Red Raws Kritik Ekosistem Fotografi Indonesia: Jangan Hanya Sibuk Memotret
KOTA BANDUNG (METRUM) – Fotografi Indonesia dinilai masih menghadapi persoalan mendasar: ekosistemnya belum tumbuh secara seimbang. Perhatian terlalu banyak tertuju kepada fotografer sebagai pembuat gambar, sementara peran kurator, kritikus, penulis, penerbit hingga pengelola ruang fotografi belum mendapatkan porsi yang setara.
Kegelisahan itulah yang melahirkan Red Raws, entitas yang berbasis di Bandung dan bergerak membangun ekosistem fotografi melalui pendidikan, riset, publikasi, ruang kreatif hingga berbagai program fotografi.
Founder Red Raws, Wahyu Dhian Yudhistira, mengatakan gagasan tersebut muncul dari kegelisahan melihat perkembangan fotografi Indonesia yang dinilainya masih timpang.
“Awal tercetusnya membuat Red Raws sebenarnya adalah ketegasan kami terhadap kondisi fotografi Indonesia. Kami melihat ada satu masalah besar, yaitu tentang ekosistem fotografi yang timpang,” ujar Wahyu saat ditemui di Pasar Antik Cikapundung, Jumat (14/8/2026).
Menurut dia, persoalannya bukan karena fotografer terlalu aktif. Masalah justru muncul ketika ekosistem fotografi hanya bertumpu pada aktivitas memotret.
Karena itu, Red Raws memilih memperluas medan kerja fotografi. Mereka mendorong lahirnya peran-peran lain yang dapat membuat ekosistem fotografi lebih sehat, mulai dari kurator, kritikus, penulis, penerbit hingga pengelola ruang.
“Bagi kami, peran fotografer sudah terlalu banyak mendominasi. Bukan berarti salah, tetapi dalam satu ekosistem yang sehat, ketika ada peran yang terlalu mendominasi itu tidak sehat. Kami ingin membangun peran-peran lain selain pemotret,” katanya.
Fotografi Tak Berhenti di Balik Kamera
Gagasan tersebut bukan sekadar wacana. Red Raws dan ekosistem RAWS selama ini telah menjalankan berbagai aktivitas di luar praktik fotografi teknis.
Red Raws Center di Pasar Antik Cikapundung, misalnya, berkembang sebagai ruang komunitas yang menghadirkan kelas, diskusi, pameran, pembacaan karya hingga kegiatan terkait buku foto. Sejumlah program RAWS juga diarahkan pada pendidikan fotografi nonteknis dan pengembangan gagasan visual.
RAWS juga memiliki rekam jejak dalam penerbitan fotozine. Program RAWS Attack Workshop pernah mengajarkan peserta mulai dari merancang konsep fotozine, penyuntingan, sequencing, tata letak hingga proses produksi dan distribusi.
Aktivitas semacam itu memperlihatkan bahwa fotografi tidak harus berakhir ketika tombol kamera ditekan.
Ada proses membaca karya, membangun narasi, mengkritisi visual, menerbitkan gagasan, hingga menciptakan ruang agar karya dapat bertemu dengan publik.
Wahyu menyebut Red Raws bukan sekadar komunitas. Entitas tersebut dikembangkan sebagai usaha, gerakan sekaligus foundation yang memiliki perhatian terhadap pembangunan ekosistem fotografi.
“Kalau kegiatannya banyak, mulai dari literasi, program-program fotografi seperti kelas, kami punya festival fotografi, melakukan riset, ada ruang fotografi. Banyak hal yang kami kerjakan dan sekali lagi, di luar motret,” ujarnya.
Teknologi Bukan Musuh Fotografi
Di tengah ledakan teknologi kamera digital, ponsel pintar hingga kecerdasan buatan, fotografi juga menghadapi perubahan besar. Namun, Wahyu tidak melihat perkembangan teknologi sebagai ancaman.
Sebaliknya, teknologi dinilai justru membuat fotografi semakin mudah diakses.
“Kamera semakin murah, fotografi semakin gampang, sehingga semua orang juga bisa memotret. Saya melihat perkembangan teknologi di fotografi sebagai sesuatu yang mempermudah dan manfaat bagi kita,” jelasnya.
Kemudahan tersebut, kata Wahyu, semestinya tidak berhenti pada semakin banyaknya orang yang mampu menghasilkan foto. Teknologi harus dimanfaatkan untuk mempercepat proses kreatif dan membuka kemungkinan baru dalam berkarya.
Tantangannya kemudian bergeser: bukan lagi siapa yang memiliki kamera terbaik, tetapi siapa yang mampu mengolah fotografi menjadi gagasan yang kuat.
Ketika Fotografi Tak Lagi Mengenal Batas Genre
Perubahan teknologi sekaligus membuat batas fotografi semakin cair.
Fotografi kini bersinggungan dengan seni rupa, desain, film, buku, arsip, jurnalistik, media sosial hingga praktik kehidupan sehari-hari. Karena itu, Red Raws memilih tidak mengunci fotografi pada genre maupun perangkat tertentu.
“Kami sudah tidak melihat genre, tetapi fotografi sebagai praktik keseharian yang sudah lintas medium. Kita sudah tidak mengenal alat apa pun, tidak mengenal genre apa pun. Bagaimana fotografi itu menjadi satu medium universal bagi kita untuk berkarya,” kata Wahyu.
Pandangan tersebut sejalan dengan aktivitas Red Raws yang selama ini tidak hanya berkutat pada produksi foto. Pameran dan program yang digelar di Red Raws Center juga menunjukkan fotografi digunakan untuk membaca persoalan sosial, budaya, ruang publik hingga identitas masyarakat. Salah satu pameran pada 2026, misalnya, menampilkan karya peserta Raws Attack Class yang mengangkat identitas kota dan persoalan sosial melalui fotografi.
Mencari Wajah Fotografi Indonesia
Dari Bandung, Red Raws ingin mendorong percakapan yang lebih besar: seperti apa sebenarnya wajah fotografi Indonesia?
Wahyu berharap fotografer Indonesia tidak terus-menerus menjadikan perspektif luar sebagai satu-satunya rujukan dalam membaca dan memproduksi karya.
“Bagaimana fotografi Indonesia menemukan bentuknya, menemukan karakter dan mampu mengartikulasikan. Kami berharap fotografi Indonesia menemukan jati dirinya sendiri,” katanya.
Ia bahkan mengajak pelaku fotografi untuk mulai memperlakukan fotografi dengan cara yang lebih kontekstual dengan pengalaman masyarakat Indonesia.
“Mulailah sekarang mencari dan memperlakukan fotografi dengan cara Indonesia. Walaupun fotografi datangnya dari Barat, kita juga punya pendekatan yang kita lakukan sehari-hari. Mulailah itu diartikulasikan dengan benar,” ujarnya.
Gagasan tersebut penting karena fotografi bukan sekadar soal estetika. Foto juga merekam cara sebuah masyarakat melihat dirinya sendiri.
Ketika perspektif lokal tidak digali, fotografi berisiko hanya menjadi reproduksi gaya, tren dan selera visual yang datang dari luar.
200 Peserta Disiapkan Jadi Penggerak Baru
Red Raws juga mencoba memperpanjang gerakannya melalui pendidikan.
Sekitar 200 orang telah mengikuti berbagai program kelas yang digelar Red Raws. Harapannya, mereka tidak berhenti sebagai peserta pelatihan, tetapi menjadi penggerak baru yang membawa gagasan fotografi ke wilayah masing-masing.
“Kami berharap mereka yang akan memperpanjang napas kita, memperpanjang gerakan kita. Dampaknya sudah mulai terasa sekarang, mereka menjadi tulang punggung untuk menggerakkan Red Raws ini,” tutur Wahyu.
Model pendidikan semacam ini menjadi penting karena pengembangan ekosistem tidak mungkin ditopang oleh satu komunitas atau satu ruang saja.
Para lulusan kemudian diharapkan membawa pengetahuan, cara berpikir dan pengalaman yang mereka dapatkan ke komunitas serta wilayah lain.
“Ketika mereka sudah tersebar di berbagai tempat di fotografi Indonesia, mudah-mudahan memberi sedikit perubahan, cara pandang, pola pikir, dan bagaimana apa yang dipelajari di Red Raws bisa dikembangkan dan ditularkan di luar sana,” katanya.
Dari Bandung untuk Ekosistem Fotografi Indonesia
RAWS Syndicate sendiri telah berkembang di Bandung sejak 2012 dengan gagasan menggabungkan model bisnis mandiri dan gerakan kolektif untuk membangun ekosistem fotografi. Red Raws Center kemudian menjadi salah satu ruang yang menopang aktivitas tersebut.
Konsistensi itu terlihat dari beragam aktivitas yang terus digelar, mulai dari kelas, pameran, diskusi hingga buku foto. Pada 2025, misalnya, Red Raws Center menjadi salah satu penggerak Pesta Buku Foto di Pasar yang menghadirkan beragam buku foto dan zine.
Kini, tantangan Red Raws bukan sekadar mempertahankan ruang di tengah perubahan industri kreatif. Tantangan yang lebih besar adalah membuktikan bahwa ekosistem fotografi dapat tumbuh tanpa menjadikan fotografer sebagai satu-satunya pusat perhatian.
Sebab, fotografi yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar kamera dan fotografer.
Ia membutuhkan pendidikan, kritik, kurasi, riset, publikasi, ruang bertemu dan keberanian untuk membangun perspektif sendiri.
Dan dari sebuah ruang kecil di Pasar Antik Cikapundung, Red Raws sedang mencoba menambal bagian-bagian ekosistem fotografi Indonesia yang selama ini dianggap masih bolong. (M1)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.