METRUM
Jelajah Komunitas

Menelisik Kecerdasan Majemuk Peserta Didik

Oleh Dr. H. Nana Suryana, S.Pd. M.M.Pd.*

MEMILIKI peserta didik yang cerdas merupakan anugrah dari Tuhan yang Maha Kuasa, yang merupakan dambaan dan kebanggaan para orang tua dan guru-gurunya. Cerdas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sempurna perkembangan akal budinya, tajam pikiran, dan sempurna pertumbuhan tubuhnya, dalam arti memiliki tubuh yang sehat dan kuat. Lebih lanjut Lusi Nuryanti (2008:57) mengungkapkan bahwa taraf kecerdasan menunjukkan kemampuan berpikir, kemampuan menalar, dan kemampuan memecahkan masalah menggunakan logika. Memaknai definisi di atas, tentu yang diharapkan adalah peserta didik yang memiliki kecerdasan yang lengkap, baik dari sisi emosionalnya, intelektualnya, maupun cerdas dari sisi spiritualnya.

Nana Suryana.*

Cerdas emosional yakni kecerdasan yang berhubungan dengan hati, kepedulian antar sesama manusia, kepedulian terhadap makhluk lain dan alam sekitar. Cerdas intelektual yakni terkait dengan pemberdayaan fungsi pikiran, perasaan, dan perbuatan (otak, hati, dan anggota fisik lainnya) sehingga dapat berinteraksi secara harmonis antara yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan cerdas spiritual yaitu kecerdasan yang berhubungan dengan keyakinan kepada Tuhannya yang dapat menumbuhkan rasa takut, taat, cinta dan sayang terhadap-Nya, sehingga tutur kata, sikap, dan perbuatannya selalu berusaha sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum agama yang dianutnya.

Terkait dengan hal tersebut di atas, setiap peserta didik sebagai individu, dia dianugrahi kecerdasan oleh Tuhan dengan jenis dan tingkatan kecerdasan yang berbeda-beda, agar satu sama lain saling menutupi dan saling membutuhkan sehingga tercipta hubungan yang harmonis dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Perbedaan jenis dan tingkat kecerdasan inilah yang dinamakan dengan potensi diri yang apabila secara terus-menerus dibina, dilatih, dan dikembangkan akan menjadi bakat (Lusi Nuryanti, 2008:58). Tentunya potensi diri ini mesti disadari akan keberadaannya oleh setiap peserta didik. Sebab di level pendidikan dasar, ada kalanya peserta didik sendiri belum menyadari bahkan belum mengetahui potensi apa yang sebenarnya dia miliki.

Oleh karena itu, tugas guru ialah membantu menggali untuk menemukan potensi para peserta didik tersebut bila perlu sampai menyelisik potensi yang mungkin masih tersembunyi dan belum diketahui oleh peserta didik itu sendiri. Untuk itu, dengan segenap tugas dan tanggung jawab guru, baik moril maupun spirituil untuk menjadikan peserta didik agar dapat menemukan dan memaksimalkan seluruh potensinya.

Hal tersebut sebagaimana termaktub dalam UU Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005, bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utamanya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Sehingga hasil yang diharapkan menjadikan peserta didik menemukan potensi dirinya dan melatihnya menjadi kecerdasan atau keunggulan yang optimal.

Terkait dengan kecerdasan peserta didik, seorang psikolog terkenal beraliran humanistic Howard Gardner atau Antony Wilker dari Harvard University, dalam bukunya berjudul Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences (1983) memaparkan jenis-jenis kecerdasan majemuk peserta didik, diantaranya: Spasial-Visual (picture smart), Linguistic (word smart), Interpersonal (people smart), Musicalistyc (music smart), Naturalistic (nature smart), Body Kinestetic (body smart), Intrapersonal (self smart), dan Logic Matematic (matematik smart).

Jenis-jenis kecerdasan tersebut agar lebih mudah diingat maka dirangkum dalam sebuah kalimat yang disingkat dengan SLIM-N-BIL. Namun dalam bukunya yang mutakhir Are There Additional intellegences (1998), Howard Gardener menambahkan kecerdasan yang lain, yaitu kecerdasan spiritual dan kecerdasan eksistensial.

 Berikut ini uraian secara singkat tentang jenis-jenis kecerdasan majemuk peserta didik (Multiple Intellegences), diantaranya:

  1. Spasial-Visual (S), yakni kemampuan melihat dunia secara akurat. Ciri-ciri peserta didik yang memiliki kecerdasan dibidang ini dia mempunyai kepekaan yang tajam dalam mengolah komposisi, proporsi, warna, garis, bentuk, bidang, ruang, dan tekstur. Kecenderungannya peserta didik tersebut menyukai seni visual seperti: seni lukis, seni patung, seni kerajinan, seni taman, arsitek atau seni penataan bangunan dan ruang, seni foto, desain, seni dekorasi/hias, seni variasi otomotif. Selain itu dia juga dapat mengingat kembali peristiwa-peristiwa melalui gambar, serta sangat mahir dalam membaca peta dan denah. Oleh karena itu mereka lebih diarahkan pada keahlian dibidang; pelaut, pilot, pemahat, pelukis, arsitek, dan lain-lain.
  2. Linguistik (L), yakni kemampuan dalam berbahasa. Ciri-ciri peserta didik yang memiliki kecerdasan dibidang ini dia lihai merangkai kata-kata baik dalam bentuk bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Kecenderungannya dia menyukai kegiatan membaca dan menulis cerita, membaca dan menulis puisi, diskusi atau berdebat, membuat berita, senang mencorat-coret dan menulis ketika mendengar atau berbicara, sering membuat coretan-coretan kecil di atas secarik kertas, lihai dalam mempresentasikan gagasannya, serta senang dengan teka-teki silang atau permainan kata-kata. Maka sebaiknya mereka lebih banyak dibina yang mengarah pada bidang pekerjaan: penulis, penyair, jurnalis, pembicara, orator, penyiar berita, dan lain-lain.
  3. Interpersonal (I), yakni kemampuan memahami dan sekaligus membina hubungan yang efektif dengan orang lain. Ciri-ciri peserta didik yang memiliki kecerdasan dibidang ini biasanya lebih peka atau lebih memahami terhadap perasaan, watak, dan kepribadian teman-temannya. Kecenderungannya dia senang jika dapat berinteraksi dengan orang lain, senang berorganisasi, senang melakukan permainan dalam tim dari pada permainan single (tunggal), selalu bergairah dalam belajar kelompok daripada belajar sendiri, selalu melibatkan diri dalam club-club atau berbagai aktivitas ekstrakurikuler, merasa peduli dan penuh perhatian pada masalah yang sedang dialami teman-temannya. Oleh karena itu mereka dibina dan diarahkan pada bidang pekerjaan seperti guru, actor, politisi, dan para pekerja sosial lainnya.
  4. Musicalistyc (M), yakni kemampuan dalam musik. Ciri-ciri peserta didik yang memiliki kecerdasan dibidang musik dia mempunyai kepekaan terhadap ritme, melodi, irama, dan nada dari musik yang didengar. Kecenderungannya dia sangat tertarik untuk memainkan instrument musik, dapat mengingat dengan mudah baik lagu maupun liriknya, lebih mudah belajar dengan pola-pola dan irama musik, selalu terfokus pada hal-hal yang berkaitan dengan bunyi-bunyian sehingga tidak heran suka mukul-mukul meja atau benda lain yang dianggap dapat menghasilkan suara, mahir memainkan intonasi dalam membaca puisi sehingga menggugah rasa, mudah mengingat atau mencerna materi pelajaran jika suasana belajar diiringi irama musik, mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi ketika ada suatu radio atau televisi, sangat senang menikmati semua musik dan lagu, merasa bahwa irama musik jauh lebih menarik dari melakukan yang lainnya. Peserta didik yang kecenderungannya demikian, maka sebaiknya dibina yang mengarah pada pekerjaan composer, dirigen, musisi, kritikus, pengarang musik, dan penikmat musik.
  5. Nature (N), yakni kemampuan mengenali alam baik flora maupun fauna. Ciri-ciri siswa yang memiliki kecerdasan naturalis dia memiliki kemampuan untuk mengenali, membedakan, mengungkapkan, memahami, menikmati, dan memanfaatkan alam secara produktif, serta mengembangkan pengetahuannya tentang alam. Kecenderungannya dia mencintai lingkungan, mampu mengenali sifat dan tingkah laku binatang, senang melakukan kegiatan di alam, senang berdarmawisata ke alam atau ke kebun binatang, memiliki kepekaan terhadap alam, senang memelihara tumbuh-tumbuhan atau binatang, suka membawa-bawa binatang, bunga, dedaunan. Mereka yang memiliki kecenderungan demikian sebaiknya diarahkan pada bidang pekekerjaan seperti: ahli atau guru biologi, pencinta alam, penjelajah alam, pertanian, peternakan, perikanan.
  6. Body Kinesthetic (B), yakni kemampuan memanfaatkan tubuhnya dengan terampil. Ciri-ciri peserta didik yang memiliki kecerdasan dibidang ini dia mampu mengungkapkan ide, pemikiran, dan perasaan, serta memegang objek dengan mahir. Kecenderungannya dia menyukai olahraga dan berbagai kegiatan fisik, gemar berolahraga, cakap dalam melakukan sesuatu seorang diri, senang memikirkan persoalan sambil aktif dalam kegiatan fisik seperti berjalan atau lari, tidak tahan duduk pada suatu tempat dalam waktu yang agak lama, menyukai bahasa- bahasa  isyarat, menguasai seni pantomin, seni tari. Maka mereka sebaiknya dibina yang mengarah pada bidang pekerjaan: atlit, penari, ahli bedah, pengrajin, bagian pemasaran, dll.
  7. Intrapersonal (I), yakni kemampuan membangun anggapan yang tepat serta mampu merencanakan dan mengarahkan kehidupan orang lain. Ciri-ciri peserta didik yang memiliki kecerdasan intrapersonal dia dapat memahami kekuatan dan kelemahan diri sendiri, serta mampu memotivasi dirinya sendiri dan melakukan disiplin diri. Kecenderungannya dia sering menyendiri, memikirkan dan memecahkan masalah sendiri, memunyai hobi atau kesenangan yang bersifat individual, menyadari dengan baik tentang keyakinan atau moralitas, belajar sangat baik ketika guru memasukan materi yang berhubungan dengan sesuatu yang bersifat emosional, sangat mencintai keadilan, sikap, dan perilaku, memengaruhi gaya belajar dan metode belajar, peka terhadap isu-isu yang berhubungan dengan keadilan sosial, bekerja sendirian jauh lebih produktif daripada bekerja dalam tim, senang untuk bersikap protek terhadap diri, keluarga, bahkan orang lain, membuka diri atau bersedia melakukan protes. Peserta didik yang memiliki kecenderungan demikian sebaiknya dibina yang mengarah pada keahlian: teolog (ahli agama), psikolog, filsuf, dan lain-lain.
  8. Matematic-Logic (M), yakni kemampuan menghitung, mengukur, menggunakan rumus, dan menyelesaikan operasi matematik. Ciri-ciri siswa yang memiliki kecerdasan dibidang ini dia mampu memikirkan dan menyusun solusi dengan urutan yang logis atau masuk akal. Kecenderungannya dia senang bekerja dengan angka, senang menyiapkan jadwal perjalanan secara terperinci, senang dengan permainan yang membutuhkan kemampuan berpikir logis dan statistik seperti permainan catur, senang menyimpan sesuatu dengan rapi dan teratur, merasa tertolong dengan semua arahan yang dilakukan secara bertahap, ketika menyelesaikan masalah, semuanya dilakukan dengan mudah, merasa kecewa jika ada orang yang tidak teratur, dapat mengalkulasi secara cepat walaupun hanya di kepala, tidak berhenti mengerjakan latihan sampai semua dapat dijawab, bekerja dengan struktur yang teratur dapat membantu meraih sukses, tidak merasa puas jika apa yang dilakukan atau yang dipelajari tidak memberikan makna dalam kehidupan. Maka peserta didik yang memiliki kecenderungan demikian sebaiknya dibina pada bidang keahlian: ilmuwan, ahli matematik, akuntan, ahli mesin, programmer komputer, dll.

