METRUM
Jelajah Komunitas

‘Agar Tak Ada Mimpi yang Terhenti’, IOM ITB Perkuat Gerakan Beasiswa bagi Mahasiswa

KOTA BANDUNG (METRUM) – Ikatan Orang Tua Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (IOM ITB) mengajak para orang tua mahasiswa baru memperkuat semangat gotong royong untuk memastikan tidak ada mahasiswa yang harus menghentikan pendidikan akibat keterbatasan ekonomi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Penyambutan Anggota Baru (PAB) IOM ITB 2026 yang digelar di Aula Barat ITB pada Rabu (5/8/2026), mengusung tema “Agar Tak Ada Mimpi yang Terhenti.”

Kegiatan tersebut menghadirkan Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara, CEO Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute (NSEI) Paragon Corp Salman Subakat, Ketua IOM ITB Hendro Setyanto, serta dimoderatori dosen Teknik Metalurgi ITB Imam Santoso. Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto memberikan sambutan secara virtual.

Dalam pesannya, Brian Yuliarto yang merupakan alumni Teknik Fisika ITB angkatan 1994 sekaligus pernah menjadi penerima beasiswa IOM ITB menegaskan bahwa beasiswa memiliki makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar bantuan biaya pendidikan.

“Yang saya terima saat itu bukan semata bantuan pendidikan, tetapi sebuah kepercayaan. Ada orang-orang yang belum mengenal saya secara pribadi, tetapi percaya bahwa saya memiliki potensi untuk berkembang,” ujarnya.

Menurut Brian, setiap beasiswa merupakan investasi jangka panjang pada sumber daya manusia yang hasilnya akan memberikan manfaat luas bagi masyarakat di masa depan.

Sementara itu, Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara membagikan kisah pribadi tentang ayahnya yang mampu menempuh pendidikan di ITB berkat dukungan orang tua asuh. Ia menilai kesempatan pendidikan yang diberikan kepada seseorang dapat mengubah masa depan, bahkan membawa dampak positif hingga lintas generasi.

Orang tua mahasiswa ITB bersatu galang dana, dukung pendidikan hingga lulus. (Foto: Shanty Dewi Arifin).*

Pada kesempatan tersebut, Tatacipta juga mengungkapkan tantangan pembiayaan pendidikan tinggi. Ia menjelaskan, biaya penyelenggaraan pendidikan di ITB mencapai sekitar Rp28 juta per mahasiswa setiap semester, sedangkan rata-rata Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dibayarkan mahasiswa hanya sekitar Rp12,5 juta. Bahkan, hanya sekitar 30 persen mahasiswa yang membayar UKT penuh, sementara sisanya memperoleh berbagai skema keringanan.

“Pada dasarnya ITB berjalan hanya dengan seperempat dari biaya penyelenggaraan yang seharusnya. Padahal ada tuntutan meraih peringkat dunia yang lebih baik,” ungkap Tatacipta.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyambutan simbolis anggota baru IOM ITB yang diwakili oleh 12 orang tua mahasiswa angkatan 2026 dari 12 fakultas dan sekolah di ITB. Acara kemudian dilanjutkan dengan penggalangan dana melalui lelang serta donasi dari peserta yang hadir secara langsung maupun daring.

BACA JUGA:  Paris-Roubaix 2023: Ambisi Van Der Poel Tercapai Juarai Hell of The North

Seluruh dana yang terkumpul akan disalurkan untuk berbagai program bantuan pendidikan, mulai dari bantuan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT), bantuan biaya hidup, program Orang Tua Asuh, dukungan kegiatan kemahasiswaan, hingga berbagai bentuk bantuan lain yang ditujukan bagi mahasiswa yang membutuhkan.

Melalui gerakan tersebut, IOM ITB berharap semakin banyak mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan tanpa harus menghentikan kuliah akibat persoalan ekonomi. Mahasiswa yang membutuhkan bantuan juga diberikan kesempatan mengajukan permohonan melalui laman resmi IOM ITB.

Sebagai organisasi yang berdiri sejak 1968, IOM ITB terus berperan sebagai mitra strategis Institut Teknologi Bandung dalam mendukung kesejahteraan mahasiswa melalui berbagai program beasiswa, pengembangan karakter, dan kegiatan sosial. Dukungan yang dibangun atas semangat solidaritas ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan pendidikan sekaligus melahirkan generasi penerus yang memberikan kontribusi nyata bagi bangsa. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.