METRUM
Jelajah Komunitas

Banjir Terparah di Eropa Akibat Perubahan Iklim yang Ekstrem

JERMAN – Benua Biru alias Eropa dikabarkan mengalami banjir akibat intensitas hujan yang tinggi pada Kamis (15/07/21) lalu. Banjir bandang telah merenggut nyawa dan ribuan korban dilaporkan hilang. Kanselir Jerman, Angela Markel mengatakan situasi banjir ini mengerikan.

Ratusan rumah di berbagai titik permukiman wilayah Eropa Barat terseret arus banjir pada Rabu (14/7). Air meluap lalu merusak jalan dan bangunan para warga. Bencana tersebut disebabkan oleh curah hujan lebat yang memicu jembatan di Jerman terputus hingga bendungan sungai Ruhr dibuat jebol.

Bencana Banjir Eropa Terparah

Kanselir Jerman, Angela Markel, setelah meninjau langsung ke lokasi terdampak kemudian mengatakan bahwa peristiwa ini mengerikan, yang mana beliau menggambarkan situasi hujan lebat dan banjir ini merupakan bencana alam di Jerman yang terburuk selama hampir enam dekade.

“Mengerikan. Bahasa Jerman saja tidak bisa menggambarkan kehancuran yang terjadi,” ungkapnya saat berada di kota kecil Adneau di negara bagian Rhineland-Palatinate.

Banyak Menelan Korban dan Warga Hilang

Dilansir melalui Reuters, korban meninggal mencapai 188 jiwa per hari Minggu (18/7) kemarin. Adapun negara-negara bagian barat Eropa selain Jerman seperti, Belgia, Luxembourg, Belanda dan Austria ikut terkena jipratannya menjadi lokasi dengan kondisi kerusakan paling parah. Di Jerman sendiri, terdapat wilayah paling terdampak yaitu North Rhine-Westphalia, Rhineland-Palatinate, dan Saarland. Saat ini, kasus korban tewas di Jerman mencapai 157 orang. Untuk wilayah North Rhine-Westphalia ada 46 warga tewas, korban di Belgia sejak hari Minggu bertambah menjadi 31 orang. Juga ada dua daerah berdekatan di Belanda, Heugem dan Randwyck yang terpaksa harus mengevakuasi sebanyak kurang lebih 9.000 orang, mengingat permukaan air terus naik. Selain itu, terhitung sekitar 1.300 orang masih belum ditemukan.

Sebelumnya, para ilmuwan sudah mempediksi kemungkinan Eropa bakal disapu genangan air yang dahsyat tersebut. Namun, tidak disangka buntut fenomena alam ini sangat cepat terjadi. Atas kejadian itu, pemerintah Jerman mengerahkah tim penyelamat yang terdiri dari 850 tentara guna evakuasi korban. Markel pun berjanji akan memberikan bantuan finansial kepada para korban dan lebih fokus memerangi isu perubahan iklim.

Bantuan Finansial dan Upaya Memerangi Perubahan Iklim Ekstrem

Dikutip dari Reuters, Menteri Keuangan, Olaf Scholz kepada Surat Kabar Bild am Sonntag, menyatakan bahwa pemerintah Jerman akan menyiapkan lebih dari 300 juta euro dalam bantuan segera dan miliaran euro untuk memperbaiki reruntuhan rumah, jalanan dan jembatan. Bukan hanya rumah-rumah yang dihantam banjir, tetapi banyak pelaku bisnis kesulitan setelah kejadian ini. Adapula, Menteri Ekonomi Peter Altmaier menambahkan akan ada biaya jangka pendek sekitar 10.000 euro bagi bisnis yang terdampak oleh banjir serta pandemi Covid-19.

Perubahan iklim ekstrem tersebut membuat keadaan suatu tempat bisa jadi sangat panas atau sangat dingin, hujan sangat lebat atau bahkan tidak hujan sama sekali sehingga menimbulkan kekeringan. Jika dirasakan, suhu atau cuaca di beberapa daerah Indonesia juga akhir-akhir ini cukup dingin, meskipun sedang kondisi musim panas.  Masih membekas pula soal banjir langganan di Kota Jakarta bulan Februari lalu yang terjadi dalam masa pandemi Covid-19.

Apakah Banjir Terjadi Gara-gara Global Warming?

Meskipun demikian, apakah para pemimpin Jerman yang menyalahkan isu global warming atas bencana ini sebenarnya tepat? Berdasarkan laporan AFP melalui Kompas.com, menurut pakar ada 5 penyebab banjir parah di Benua Biru tersebut.

Pertama, cuaca di Eropa yang tak biasa. Terhambatnya massa udara bermuatan air yang berlimpah pada ketinggian oleh suhu dingin, akhirnya mandek selama empat hari di wilayah tersebut. Sebanyak 100-150 milimeter hujan turun pada 14 dan 15 Juli, jumlah tersebut biasanya telihat selama dua bulan. Namun, pekan ini jumlah air yang dihasilkan luar biasa dan menimbulkan kerusakan.

Kedua, akibat pemanasan global. Walaupun belum bisa pastikan banjir ini berkaitan pemanasan global. Secara teknis, perubahan iklim berarti Bumi menjadi lebih hangat sehingga air yang meluap lebih banyak. Ketiga, sungai-sunga kecil yang ikut terkena dampak. Keempat, kurangnya kesadaran, baik pemerintah yang kurang tanggap dalam mengevakuasi korban dan banyak warga yang tidak menyadari resiko banjir.

Terakhir, perencanaan kota yang buruk. Guyuran hujan di daerah terdampak membuat tanah jenuh dan tidak sanggup menyerap lebih banyak air, ditambah peran manusia menutupi tanah sebagai resapan air dengan bahan seperti beton makin meningkatkan resiko banjir. (Ana Siti Ghania/JT)***

komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: