadi beberapa detik antara pembicara dan walaupun terasa tidak terlalu lama, otak kita tidak bisa mengabaikannya.

Berkomunikasi secara berirama adalah sesuatu yang kita pelajari sejak kecil, dimulai saat masih bayi. Ketika kita bergerak sebagai respons terhadap kata-kata yang diucapkan kepada kita.

Ritme dalam berkomunikasi ini dikenal oleh saintis/ilmuwan sebagai sinkronisasi. Ketika terjadi jeda saat berkomunikasi, otak kita secara tidak sadar membaca jeda tersebut sebagai lawan bicara mulai kehilangan minat atau lawan bicara bersikap tidak ramah. Secara tidak sadar kita berusaha sebisa mungkin untuk kembali sinkron sehingga menyebabkan kelelahan.

3. Konferensi Online Memicu Respon “Fight or Flight”

Kita secara tidak sadar memiliki respon yang negatif terhadap wajah-wajah yang terlalu besar atau terlalu dekat. Apalagi jika disertai kontak mata yang terlalu lama. Wajah-wajah tersebut memicu respon “Fight or Flight” dalam otak kita, yaitu respon yang muncul ketika kita merasa terancam dan terdorong untuk membalasnya antara dengan melawan ancaman atau kabur darinya.

Jika Anda mengikuti berita, pasti sadar bahwa pandemi ini sepertinya akan berlangsung lebih lama lagi. Jadi apa saja yang bisa kita lakukan untuk mengurangi Zoom Fatigue? Jawaban yang paling jelas adalah sebisa mungkin kurangi menggunakan Zoom. Gunakan aplikasi untuk bekerja sama yang tidak memerlukan konferensi video.

Namun kita juga mengerti bahwa masyarakat tidak bisa menghindari konferensi video sepenuhnya. Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk mengurangi Zoom Fatigue adalah dengan mengurangi hal-hal yang dapat membuat otakmu lelah. Misalnya kurangi jumlah orang yang terlihat di layar untuk mengurangi stimulasi berlebihan.

Matikan videomu sendiri juga jika tidak diperlukan. Apabila waktu beristirahat, gunakan waktu tersebut untuk melakukan aktifitas fisik atau berolah raga ringan. Minum air putih dan berbincang dengan keluarga jika ada. Pernyataan ini terdengar klise, tapi manusia memang benar-benar makhluk sosial dan pandemi ini telah membuktikannya. Meskipun kita tetap berbicara dengan teman, rekan kerja, dan kerabat kita tetap merasa ada sesuatu yang hilang.

Tentunya Zoom dan platform konferensi video lainnya sangat berjasa dalam mempertahankan keberlangsungan dari pekerjaan dan pendidikan banyak orang. Namun sama seperti banyak hal jika kita menggunakannya terlalu sering, pada akhirnya kita muak.

Jika Anda seorang bos atau guru, Anda bisa membantu meringankan beban dari karyawan dan murid-murid Anda dengan mengurangi konferensi video sebisa mungkin dan menggunakan alternatif untuk membuat proses kerja dan belajar tidak monotone. Untuk lainnya, luangkan waktu untuk melepaskan diri dari layar sepenuhnya, tetap menjaga kesehatan fisik dan mental. (Matthias Ekaputra W./JT) ***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: