METRUM
Jelajah Komunitas

LK.Ara, Maestro Sastra Gayo yang Menyalakan Api Tradisi Lewat Puisi

JAKARTA (METRUM) – Buku puisi terbaru LK.Ara berjudul Didong dan Tari Guel dari Gayo Aceh resmi diluncurkan dalam sebuah diskusi sastra yang digelar di Aula PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (24/7/2025). Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan representasi filosofis budaya Gayo yang dituangkan dalam bentuk sastra puitis.

Moderator diskusi, Fikar W. Eda — seorang jurnalis sekaligus penyair — menyatakan bahwa puisi merupakan bentuk tertinggi dari bahasa, sebagaimana para ulama masa lampau pun mengungkapkan isi hati melalui bait-bait puisi. Ia menambahkan bahwa karya-karya LK.Ara dalam buku ini sarat dengan metafora yang menyentuh rasa dari hati ke hati. Buku ini dicetak terbatas, hanya 50 eksemplar, namun diharapkan bisa berkembang lebih luas di kemudian hari.

Acara yang diselenggarakan oleh Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) ini mengangkat tema “LK.Ara, Maestro Seni Sastra Gayo: Suara dari Anak Gunung”. Ketua TISI, Moctavianus Masheka alias Bung Octa, menyebut LK.Ara sebagai penyair lintas generasi — Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi. Di usia 88 tahun, LK.Ara tetap produktif menulis, meskipun kini telah kembali menetap di kampung halamannya, Gayo, Aceh.

Diskusi sastra peluncuran buku antologi puisi “Didong dan Tari Guel dari Gayo, Aceh” karya LK.Ara berlangsung di Aula PDS HB Jassin, TIM, Jakarta, Kamis sore (24/7/2025) menghadirkan nara sumber Prof. Wildan (Rektor ISBI Aceh), dan Miko Pegayon (Praktisi Didong Jakarta) dengan moderator Fikar W. Eda (Jurnalis dan Penyair) serta MC oleh Swary Utami Dewi. (Foto: Lasman Simanjuntak).*

Menurut Bung Octa, puisi-puisi LK.Ara merefleksikan filosofi budaya Gayo secara utuh. Karya-karyanya menjadi jendela untuk memahami nilai-nilai lokal dan kekayaan makna dari tanah kelahirannya. Ia menegaskan bahwa TISI menjadi wadah bagi sastrawan dari berbagai daerah untuk memperkenalkan karya mereka.

BACA JUGA:  Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Baca Puisi 'Kalah Atau Menang' Dalam Siaran Live di RRI Pro 1 Frekuensi 91, 2 FM

Salah satu narasumber muda dalam diskusi ini, Miko Pegayon (29 tahun), adalah praktisi seni Didong yang berbasis di Jakarta. Ia merasa terhormat dapat hadir di tengah para seniman besar. Miko berharap kesenian Didong suatu hari nanti dapat masuk dalam kurikulum ekstrakurikuler sekolah. Ia kini menjalankan usaha kopi khas Gayo di kawasan Cipayung, Jakarta Timur.

Dalam sambutannya, LK.Ara menjelaskan bahwa buku ini tidak hanya ditulis untuk mengenang, tetapi untuk kembali menghidupkan nyala tradisi yang nyaris padam. Ia mengangkat sejarah, makna budaya, serta kiprah para maestro Didong dan Tari Guel yang telah membawa seni ini ke panggung nasional, termasuk dalam acara “Panggung Para Maestro” di Museum Nasional, Jakarta (11–12 Juli 2025).

“Buku ini saya persembahkan untuk generasi muda yang mencari akar, dan untuk siapa saja yang percaya bahwa kebudayaan adalah kompas untuk kembali pulang,” ujar LK.Ara.

Rektor ISBI Aceh, Prof. Dr. Wildan, M.Pd, menilai bahwa LK.Ara berhasil merangkai potongan sejarah dan nilai menjadi karya utuh yang bermanfaat bagi akademisi, seniman, hingga generasi muda. Buku ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan nafas panjang dari sebuah peradaban seni yang terus bertahan.

Etnomusikolog Endo Suanda turut memberikan apresiasi tinggi atas buku ini. Menurutnya, Didong dan Tari Guel adalah mahkota tradisi masyarakat Gayo yang menyimpan filsafat dan kearifan lokal dalam bentuk ekspresi seni. Ia berharap buku ini menjadi jembatan pengetahuan lintas generasi dan memperkuat pengakuan terhadap budaya Gayo di mata dunia.

Acara peluncuran juga menampilkan pembacaan puisi dari buku tersebut oleh sejumlah tokoh, seperti Prof. Rahmat Salam dari KP3ALA yang membacakan puisi berjudul ALA: Suara yang Tak Boleh Padam. Ia mengaku tersentuh hingga menangis saat pertama kali membaca puisi tersebut. Tokoh-tokoh lain yang turut membacakan puisi antara lain Endo Suanda, Jose Rizal Manua, Swary Utami Dewi, dan Putra Gara.

BACA JUGA:  Sutardji: Karya Puisi Tidak Boleh Loyo!

Jose Rizal Manua mengenang perkenalannya dengan LK.Ara sejak 1972 dan menilai sang penyair sangat berjasa memperkenalkan sastra di Jakarta serta pernah menginisiasi Festival Didong pada era 1970-an hingga 1980-an.

Sejumlah seniman dan sastrawan nasional hadir dalam acara tersebut, termasuk Nanang R. Supriyatin, Pulo Lasman Simanjuntak, Giyanto Subagio, Wig SM, dan Nuyang Jaimee. (Lasman Simanjuntak)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.