METRUM
Jelajah Komunitas

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Tantangan Kedua (10)

Karya Wina Armada Sukardi

RUANGAN restoran tempat sarapan di Hotel Pelabuhan Ratu Internasional Indonesia masih ramai, bahkan tambah ramai. Terungkapnya ada orang yang ketemu Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul membetot perhatian orang-orang yang kebetulan ada di hotel itu, terutama yang mau dan sedang sarapan. Mereka berguncing seputar itu. Saat itulah seorang lelaki berpakian adat Sunda Jawa Barat, lengkap dengan ikat kepalanya, menghampiri Sang Tokoh. Dia menegaskan, sesungguhnya Sang Tokoh telah bertemu dengan Nyi Roro Kidul. Dia menuturkan, menurut kepercayaan masyarakat daerah pantai disana, semua data yang dikemukan Sang Tokoh sesuai dengan kebiasaan kemunculan yang dipercaya sebagai Ratu Pantai Selatan. Malam Jumat. Ada alunan musik gamelan. Semerbak harum bunga. Pukul sembilan. Memakai baju hijau. Sangat mempesona. Kemudian diliputi kepada pusing atau bahkan sering tidak sadarkan diri.

“Saya tidak tahu siapa Bapak,” kata lelaki itu kepada Sang Tokoh. “Tapi dapat saya simpulkan Bapak orang khusus yang hebat!”

Sang Tokoh menatap lelaki yang sedang bercerita tersebut. Lelaki itu bicara dengan berwibawa karena merasa mempunyai pengetahuan yang sangat luas soal Nyi Roro Kidul.

“Pertama, hanya segelintir orang yang dapat ketemu atau sekedar melihat langsung Ratu Pantai Selatan itu. Beribu orang mencoba berbagai cara dan metode agar dapat bertamu, atau sekedar melihatnya, tapi hampir semuanya gagal. Kalau pun ada yang bilang ketemu, mungkin itu cuma klaim saja. Kenyataannya, belum tentu ketemu. Tapi Bapak dapat berpapasan langsung. Melihatnya secara nyata.
Pasti Bapak orang khusus dan hebat.”
“Apa benar begitu?” tanya Sang Tokoh merendah.
“Iya. Buktinya, kedua, sangat langka Nyi Roro Kidul datang sendiri menemui manusia. Biasanya dia dipercaya hanya mengutus, katakanlah ajudan atau pengawalnya, untuk menjemput orang lelaki yang dikehendakinya. Tapi khusus Bapak, dia sendiri yang langsung menenui Bapak. Itu luar biasa. Hanya orang istimewa yang diperlakukan demikian oleh Nyi Roro Kidul.”

Sang Tokoh menyimak.

“Ketiga, Bapak dapat lolos, tepatnya selamat, dari ajakan atau godaan Nyi Roro Kidul. Hampir tak manusia yanh dapat lepas atau selamat dari sasaran Penguasa Laut Selatan itu. Semua tergoda mengikutinya , atau bahkan dijemput paksa. Setelah orang-orangn tersebut menghilang. Kalaupun kemudian ditemukan, pasti sudah menjadi jenazah!”

Semua hadirin memperhatikan tuturan Bapak itu.

“Tapi Bapak dapat selamat. Bapak berhasil menghindar dari pesonanya. Kalau tidak, mungkin minggu depan jenazah Bapak baru ditemukan. Hanya orang hebat dan khusus saja yang dapat terhindar seperi itu. Sekali lagi, saya tak kenal Bapak, tapi melihat Bapak masih kuat menghadapi kejelitaan dan daya tarik Nyi Roro Kidul, itu luar biasa.”
Sang Tokoh cuma mangut-mangut.

“Segitu saja,” kata lelaki tersebut. Dia kemudian berjalan keluar restoran menuju keluar gedung hotel ke arah pantai. Setelah dia berjalan ke arah pantai, tak ada yang melihatnya lagi.
Sang Tokoh sendiri juga bangkit dari duduknya menuju ke kamarnya. Semua yang hadir di restoran memandangi kepergiannya menuju kamarnya.

Tak lama setelah sampai ke dalam kamarnya, Sang Tokoh mendengar suara ramai di depan kamarnya. Mula-mula dia diamkan saja, namun makin lama terdengar makin gaduh. Dia pun mengintip dari kaca pengintip di pintu. Rupanya di depan kamarnya sudah berkumpul banyak orang. Ada apa gerangan? Dia pun membuka pintu kamar dan keluar. Begitu Sang Tokoh muncul dari pintu kamar, langsung diserbu orangg-oranng bekeru mun di depan kamarnya. Sang Tokoh rupanya memang sudah ditungggu, padahal tak ada satupun yang sebelumnya mengetahui di kamar berapa dia tinggal. Tak ada satu orang berkerumun itu yang dikenal Sang Tokoh.

Ternyata masih urusan Nyo Roro Kidul. Kabar Sang Tokoh berjumpa dengan Ratu Pantai Selatan menyebar secepat kilat kemana-mana. Mau tidak mau Sang Tokoh menjadi pusat perhatian. Orang-orang yang ada di depan kamarnya ingin mengetahui lebih lanjut seluk-beluk kisah Sang Tokoh bertemu dengan lagenda di pantai Selatan. Rupanya waktu Sang Tokoh meningalkan restoran tempat sarapan, ada yang mengikutinya sehinggg mereka mengetahui nomer kamarnya.

“Saya ini sudah hampir lima tahun setiap malam jumat bersemedi di kamar Nyi Roro Kidul di hotel ini. Bapak kan tahu Nyi Roro Kidul sejak dulu di hotel ini disediakan kamar. Saya sudah hampir lima tahun hadir di kemar itu. Tapi usaha untuk dapat berjumpa atau melihat Nyi Rororo Kidul selalu tidak berhasil. Gagal total. Bapak kok saya dengar langsung dapat ketemu. Bagaimana caranya bapak dapat berjumpa dengan beliau. Tolonglah di ceritakan kepada kami,” ujar seorang lelaki berjenggot, brewokan dan berkumis tebal yang semuanya sudah memutih
“Ah, cuma kebetulan saja barangkali,” elak Sang Tokoh.
“Tidak mungkinlah,” kata lelaki tadi.”Kalau begitu, beritahu kami syarat-syaratnya apa saja? ”
“Gak ada syarat-syaratnya. Malah gak parsiapan apa-apa. Ya untung-untungan ketemu begitu saja.”
“Perlu puasa lebih dahulukah?” tanya lelaki lain berpakaian hitam-hitam.
“Wah saya tidak tahu, tapi saya sih tidak.”
“Kalai begitu, jangan-janhan Bapak inilah titisam atau keluarga dari Nyi Roro Kidul sendiri. Benar kan Pak?” kata seorang anak muda.

Lantas tetiba ada beberapa orang yang mencoba menyembah dan bahkan bersujud kepada Sang Tokoh. Ini sudah tidak benar, pikir Sang Tokoh. Sudah menyimpang. Sudah keterlaluan. sudah cenderung kufur. Sang Tokoh seketika meminta orang-orang yang ingin menyembahnya ibangkit lagi. Bagaimana ini, tak mungkin mengusir mereka, kata kata Sang Tokoh, dalam hati. Berabe. Mereka dapat terus bertahan dan bahkan lebih banyak lagi yang bakal datang. Harus ada ada cara yang tepat mengatasinya. Sang Tokoh cepat berpikir mencari jalan itu.

