International Women of Courage Award: Penghargaan AS bagi Jurnalis dan Pemimpin Demokrasi Perempuan
Pemenang Penghargaan Myanmar
Ratusan ribu warga sipil telah mengungsi sejak kudeta militer yang menggulingkan pemerintah Myanmar yang terpilih secara demokratis pada 1 Februari 2021.
Badan PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) mengatakan jumlah pengungsi internal di negara itu sekarang mencapai lebih dari 800.000. Sekitar 440.000 orang lagi mengungsi sejak kudeta, menambah 370.000 orang yang telah meninggalkan rumah mereka sebelumnya.
Bulan ini, junta Myanmar mencabut kewarganegaraan 16 tokoh oposisi terkemuka, termasuk anggota senior Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), yang memimpin perlawanan terhadap rezim militer.

Ei Thinzar Maung termasuk di antara anggota NUG yang dicabut kewarganegaraannya.
Dia mendapat penghargaan “International Women of Courage Award” dari Departemen Luar Negeri atas komitmennya terhadap demokrasi dan bekerja untuk Myanmar yang kuat, inklusif, dan demokratis yang menghormati hak asasi manusia.
“Kami tidak akan pernah menyerah. Demokrasi harus dipulihkan,” kata Ei Thinzar Maung dalam pesan yang direkam sebelumnya.
Saat dipaksa bersembunyi karena penyiksaan dan ancaman pembunuhan, Ei Thinzar Maung terus berbicara menentang kudeta militer 2021. Dia adalah perempuan termuda yang mencalonkan diri pada pemilihan umum Myanmar pada tahun 2020.
Seorang pembela hak-hak perempuan dan kaum muda, Ei Thinzar Maung juga mengadvokasi etnis minoritas. Dia dipukuli dan dipenjara selama lebih dari setahun setelah memimpin pawai sepanjang 644 kilometer dari Mandalay ke Yangon pada 2015 untuk memprotes undang-undang pendidikan nasional yang mengecualikan bahasa etnis dan membatasi serikat mahasiswa. (M1-VOA/lt/em)***
Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.