METRUM
Jelajah Komunitas

Pentingkah Resolusi Tahun Baru?

Oleh Erik Maydia*

KEBANYAKAN orang menganggap bahwa resolusi awal tahun sangatlah penting. Banyak dari mereka yang berlomba-lomba menyusun resolusi sebagus mungkin untuk nantinya dipamerkan di sosial media masing-masing.  Selain itu, resolusi juga menjadi sumber kebahagiaan sederhana bila ada satu saja dari daftar impiannya yang terlaksana. Dengan seiring bergantinya waktu, mereka berharap dapat menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Tidak ada yang salah dengan merumuskan resolusi tahun baru. Namun, kita semua pasti tahu hidup tidak semudah merangkai resolusi. Berbagai hal bisa saja terjadi diluar ekspektasi. Kebanyakan dari mereka yang memiliki resolusi tahun baru terjebak pada euforia sesaat, tanpai memikirkan aksi untuk mencapai resolusi yang dibuat.

Berdasarkan definisi yang ditulis Cambridge Advanced Learner’s Dictionary & Thesaurus, Resolusi Tahun Baru adalah tradisi sekuler yang umumnya berlaku di Dunia Barat, tetapi juga bisa ditemukan di seluruh dunia. Menurut tradisi ini, seseorang akan berjanji untuk melakukan tindakan perbaikan diri yang akan dimulai pada Hari Tahun Baru. Sedangkan yang namanya janji, bila diingkari sama saja dengan mengkhianati diri sendiri.

Resolusi yang tadinya dibuat mulai dari yang sederhana seperti ingin bahagia hingga yang fantastis seperti ingin membangun bisinis, ujung-ujungnya hanya ekspektasi belaka. Semangatnya hanya menggebu-gebu di awal saja, namun lambat laun akan kehilangan motivasi dan menjalani hari dengan apa adanya saja. Ketika satu tahun berakhir, mereka hanya bisa tersenyum getir meratapi resolusi yang telah mereka buat sebelumnya.

Penelitian Resolusi tahun baru (Sumber: Google image – Liputan6.com/Triyasni).*

Melansir laman Ruang Guru, pada Selasa (2/1/2022), menurut studi yang dilakukan Universitas Scranton, hanya 8% orang yang berhasil mewujudkan resolusinya.

Data dari YouGovAmerica menunjukkan sekitar seperempat orang Amerika akan membuat resolusi tahun baru, dan kebanyakan orang berpikir mereka akan mencapainya bahkan 20%. Kebanyakan orang optimis, dengan 86% mengharapkan 2022 sama atau lebih baik dari 2021. Dan semakin muda orang, semakin optimis mereka tentang masa depan.

Resolusi Tahun Baru yang paling populer adalah tentang perbaikan diri (hidup lebih sehat 23% orang, menjadi bahagia 21%, menurunkan berat badan 20%, berolahraga 7%, berhenti merokok 5%, mengurangi minum 2%). Selain itu, orang memutuskan untuk memenuhi tujuan karier atau pekerjaan (16%) dan meningkatkan hubungan mereka (11%).

Ironi ini membuat beberapa orang beranggapan bahwa resolusi awal tahun tidak begitu penting. Mereka lebih memilih menjalani hidup bak air yang mengalir. Tentu, anggapan ini juga sah-sah saja. Mereka berpikir, resolusi tidak harus dibuat tiap akhir atau awal tahun saja. Bagi mereka, sepanjang hidup mereka akan terus mengevaluasi diri dan memperbarui visi misinya tanpa harus susah payah memikirkan resolusi yang baru.

Pada akhirnya, resolusi hanyalah soal selera. Tak ada yang mewajibkan dan tak mengapa bila tidak dilakukan. Hanya saja yang salah adalah apabila resolusi membuat kita terbebani dan menghalangi kita berkreasi karena hanya terpaku pada target tapi menutup mata pada realita yang terjadi. Selain itu, anggapan yang salah apabila tanpa resolusi hidup kita mengambang, tanpa tujuan, tanpa arti, dan tak berkembang menjadi orang yang lebih baik lagi.

Terlepas dari kelompok yang manakah kita, tanamkan pada diri sendiri untuk terus maju tiap hari. Kuncinya adalah melalui revolusi. Revolusi disini maksudnya ialah melakukan gebrakan, perubahan, upaya, usaha, atau aksi nyata. Seberapa kerennya resolusi pun tak bermakna tanpa revolusi, karena rencana besar tanpa pelaksanaan adalah sebuah kesia-siaan. Bukankah satu-satunya cara untuk mewujudkan mimpi adalah dengan segera bangun dari tidur?

Maka kiranya yang lama berakhir tanpa sesal dan yang baru dapat ditempuh dengan lebih baik. Selamat introspeksi diri, selamat menyusun resolusi, selamat mewujudkan mimpi.

Selamat tahun baru 2022!***

*Penulis, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (UNIBI)

komentar

Tinggalkan Balasan