METRUM
Jelajah Komunitas

Khilaf, Kata Sakti yang Mudah Diterima Orang

Oleh Muhammad Fadli Sinatrya*

SEORANG anggota geng motor yang kerap meresahkan masyarakat, berjalan petantang petenteng dengan penuh percaya diri seolah dirinya lah penguasa jalanan, ketika ditangkap oleh polisi dengan sejumlah barang bukti yang digunakan untuk melukai korbannya. Ketika pelaku dicecar pertanyaan pihak berwenang, jawaban yang terlontar dari mulut anggota geng motor tersebut adalah “Saya khilaf Pak.“

Saat pejabat publik turun dengan mobil mewahnya sambil tersenyum kepada wartawan ketika ia diborgol dan memakai rompi oranye menuju gedung KPK yang berada di daerah Jakarta. Para wartawan yang hadir menanyakan mengapa ia merampas uang publik? Lalu ia menjawab dengan tenang sambil sedikit tersenyum “Saya khilaf.”

Atau ketika saat persidangan ketika seorang suami melakukan tindakan kekerasan kepada istrinya dengan menjawab panjang lebar pertanyaan dari Hakim, lalu ketika muncul pertanyaan yang menyudutkan dirinya dan ia tidak bisa menjawab, lalu ia menjawab dengan ringan “Saya mengaku, saat itu saya khilaf.”

Mengapa saat ini masyarakat ketika melakukan kesalahan dengan mudahnya mengucapkan kata “khilaf”? Padahal, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Khilaf memiliki arti salah (yang tidak disengaja) jadi dalam bahasa Indonesia, Khilaf sendiri memiliki arti sebagai sebuah sesuatu perbuatan yang dilakukan tanpa sengaja. Jika melihat kasus-kasus di atas tentu kesalahan mereka dilakukan dengan sengaja dan sadar.

Namun, yang menjadi permasalahannya saat ini seringkali kata ini hanya digunakan sebagai jawaban dan alasan cepat ketika kita terpojok, seharusnya kata tersebut diucapkan dan berjanji bahwa tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.

Banyak yang menyebut kata khilaf namun, pada akhirnya selalu terulang kembali, lagi dan lagi tanpa adanya penyesalan atas apa yang dilakukan, kata Khilaf seolah merupakan kartu sakti yang orang kira akan diterima dengan baik.

BACA JUGA:  Stiker di Mobil Cerminan Identitas Kelas

Khilaf bukan hanya sebagai jawaban sementara ketika diri kita terpojok, namun Khilaf merupakan pelajaran yang ke depannya tidak akan kita lakukan kembali. ***

*Penulis, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (UNIBI)

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.