Dari uraian di atas tentang kecerdasan majemuk, tentu tidak perlu semua kecerdasan dimiliki peserta didik. Kalaupun hal itu terjadi, adalah suatu anugrah yang tidak terukur nilainya, dan itulah yang dinamakan “multi talent” yakni orang yang serba bisa. Namun paling tidak setiap peserta didik minimal menemukan satu kecerdasan pada dirinya sebagai bekal hidupnya, yang kemudian dibina dan dilatih agar potensi diri atau kecerdasan tersebut menjadi betul-betul unggul, dapat dikembangkan dan dimaksimalkan sehingga mengarah pada bidang keahlian yang akan digelutinya kelak.

Tentunya dengan berbagai upaya dan berbagai kegiatan, baik berupa kegiatan kurikuler, kokurikler, maupun ekstrakurikuler, agar potensi mereka menjadi kecerdasan yang mencapai titik optimal serta dapat membekali kehidupan mereka dikemudian hari.***

*Penulis adalah Pengawas Pembina SMP Kabupaten Subang/KACI

Referensi

  • Gardner, H. 1983. Frames of Mind, The theory of Multiple Intelligences. Basic Books Inc. Publishers, NY
  • _________. 1998. Are There Additional intellegences. Basic Books Inc. Publishers, NY
  • Gottman, J. & Joan DeClaire. 1998. Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional. Jakarta. PT Gamedia Pustaka Utama.
  • Nuryanti, L. 2008. Psikologi Anak. Jakarta. PT Indeks.
  • Sanusi, A. 2014. Pembaharuan Strategi Pendidikan. Bandung: Nuansa Cendikia.
  • Kemendikbud. 2012. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Pendidikan tentang Guru. Jakarta: BP. Bina Dharma Putra.
  • Kemendikbud. 2017. Kumpulan Perundang-undangan Seri Kependidikan dan Kepegawaian. Bandung: CV. Madany.

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: