METRUM
Jelajah Komunitas

Biaya Mahal Olimpiade Tokyo Percepat Seruan untuk Reformasi

SEWAKTU Tokyo ditetapkan sebagai penyelenggara Olimpiade musim panas 2020, penyelenggara menyambutnya dengan sangat gembira. Acara ini akan menjadi sumber promosi yang baik, yang menunjukkan kepada dunia bahwa Jepang telah mengatasi stagnasi ekonomi berkepanjangan dan rasa malu yang disebabkan oleh bencana nuklir Fukushima, seperti dilansir dari VOA.

Tetapi apa yang terjadi tidak berjalan sesuai rencana. Dan ini bukan hanya karena pandemi virus corona, yang memaksa Olimpiade diundur setahun.

Ada proposal pembangunan stadion Olimpiade Tokyo yang berbiaya mahal, yang dibatalkan setelah diejek luas karena bentuknya yang mirip helm sepeda terlalu besar, pesawat antariksa antargalaksi, dan “kura-kura yang menunggu Jepang tenggelam agar hewan ini dapat berenang menjauh.”

Ada juga logo asli Olimpiade Tokyo, yang harus dihapus karena ada tuduhan menjiplak lambang sebuah teater di Belgia.

Juga ada presiden panitia penyelenggara Olimpiade Tokyo yang pekan ini mengakui ia mungkin harus mengundurkan diri menyusul kemarahan terkait komentarnya baru-baru ini bahwa perempuan berbicara terlalu banyak dalam rapat-rapat dewan.

Dan tentu saja penundaan karena virus corona, yang menurut penyelenggara akan menimbulkan kerugian hampir 3 miliar dolar.

Menurut sejumlah perkiraan, Jepang akan harus mengeluarkan hingga 35 miliar dolar untuk menggelar pesta olahraga ini, jauh melampaui anggaran awal 7,5 miliar dolar. Penyelenggara membantah angka yang lebih besar itu dengan mengatakan banyak di antara pengeluaran tersebut adalah untuk proyek-proyek yang tidak terkait langsung dengan pesta olahraga.

Tetapi semuanya itu sedikit saja menenangkan bagi sebagian kalangan di Jepang. Menurut beberapa jajak pendapat, sebagian besar warga Jepang kini menginginkan pesta olahraga itu ditunda atau dibatalkan, kebanyakan khawatir Olimpiade ini akan menjadi acara yang menyebarkan Covid-19 secara besar-besaran.

Situasi ini menambah penting seruan bagi perubahan radikal mengenai bagaimana kota-kota menjadi tuan rumah Olimpiade. Banyak kalangan yang kini melihat bahwa pesta olahraga itu merupakan perangkap utang bagi kota-kota penyelenggara, mengakibatkan tempat-tempat olahraga dan berbagai fasilitas lainnya kerap kosong atau tidak banyak digunakan begitu Olimpiade berakhir. (M1-VOA/uh/ab)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: