METRUM
Jelajah Komunitas

Lembaga Eijkman, Nasibmu Kini

Selepas peleburan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akhir Desember lalu, sekitar 120 ilmuwan dan staf pendukung kehilangan pekerjaan. BRIN juga membuat beberapa perubahan baru yang dinilai kurang pas untuk kinerja Eijkman.

WASHINGTON DC – Di awal tahun baru ini beredar luas kabar tentang 120 ilmuwan dan staf pendukung di Pusat Riset Biologi Molekuler PRBM Eijkman yang kehilangan pekerjaan selepas diintegrasikannya lembaga penelitian itu secara resmi ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional BRIN. Ini dikarenakan dari sekitar 160-an staf di Eijkman, termasuk ilmuwan, hanya 40 orang yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan akan melanjutkan pekerjaan di BRIN.

Dilansir dari VOA, ketika diwawancarai VOA melalui telepon Senin malam (3/1/2022), Kepala BRIN Laksana Tri Handoko membantah kabar itu.

“Eijkman ini masalah lama. Sejak diaktifkan pada tahun 1982, Eijkman ini adalah unit proyek di Kemristek, dan karena unit proyek, teman-teman periset ini tidak bisa diangkat dan diberikan hak finansial sebagai peneliti. Tapi kini saya buka kesempatannya. Saya berikan opsi. Yang sudah S3, bisa langsung mengikuti penerimaan ASN (aparatur sipil negara.red) yang prosesnya sudah mulai Oktober lalu. Banyak yang ikut dan semuanya diterima, tidak ada yang gugur,” jelasnya.

“Mengapa harus S3? Karena memang kandidat periset itu wajib S3. Saya buka 325 orang tahun lalu, kualifikasinya harus S3. Tapi untuk yang belum S3, kami tawarkan skema melanjutkan pendidikan by-research yang ada di BRIN, dan sekaligus diberikan research assistantship. Jadi tetap sebagai periset dan sekaligus mahasiswa aktif, tentunya lebih menguntungkan bagi mereka. Tapi tentu saya tidak bisa memaksa mereka harus mengikuti proses ini,” imbuh Laksana Tri Handoko.

BRIN Integrasikan Lembaga-Lembaga Urusan Riset

Lima entitas utama urusan riset di Indonesia, yaitu Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Kementerian Riset dan Teknologi yang mencakup Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, sejak akhir tahun lalu diintegrasikan dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Lembaga pemerintah non-kementerian ini bertanggungjawab langsung kepada presiden melalui menteri yang membidanginya.

LBM Eijkman secara resmi diambil alih BRIN pada bulan September, namun baru pada 28 Desember berubah status menjadi Pusat Riset Biologi Molekuler PRBM Eijkman. Integrasi ini ternyata menyisakan persoalan setidaknya terkait peneliti dengan status honorer atau kerja kontrak, fasilitas, hingga status Eijkman di mata mitra-mitranya.

Sejumlah Mitra Eijkman Pertanyakan Perubahan

Mantan Kepala LBP Eijkman Prof. Dr. Amin Soebandrio kepada VOA mengakui bahwa restrukturisasi dan integrasi Eijkman ke dalam BRIN membuat lembaga itu kuat dan peneliti Eijkman yang berstatus ASN memiliki jabatan fungsional peneliti.

Mantan Kepala LBP Eijkman, Prof. Dr. dr. Amin Soebandrio. (Foto: VOA)
Mantan Kepala LBP Eijkman, Prof. Dr. dr. Amin Soebandrio (Foto: VOA).*

“Tetapi tidak berhenti sampai di situ karena restrukturisasi itu juga membawa perubahan kebijakan, antara lain terkait dengan pegawai tetap dan honorer yang direkrut berdasarkan kontrak untuk membantu melaksanakan penelitian yang sedang berjalan. Meskipun honorer, mereka sangat esensial karena punya keahlian dan pengalaman kerja yang bagus, dan direkrut berdasarkan seleksi yang ketat,” jelasnya.

“Dengan sistem sebelumnya, kami melaksanakan kegiatan yang dibiayai APBN yang memungkinkan membayar honor para peneliti sesuai yang diatur menteri keuangan. Dengan sistem yang baru tenaga honorer ini tidak lagi bisa dibayar. Sementara jika mengikuti opsi-opsi yang kini ditawarkan, tidak semuanya menarik bagi mereka,” ujar Amin.

Selain soal sumber daya manusia, Amin juga mengungkapkan bagaimana beberapa mitra lembaga penelitian di luar negeri juga mempertanyakan perubahan restrukturisasi ini.

“Ada beberapa mintra di luar negeri yang sudah lama bekerjasama dengan Eijkman, mempertanyakan tentang birokrasi kerjasama itu karena seluruh dana hibah akan dikelola oleh BRIN, dan ada kebijakan baru tidak boleh ada komponen honorarium. Jadi meskipun Eijkman mendapat banyak hibah, kelak tidak ada tambahan bagi peneliti,” kata Amin.

“Juga kemungkinan untuk merekrut RA (research assistantship.red) juga lebih sulit, kemungkinan pemberi hibah atau sponsor untuk melakukan audit juga belum jelas. Selama ini di Eijkman, jika bekerjasama dengan institusi asing maka mereka akan datang setahun sekali untuk melakukan audit dan melihat langsung pengelolaan riset kita,” tambahnya. Namun ia tidak merinci siapa saja mitra-mitra riset yang mempertanyakan restrukturisasi ini.

Pengkajian Ulang

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko memastikan tidak akan ada yang berubah dalam kerjasama dengan mitra-mitra peneliti sebelumnya, termasuk yang berasal dari luar negeri, “tetapi mungkin teman-teman kami akan melihat lagi cara dan ketentuannya karena ini sebenarnya aset genetik yang ada di Indonesia. Ini harus diperlakukan dengan sangat hati-hati, jangan sampai nanti dibawa keluar, lalu kita gak punya apa-apa, hanya dapat dana risetnya saja, dan nanti mereka yang bikin obatnya. Khan kita yang repot karena akhirnya justru kita harus impor obatnya. Ini yang saya minta dikaji betul, tentunya tanpa bermaksud ingin mempersulit. Kita harus punya bargaining position dan tidak hanya jadi ajang laboratorium mereka sebagaimana yang selama ini terjadi,” ujar Handoko.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko. (Courtesy : BRIN)
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko (Courtesy: BRIN).*

Lebih jauh mantan peneliti di LIPI ini juga membenarkan bahwa pihaknya telah menggabung dan memindahkan piranti diagnosis, seperti piranti diagnosis PCR untuk virus corona dan pengurutan keseluruhan genom atau whole genome sequencing (WGS).

“Memang ini dihentikan untuk PRBM Eijkman, tetapi dukungan untuk Kementerian Kesehatan tetap berjalan karena dikelola oleh Deputi Infrastruktur. Selama ini piranti itu dikelola oleh tiga pihak: Lakpesda Kemenkes, Eijkman dan tim Cibinong, yang kemudian kita gabung, baik untuk WGS, uji virus dll. Kami minta pusat riset fokus ke riset saja, tidak usah mengurusi itu, toh ngerepotin mereka juga. Layanan itu biar di-handle Deputi Infrastruktur. Tidak hanya layanan di Eijkman, di badan-badan lain juga. Semua layanannya kita tarik supaya fokus. Periset itu tidak usah dibebani segala macam yang berada di luar ranah riset,” papar Handoko.

Tujuan Baik

Meskipun tidak setuju dengan konsep ini karena menilai periset dan piranti yang digunakan merupakan satu kesatuan, Prof. Amin Soebandrio, mantan kepala Eijkman yang juga guru besar mikrobiologi klinik di Universitas Indonesia, mengatakan ia tahu persis restrukturisasi ini bertujuan baik.

“Niat pembentukan BRIN ini, yaitu untuk efesiensi dan meningkatkan performance para peneliti, membuat dana negara yang digunakan lebih efektif, dan mengkoordinasikan semua kerja penelitian, tentunya baik. Meskipun kata “koordinasi” ini diimplementasikan cenderung memusatkannya ke satu tempat karena konsep yang dianut adalah co-working space, di mana sarana penelitian digabung dan semua orang boleh menggunakannya. Tidak ada yang didedikasikan untuk kelompok tertentu,” jelasnya.

“Mungkin untuk penelitian fisik dan sebagainya bisa, tetapi untuk yang menggunakan bahan biologis yang utamnaya dari manusia, kita membutuhkan fasilitas dengan bio-security dan bio-safety yang tinggi. Jadi tidak lazim atau tidak applicable jika piranti laboratorium dipakai oleh banyak yang kita tidak punya kendali. Tapi saya yakin setelah ada masukan dari berbagai pihak, nanti akan ada perbaikan menuju ke arah yang lebih baik,” imbuh Amin.

Tim Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU) dan Pusat Pembuatan Vaksin Malaria “Sanaria” melangsungkan pertemuan di kantor Sanaria di Maryland, AS, 14 Oktober 2021.
Tim Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU) dan Pusat Pembuatan Vaksin Malaria “Sanaria” melangsungkan pertemuan di kantor Sanaria di Maryland, AS, 14 Oktober 2021.*

Di Amerika, badan riset dan pengembangan didanai dan dioperasikan oleh beragam sektor, termasuk pemerintah federal, pemerintah negara bagian, bisnis, dunia pendidikan dan organisasi-organisasi non profit. Beberapa badan riset terkemuka yang berada di bawah pemerintah federal antara lain National Aeronautics and Space Administration (NASA), National Institute of Health (NIH), National Science FoundationNational Oceanic & Atmospheric Administration (NOAA), dan US Geological Survei. Sementara pusat penelitian di tingkat universitas yang berpengaruh dan kerap bermitra dengan berbagai institusi di dalam dan luar Amerika adalah yang terdapat di Universitas Harvard, Universitas Stanford dan Massachusetts University of Technology.

Pada tahun 2018, lewat sebuah undang-undang yang disetujui secara bipartisan di Kongres, disepakati untuk mengembangkan anggaran bagi dunia riset dan pengembangan hingga 100 miliar dolar selama lima tahun mendatang. Investasi ini membantu riset dalam berbagai bidang, terutama kecerdasan buatan, robotika dan advanced-manufacturing(M1-VOA/em/jm)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: