METRUM
Jelajah Komunitas

Gomez Pertanyakan Penalti Persela

DUA gol dari penalti membuat laga antara Persib Bandung melawan Persela Lamongan berakhir imbang 1-1 dalam lanjutan Liga 1 di Stadion Surajaya, Lamongan, Sabtu, 1 Desember 2018. Hasil ini pun semakin memberatkan bagi Maung Bandung untuk mengincar posisi runner up Liga 1 sebagai syarat untuk bisa mengikuti kompetisi Piala AFC musim depan.

Pasalnya, saat ini anak asuh Roberto Carlos Mario Gomez tersebut berada di posisi ketiga dengan raihan 51 poin dari 33 pertandingan. Mereka tertinggal lima poin dari peringkat kedua Persija Jakarta yang baru memainkan 32 laga.

Raihan satu poin ini sepatutnya disyukuri Persib lantaran bertindak sebagai tamu. Hanya saja, Tony Sucipto dan kawan-kawan membutuhkan kemenangan guna menjaga asa untuk tampil di Piala AFC setelah harapan merengkuh trofi Liga 1 2018 meleset.

Seusai laga, Pelatih Persib Bandung Mario Gomez mempertanyakan gol penalti yang bersarang ke gawang yang dijaga M Natshir pada menit ke-33. Menurut dia, seharusnya Persib tak berhak dihukum karena memang tidak ada kontak fisik yang keras sehingga wajib diganjar penalti.

“Menurut Anda itu penalti (bertanya kepada wartawan), jika iya saya tidak mau berkomentar. Tapi jika Anda melihat tayangan ulang, saya lihat itu bukan pelanggaran,” ucap Gomez.

Untuk itu, Gomez berpendapat bahwa penalti yang diberikan wasit kepada Persela dan Persib sangat berbeda. Menurut dia, gol penyama kedudukan yang dicetak Maung Bandung melalui titik putih memang layak diberikan.

“Ini berbeda. Persib berhak mendapatkan penalti karena yang melanggar adalah pemain Persela yang terakhir sebelum berhadapan dengan Persib. Seharusnya dia (Eky Taufik) berhak mendapatkan kartu merah. Tapi kenyataannya wasit tidsk memberikan kartu sama sekali,” tuturnya.

Dengan begitu, Gomez mengaku tidak begitu puas dengan keputusan wasit. Menurut dia, Persib  seharusnya berhak atas tiga poin karena selain mampu mencetak gol tapi juga memiliki banyak peluang.

“Satu poin sebenarnya tidak masalah tapi sebenarnya kami berhak atas tiga poin. Terlebih pada menit-menit terakhir yang seharusnya kami bisa menambah gol menjadi 2-1,” katanya.

Seretnya gol, menurut dia, karena anak asuhnya banyak membuang peluang. Padahal, jika pemain lebih sabar dalam mengeksekusi peluang hasil berbeda akan terjadi.

“Kita terlalu banyak membuang peluang.  Ada tiga sampai empat peluang, dan terakhir ada satu peluang yang tidak bisa jadi gol. Terlebih pada 15 menit terakhir kita tidak bisa mencetak gol kedua padahal banyak peluang,” ucapnya.

Lolos degradasi

Sementara itu, Pelatih Persela Lamongan, Aji Santoso mensyukuri hasil imbang 1-1 saat melawan Persib Bandung. Satu poin yang didapat oleh Laskar Joko Tingkir, kata Aji, sudah cukup membuat tim asuhannya lolos dari lubang degradasi.

“Pertandingan berakhir dengan seri, tapi saya sangat bersyukur. Ada hal-hal penting yang menurut saya patut saya syukuri. Pertama sekali untuk musim depan Persela Lamongan bertahan di Liga 1 sudah pasti 100 persen,” ujar Aji.

Menurut Aji Santoso, jika Persela Lamongan menderita kekalahan pada laga tadi maka membuat langkah timnya bertahan di Liga 1 cukup berat. Terlebih Persela memiliki catatan kurang baik dari para pesaingnya di zona degradasi.

“Karena kita kalah head to head sama Serui, kalah head to head sama Sriwijaya. Maka dari itu walaupun mendapatkan satu poin saya sangat bersyukur yang terpenting masih di Liga 1,” katanya.(Sumber: Pikiran Rakyat, 1/12/2018)***

komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: