METRUM
Jelajah Komunitas

Bandung Menua, Pemkot Perkuat Program Kota Ramah Lansia untuk 91 Ribu Warga Rentan

KOTA BANDUNG (METRUM) – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menegaskan komitmennya untuk mewujudkan kota yang semakin ramah bagi lanjut usia (lansia), seiring meningkatnya jumlah warga berusia lanjut setiap tahun. Komitmen tersebut disampaikan dalam peringatan ke-30 Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) yang diikuti sekitar 800 lansia aktif dan produktif dari 30 kecamatan dan 151 kelurahan se-Kota Bandung di Markas Kodam III/Siliwangi, Sabtu (20/6/2026).

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Bandung, Asep Cucu Cahyadi, mengatakan para lansia bukan sekadar kelompok usia yang harus mendapatkan perhatian, melainkan aset sosial yang menyimpan pengalaman, pengetahuan, dan nilai-nilai kehidupan yang sangat berharga bagi generasi penerus.

Menurut Asep, setiap lansia adalah “perpustakaan kehidupan” yang merekam perjalanan panjang dalam membangun keluarga, mendidik anak-anak, menjaga persatuan, hingga menghadapi berbagai perubahan zaman.

“Ketika kita melihat para lansia, sesungguhnya kita sedang melihat sumber pembelajaran yang luar biasa. Mereka adalah generasi yang mewariskan nilai gotong royong, toleransi, kesantunan, dan kecintaan terhadap bangsa yang hingga hari ini masih menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Asep menegaskan, peringatan Hari Lanjut Usia Nasional tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Momentum tersebut harus menjadi pengingat bagi seluruh pihak bahwa lansia berhak mendapatkan ruang yang layak untuk tetap berpartisipasi dalam kehidupan sosial maupun pembangunan daerah.

Ia menilai kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tingginya gedung pencakar langit, atau perkembangan teknologi yang pesat. Kota yang benar-benar maju, kata dia, adalah kota yang menghargai dan melibatkan para sesepuh dalam proses pembangunan.

“Kota yang besar bukan kota yang melupakan orang-orang yang telah membangunnya. Lansia harus menjadi bagian dari pembangunan, bukan sekadar penerima manfaat pembangunan,” kata Asep.

BACA JUGA:  Taman Lansia Diperbaiki, Namun Kabel Lampu 200 Meter Hilang Usai Dibuka

Meningkatnya angka harapan hidup masyarakat juga dinilai sebagai pencapaian positif yang harus diimbangi dengan kebijakan yang mampu meningkatkan kualitas hidup para lansia. Pemkot Bandung ingin memastikan para lanjut usia tetap dapat menjalani kehidupan yang sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bermartabat.

Dalam kesempatan itu, Asep juga mengajak generasi muda untuk memperkuat hubungan antar generasi. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan kesempatan belajar dari pengalaman hidup para orang tua.

“Jangan sampai kita begitu cepat mencari jawaban dari internet, tetapi lupa belajar dari pengalaman dan kebijaksanaan orang tua kita sendiri,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Yorisa Sativa, mengungkapkan jumlah lansia di Kota Bandung terus bertambah sekitar lima persen setiap tahun. Dari total sekitar 2,6 juta penduduk, satu dari delapan warga Kota Bandung saat ini merupakan lansia.

Data tersebut menunjukkan bahwa isu kesejahteraan lansia menjadi tantangan sekaligus prioritas pembangunan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Menurut Yorisa, saat ini terdapat sekitar 91 ribu lansia yang masuk kategori kesejahteraan rendah. Dari jumlah tersebut, sekitar 25 ribu orang telah menerima bantuan sosial, sementara sekitar 66 ribu lainnya masih membutuhkan dukungan dan intervensi lebih lanjut.

Selain itu, terdapat sekitar 4.600 lansia yang hidup sendiri, 3.800 lansia terlantar, serta 301 lansia yang hidup sendiri sekaligus dalam kondisi terlantar.

“Peringatan HLUN menjadi momentum untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap para lansia sekaligus mengapresiasi kontribusi mereka dalam pembangunan bangsa,” kata Yorisa.

Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, Pemkot Bandung terus memperkuat berbagai layanan bagi lansia, mulai dari bantuan alat kesehatan dan alat bantu mobilitas, penanganan lansia terlantar, reunifikasi keluarga, penyediaan rumah singgah, perlindungan jaminan sosial, hingga program pemberdayaan yang melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah.

BACA JUGA:  Akibat Suhu Laut, Great Barrier Reef Alami Pemutihan Karang yang Meluas

Melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat, Kota Bandung menargetkan terwujudnya lingkungan yang lebih inklusif dan ramah bagi para lansia.

“Harapan kami, Bandung menjadi kota yang benar-benar ramah lansia. Tempat para sesepuh dapat hidup bahagia, mandiri, aktif, produktif, dan tetap berdaya. Lansia bahagia, Bandung sejahtera,” pungkas Yorisa. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.