Kadis PUTR Ungkap Akar Masalah Banjir Puluhan Tahun di Kopo: Dari Bekas Irigasi Hingga Penyempitan 20 Titik
KABUPATEN BANDUNG (METRUM) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) sepakat mengambil langkah konkret untuk mengakhiri persoalan banjir yang telah berdekade-dekade merendam kawasan Jadek Kopo, Kecamatan Margahayu. Pembangunan Banjir Kanal Cikahiyangan disiapkan sebagai solusi permanen penanganan luapan air di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Bandung, Zeis Zultaqawa, menjelaskan bahwa penanganan sementara yang selama ini dilakukan Pemkab Bandung selalu runtuh dalam waktu singkat begitu intensitas hujan tinggi kembali datang.
“Sebagaimana kita ketahui bersama, banjir jadek ini mungkin sudah ber-dekade terjadi. Sekarang dengan media sosial masyarakat makin aware dan menjadi viral sehingga menjadi sentimen negatif kepada pemerintah,” ujar Zeis, Selasa (13/10/2026).
Zeis mengurai tiga akar masalah utama pemicu banjir kronis di Jadek Kopo. Pertama, luapan Sungai Cikahiyangan akibat tumpukan sampah dan sedimentasi. Kedua, terjadinya penyempitan penampang basah sungai di sedikitnya 20 titik.
Faktor ketiga dan yang paling mendasar adalah alih fungsi lahan dari kawasan pesawahan menjadi perumahan tanpa dibarengi perancangan sistem drainase yang memadai. Menurut Zeis, saluran Cikahiyangan sepanjang 3.432 meter yang ada saat ini sejatinya merupakan bekas saluran pembuangan irigasi.
“Dulunya tidak disiapkan saluran-saluran drainase, dan cenderung memanfaatkan saluran yang ada yaitu bekas saluran pembuangan irigasi. Bedanya saluran irigasi dan drainase yakni, muka air irigasi letaknya lebih tinggi dari permukaan tanah agar bisa mengairi, sedangkan muka air drainase lebih rendah dari permukaan tanah. Itulah kenapa saluran irigasi mudah meluap,” ungkap Zeis.
Ia menambahkan, karakteristik saluran irigasi sengaja dibuat landai dan menyempit ke arah hilir agar air terbagi ke sawah. Sebaliknya, drainase perkotaan seharusnya dibuat curam dan semakin membesar ke hilir agar air mengalir cepat menuju Sungai Citarum.
Terkait diskusi langsung dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), Zeis menegaskan bahwa sekadar pengerukan atau normalisasi tidak akan menyelesaikan persoalan secara fundamental.
“Kemarin (Senin 12 Oktober 2026) Pak KDM (Gubernur Jabar) tanya, ‘ini kalau dinormalisasi bisa atasi banjir kan?’ Saya jawab bisa, tapi hanya 1 bulan. Karena ya itu tadi, penyebab-penyebab yang masih belum diselesaikan. Pertama Sungai Cikahiyangan merupakan saluran irigasi, kedua penampang basahnya yang kecil, lalu kebiasaan masyarakat yang masih suka membuang sampah ke sungai,” paparnya.
Untuk penanganan jangka pendek (quick solution), Pemkab Bandung dan Pemprov Jabar menyepakati normalisasi berkala serta pemasangan trash trap (jaring penahan sampah) yang dijaga petugas secara intensif. Namun, penuntasan secara radikal tetap bertumpu pada pembangunan Banjir Kanal Cikahiyangan sepanjang 1 kilometer.
“Tapi ya itu tadi, tidak menyelesaikan ke akar masalahnya. Kalau hujan gede ditambah masyarakat masih suka buang sampah ke saluran pembuangan tersebut, ya pasti banjir lagi,” kata Zeis.
“Panjang Banjir Kanal Cikahiyangan kurang lebih 1 Km. Proses pembuatannya kurang dari setahun, apalagi jika tidak perlu melakukan pembebasan lahan. Yang lama itu kan kalau harus membebaskan lahan milik warga. Biaya pembuatannya mahal? Sudah pasti mahal. Tapi kalau bicara dampaknya selama bertahun-tahun terhadap warga, tentu jauh lebih banyak kerugiannya jika banjir ini dibiarkan terus menerus tanpa solusi pasti,” tegasnya.
Pihak Pemprov Jabar pun telah memberikan lampu hijau atas rencana strategis ini demi memutus rantai kerugian ekonomi dan sosial masyarakat Kopo dan sekitarnya.
“Dan solusi jangka panjangnya, KDM setuju untuk bangun Banjir Kanal Cikahiyangan,” pungkas Zeis. (M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.