METRUM
Jelajah Komunitas

Festival Lewu Dayak Ajak Anak Muda Dayak ‘Pulang Kampung’ Merawat Budaya

PANDEMI Covid-19 tidak menghalangi berbagai komunitas menggelar acara budaya. Salah satunya adalah Festival Dayak Lewu. Digelar secara daring, Festival Dayak Lewu mengajak generasi milenial Suku Dayak melestarikan warisan budaya, melalui cerita, foto, dan film.

Dilansir dari VOA, para kaum muda Suku Dayak yang tergabung dalam komunitas Dayak Voices bersama lembaga swadaya masyarakat, Justice, Peace, and Integrity (JPIC) Kalimantan menggelar Festival Lewu Dayak.

Bertema “Peran Pemuda Dalam Menjaga Kearifan Lokal pada Masa Pandemi Covid-19”, festival itu berupaya membangun gerakan bersama dan solidaritas untuk melestarikan budaya masyarakat asli Dayak melalui cerita, foto dan film.

Poster pemenang lomba Festival Lewu Dayak. (Foto: Panitia Festival Lewu Dayak)
Poster pemenang lomba Festival Lewu Dayak (Foto: Panitia Festival Lewu Dayak).*

Sani Lake, pendiri Dayak Voices yang juga penanggung jawab festival, menjelaskan “Lewu” dalam bahasa Suku Dayak Ngaju artinya rumah atau dalam arti luas, kampung.

“Festival ini salah satu cara mengajak anak-anak muda kembali ke kampungnya, dalam arti kembali menemukan cerita-cerita asli mereka untuk disampaikan dalam bentuk tulisan, foto dan video,” ujar Sani.

Dayak Voices sendiri, papar Sani, adalah gerakan anak muda Dayak untuk merawat kearifan lokal, adat-istiadat, budaya. Sedangkan JPIC aktif dalam advokasi hak-hak masyarakat Suku Dayak.

Festival yang digelar secara daring karena pandemi virus corona diikuti oleh 153 partisipan dari kalangan anak muda Suku Dayak dari 12 kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Tengah. Menurut Sani, pihaknya sudah merencanakan festival itu sebelum pandemi Covid-19 merebak.

Digelar sejak pertengahan September hingga 30 November, festival itu berhasil mengumpulkan 300 karya, yang dibagi dalam tiga kategori, yaitu foto, video, dan tulisan cerita budaya.

Warisan budaya

Seperti halnya suku-suku di Indonesia, Suku Dayak di Kalimantan Tengah memiliki kekayaan budaya yang diwariskan turun-temurun.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah, Dr. Guntur Talajan, SH. warisan budaya itu bisa menjadi modal utama pariwisata Indonesia.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah, Dr. Guntur Talajan, SH. (tengah) mengenakan busana Suku Dayak Ot Danum. (Foto: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah)
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah, Dr. Guntur Talajan, SH. (tengah) mengenakan busana Suku Dayak Ot Danum (Foto: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah).*

Lebih lanjut, Guntur mengatakan dia berharap para generasi milenial bisa membangun Festival Lewu Dayak menjadi atraksi seni budaya yang menarik bagi wisatawan lokal dan mancanegara. Dengan demikian, Kalimantan Tengah bisa menjadi tujuan wisata.

Karolina, seorang pemudi Suku Dayak Ngaju, mengaku senang bisa ikut lomba menulis cerita untuk melestarikan warisan budaya nenek moyangnya.

Dia berharap para anak muda Dayak melestarikan warisan budaya melalui berbagai karya.

“Misalnya, kalau punya bakat, entah itu membuat film dokumentasi, fotografi atau menulis, lakukanlah dan kembangkan dirimu. Walaupun mungkin tidak untuk lomba,tetapi setiap apa yang kita punya entah itu bakat, kita salurkan untuk melestarikan budaya kita,” ujar Karolina.

Setelah para pemenang lomba diumumkan, panitia Festival mengadakan pameran keliling atau roadshow hasil karya pemenang ke seluruh kabupaten dan kotamadya. (M1-VOA/ps/em/ft)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: