METRUM
Jelajah Komunitas

Atasi Obat Kedaluwarsa hingga Psikotropika, Dinkes Kota Bandung Luncurkan Aplikasi Si Geulis

KOTA BANDUNG (METRUM) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung resmi meluncurkan aplikasi Si Geulis (Sistem Integrasi Digitalisasi Perencanaan, Pengelolaan, dan Pengawasan Obat) guna membenahi tata kelola obat-obatan di wilayahnya. Inovasi digital ini dihadirkan untuk menyatukan alur perencanaan, pencatatan, distribusi, hingga pengawasan stok secara akurat dan berbasis data.

Pengembangan aplikasi ini dilatarbelakangi sejumlah masalah krusial, mulai dari perencanaan kebutuhan obat yang tak terukur, pencatatan manual yang belum terintegrasi, hingga kerugian akibat penumpukan stok obat kedaluwarsa yang harus dimusnahkan dalam tiga tahun terakhir. Tak hanya itu, pengawasan ketat juga disorot menyusul tingginya konsumsi obat psikotropika di Kota Bandung yang menembus 2,5 juta butir per September lalu.

Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Kota Bandung, Detty Kurnia, SKM, MAP, menegaskan bahwa Si Geulis menjadi solusi menyeluruh atas persoalan tata kelola logistik kesehatan tersebut.

“Kalau dari segi filosofi, geulis dalam bahasa Sunda berarti cantik. Saya berharap dengan adanya aplikasi ini, tata kelola obat di Kota Bandung makin geulis, makin cantik,” ujar Detty dalam Talkshow Radio Sonata, Selasa (13/10/2026).

“Dengan permasalahan yang muncul, saya berharap Si Geulis dapat hadir dan memberikan jawaban. Kita ingin pengelolaan obat ini lebih terintegrasi, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai pengawasan,” tuturnya.

Dirilis sejak 8 Oktober 2026, aplikasi Si Geulis kini mengarungi tahap uji coba (pilot project) di delapan puskesmas dan sepuluh apotek. Melalui fitur early warning system, petugas dapat mendeteksi potensi lonjakan kebutuhan serta obat yang mendekati masa kedaluwarsa secara real-time.

“Ketika obat mendekati masa kedaluwarsa, misalnya tiga bulan, kita perlu mengecek kembali apakah obat tersebut bisa diredistribusikan ke fasilitas kesehatan lain. Sementara itu, ketika masa kedaluwarsanya masih sekitar enam bulan, sistem akan memberikan peringatan agar kondisi tersebut dapat dipantau dan diantisipasi sejak awal,” jelas Detty.

BACA JUGA:  RS Santo Borromeus Soroti Ancaman Osteoporosis Lewat Simposium Fragility Fracture

Untuk meningkatkan akurasi perencanaan, puskesmas kini didorong mengadopsi Analisis Kombinasi ABC-VEN agar prioritas kebutuhan obat disesuaikan dengan nilai pemakaian dan kepentingannya secara klinis. Distribusi obat pun tak lagi menggunakan metode bagi rata, melainkan disesuaikan dengan jumlah pasien, karakteristik pelayanan, dan ketersediaan anggaran tiap fasilitas kesehatan.

Aplikasi ini mengusung fungsi ganda: fokus pada perencanaan dan pengelolaan logistik bagi puskesmas serta Dinkes, sekaligus menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap apotek, khususnya dalam peredaran obat psikotropika.

“Dengan adanya aplikasi ini, ketika data diisi secara real-time, kita tinggal melihat dashboard. Data dari puskesmas dan apotek dapat ditarik sehingga lebih cepat terbaca. Harapannya, pimpinan dapat mengambil keputusan berdasarkan data,” ungkapnya.

Guna menunjang keandalan sistem, Dinkes Kota Bandung menggelar penguatan kapasitas SDM secara hybrid pada Kamis (15/10/2026) dengan melibatkan Kementerian Kesehatan, akademisi Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad), organisasi profesi, serta media. Si Geulis ditargetkan siap beroperasi secara penuh dan lebih luas pada tahun 2027 mendatang. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.