METRUM
Jelajah Komunitas

Kemacetan Jadi Sorotan, Farhan Minta Warga dan Media Awasi Proyek BRT Bandung

KOTA BANDUNG (METRUM) – Proyek pembangunan Bus Rapid Transit (BRT) Kota Bandung mulai menuai sorotan. Kemacetan di sejumlah ruas jalan akibat pekerjaan konstruksi memicu keluhan warga dan membuat citra proyek transportasi massal tersebut masih jauh dari positif.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui Pemkot Bandung telah menerima laporan tertulis terkait berbagai persoalan lalu lintas yang muncul selama pembangunan BRT. Keluhan tersebut, kata dia, sudah terdeteksi sejak 14 Agustus 2026.

“Saya dapat laporan tertulis. Keluhan-keluhan macet ini memang sudah kita deteksi sejak 14 Agustus yang lalu. Ada berbagai alasan dari kontraktor, tetapi buat saya itu bukan alasan. Yang paling penting adalah bagaimana BRT ini benar-benar bisa memberikan manfaat bagi warga Bandung,” ujar Farhan usai menghadiri Bandung Great Sale 2026 di Laswi Heritage, Jumat (21/8/2026).

Farhan mengakui persoalan kemacetan membuat persepsi publik terhadap BRT saat ini cenderung negatif. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Pemkot Bandung untuk memastikan pembangunan tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Sekarang terus terang, mohon maaf pisan, BRT ini masih terpersepsikan sangat negatif di mata warga Bandung,” katanya.

Karena itu, Farhan menegaskan dirinya akan mengawal seluruh proses pembangunan, mulai dari perencanaan, konstruksi hingga nantinya BRT beroperasi.

Ia memastikan Pemkot Bandung bersama pihak terkait akan berupaya membenahi berbagai persoalan yang muncul selama pengerjaan proyek.

Trotoar dan Median Jadi Titik Masalah

Farhan menjelaskan, sejumlah pekerjaan yang dilakukan Dinas Perhubungan Kota Bandung saat ini berkaitan dengan penataan trotoar dan median jalan yang menjadi bagian dari koridor BRT.

Pekerjaan tersebut turut berdampak terhadap kelancaran arus kendaraan di beberapa ruas jalan. Meski meminta masyarakat memaklumi proses pembangunan, Farhan menegaskan pekerjaan tidak boleh dilakukan sembarangan.

BACA JUGA:  Transformasi Digital Bandung: Jaga Layanan, Amankan Data, Bangun Budaya Siber yang Tangguh

“Saya mohon maaf sekali karena menimbulkan kemacetan, tetapi saya akan pastikan pengerjaannya cepat, rapi, dan tidak menimbulkan kecelakaan,” tuturnya.

Pemkot Bandung menargetkan seluruh pembangunan sistem BRT rampung pada 2027. Setelah konstruksi selesai, layanan BRT diharapkan dapat beroperasi penuh tanpa kembali mengganggu lalu lintas akibat pekerjaan fisik.

Rute utama BRT nantinya menghubungkan kawasan strategis mulai dari Alun-alun Bandung, Jalan Sudirman, Rajawali, Stasiun Bandung, Otista, Tegalega hingga kembali ke pusat kota.

Koridor lainnya akan melintasi Alun-alun, Banceuy, Jalan Ahmad Yani, Kiaracondong, Jalan Jakarta, Simpang Lima dan Asia Afrika sebelum kembali ke Alun-alun.

Pada sejumlah ruas tersebut akan diterapkan jalur khusus atau dedicated lane dengan separator untuk memberikan prioritas kepada armada BRT.

Warga Diminta Ikut Mengawasi

Farhan tidak ingin pengawasan pembangunan BRT hanya menjadi urusan pemerintah. Ia justru meminta masyarakat dan media ikut mengawasi pelaksanaan proyek tersebut.

Setiap persoalan, mulai dari kemacetan hingga pekerjaan yang dinilai membahayakan pengguna jalan, diminta segera dilaporkan kepada pemerintah.

“Kalau ada kemacetan atau hal-hal yang tidak memuaskan, laporkan segera. Boleh ke 112, boleh melalui media sosial. Teman-teman wartawan juga silakan mengawasi,” ujarnya.

Menurut Farhan, kritik dan laporan masyarakat dibutuhkan agar proses pembangunan dapat segera dikoreksi ketika ditemukan masalah di lapangan.

“Kami membutuhkan bantuan masyarakat untuk memastikan pembangunan BRT ini memberikan manfaat untuk semua orang,” katanya.

BRT Baru Awal, LRT Jadi Mimpi Berikutnya

Di balik berbagai persoalan pembangunan saat ini, Farhan menegaskan BRT merupakan bagian dari agenda jangka panjang transformasi transportasi publik Kota Bandung.

Jika sistem BRT nantinya berjalan optimal, Pemkot Bandung memiliki ambisi melanjutkan pengembangan transportasi massal berbasis rel ringan atau Light Rail Transit (LRT).

BACA JUGA:  Om Zein Serahkan SK CPNS Formasi 2024: Awal Pengabdian sebagai Aparatur Sipil Negara

“Karena ada mimpi berikutnya, yaitu LRT. Tapi itu nanti. Yang sekarang kita fokus memastikan BRT berjalan baik dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.

Bagi Pemkot Bandung, tantangannya kini bukan sekadar mengejar target konstruksi 2027. Proyek BRT juga harus mampu membalik persepsi publik: dari proyek yang identik dengan kemacetan menjadi sistem transportasi yang benar-benar membuat mobilitas warga lebih cepat, aman dan nyaman. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.