“Baiklah Bapak-bapak dan ibu-ini seperjuangan,” sengaja Sang Tokoh memapakai kata “seperjuangan” agar mereka percaya kepadanya. “Kapan-kapan, kalau ada waktuyang pas, saya mau cerita mengenai pertemuan dengan Ratu Pantai Selatan yang banyak dihormati disini,” kata Sang Tokoh, kemudian diikuti pernyataan untuk melepaskan diri dari mereka.”Cuma hari ini saya masih sangat lelah. Tahu sendiri kan bertemu dengan Nyi Roro Kidul makan banyak energi.

Jadi saya mohon kepada Bapak-bapak ibu-ibu sekarang untuk sudilah kiranya meninggalkan saya. Saya mau istirahat. Mau memulihkan batin.Dengan hormat ayo tingggalkan saya dulu ya. Terima kasih.“
Kerumunan itupun pergi tanpa keluh kesah. Sang Tokoh menarik nafas lega dan masuk lagi ke kamar. Meskipun demikian, rencananya untuk hiling, mencarindan mendapat ketenangan di Pelabuhan Ratu, menjadi buyar. Para pemburu dan pengagum Nyi Roro Kidul bakal terus mendatanginya dengan berbagai pertanyaan. Makin lama akan makin banyak yang akan datang. Tak mungkin lagi Sang Tokoh. Istirahat.

Berundinglah Sang Tokoh dengan keluarganya, bagaimana mengatasi gangguan ini. Keputusannya: semu-
keluarga segera check out meninggalkan hotel. Pindah ke Bali. Hari itu juga mereka berangkat ke Bali. Merek bakal liburan dan menginap di Bali sisa hari dari rencana liburan di Pelabuhan Ratu, sekitar 3 atau 4 hari. Jika diperlukan dapat ditambah.

Dari Pelabuhan Ratu mereka langsung berangkat Soekarno Hatta. Tiket sebelumnya sudah dipesan secara online. Zaman digital semua sudah dapat diatur memakai teknologi. Semuanya menjadi serba praktis. Mobil yang dipakai dititipkan di area penginapan mobil.

Keluarga Sang Tokoh harus menunggu jadwal penerbangan sekitar tiga jam. Itu sudah penerbangan yang paling terdekat. Perjalanan Pelabuhan Ratu Bandara Udara Soekarno Hatta Cenkarang sekitar tiga jam. Mereka berangkat sudah agak siang. Dapatlah pesawat ke Bali agak sorean. Selama menanti di Bandara Soekarno-Hatta mereka hanya makan dan kemudian duduk di ruang tunggu.

Begitu mendarat di Bali dan turun dari pesawat, sangat terasa armosfir Bali sangat lain. Iklim di Bali memberikan kedamaian dan keteduhan, meski udara sebenarnya panas. Kepingan surga yang jatuh ke dunia ini, demikian Bali sering dijuluki pengamat wisata, bagaikan magnit untuk mengundang turis, bukan saja karena pemandangannya yang, indah tetapi juga nuansa kebatinan yang teduh. Itulah yang dirasakan keluarga Sang Tokoh terutama Sang Tokoh sendiri.

Berjalan menuju pengambilan barang, Sang Tokoh berada pada posisi paling belakang. Dia santai saja menikmati Bali. Wajahnya juga menyuratkan rasa nyaman. Santai. Dia berjalan perlahan sambil menikmati hiruk pikuk Banda Ngurai Rai Bali. Baru di Bandara saja nuansa kebatinan Bali sudah berbeda. Selain memberikan rasa tenang, walaupun pulau wisata, Bali tidak menghadirkan keterburu-buruan. Segalanya berlangsung seperti sesuai dengan irama alam. Sang Tokoh merasa nyaman dan menikmatinya.

Saaat itulah, tap! Tiba-tiba tangan kanan dan kirinya diapit oleh dua orang di kanan kirinya. Keduanya berbadan kekar. Orang di sebelah kiri, berkulit hitam pekat dengan sorotan mata kejam.
Sedangkan orang yang di sebelah kanan, berkukit kuning dan matanya sipit. Tubuhnya juga kekar. Keduanya memakai jaket.

Sekali diputar oleh kedua orang itu, badan Sang Tokoh sudah berbalik arah. “Jangan berteriak. Jangan bicara. Ikuti saja kami,” kata orang yang berbadan hitam. “Kalau tidak badannu pasti remuk!”
Sebenarnya Sang Tokoh tidak gentar. Dia sama sekali tidak khawatir dengan ancaman ini. Oleb sebab itu dia masih santai dan berpikir segera melawan.

“Jangan coba melawan! Ingat keluarga Anda juga bisa terancam lebih parah!” timpal si mata sipit. Sang Tokoh mau menengok ke belakang mencari tahu keadaan keluarganya, tetapi segera didorong ke depan lagi oleh si hitam. Sang Tokoh tidak takut akan keselamatan dirinnya, lantaran dia percaya dapat mengatasinya sendiri, namun keselamatan keluarganyan lain soal. Demi keselamatan keluarganya, Sang Tokoh dia tidak jadi melawan dan memilih mengikuti dua orang yang membawanya.
“Kalian siapa?” tanya Sang Tokoh
“Nanti juga tahu sendiri!” jawab si mata sipit
“Saya mau dibawa kemana?”
“Nanti juga tahu sendiri!”

Sang Tokoh rupanya dibawa ke sebuah lapangan rumput kecil yang berada di luar area parkir. Disana sudah menunggu seorang lelaki memakai jas lengkap. Sepatunya hitam mengkilat. Tinggi. Ganteng. Kelihatannya dia blasteran. Ada turunan bulenya. Pancaran matanya penuh kebencian dan kebengisan. Sang Tokoh mengira-ngira
siapa geranhan lelaki ini. Rasanya dia belum pernah ketemu dengannya, apalagi ada urusan.
Begitu sampai di hadapan orang ini Sang Tokoh dilepas dua orang yang menghampitnya.

“Telepon dulu keluargamu, bilang you mau ketemu temen dulu, biarkan mereka pergi duluan ke hotel. Nanti you menyusul,” perintah lelaki yang ada di hadapannya. “Dan jangan sekali-kali menyampaikan yang lain, kalau keluarga you mau tetap selamat!”
Kendati tidak detil mengatakan ancamannya apa, namun tak ada pilihan lain bagi Sang Tokoh selain mengikuti perintah orang itu.
Begitu Sang Tokoh selesai menelpon, orang itu membuat gerakan seperti memukul dengan dua tangan dari tempatnya berdiri. Berjarak sekitar dua meteran dari Sang Tokoh, tapi tubuh Sang Tokoh terasa kena pukulan yang menyebabkan Sang Tokoh terpental.
“You harus mengetahui kekuatan kam!” kata lelaki itu.
“Maaf, saya ngaku kalah. Kalian lebih hebat!” jawab Sang Tokoh merendah. Dia hanya ingin persoalannya selesai. Dia tak tahu siapa mereka dan ingin apa mereka. Daripada memperpanjang urusan yang tidak jelas, pikir Sang Tokoh, lebih baik dia mengalah saja.
Sebuah pukulan jarak jauh dilakukan lagi oleh lelaki itu. Sang Tokoh terpental
Lagi. Sang Tokoh sama sekali tidak melawan.
“Ayo bangun! Ayo lawan!”
“Wah, maaf saya pasti keok dong. Saya hak punya kekuatan apa-apa,” kilah Sang Tokoh.
“Biar tahu saja! Kami sudah lama mencari-cari dan menemukan you. Di Jakarta kami pantau terus, tetapi selalu tak memperoleh kesempatan. You dilindungi banyak pihak. Di Pelabuhan Ratu kalian masih berusan dengan Nyi Roro Kidul. Jadi kami pun tak bisa masuk. Tapi kini saatnya yang tepat!”
“Maaf kenapa harus melawan saya yang tidak tahu apa-apa dan lemah?!”
Pria itu tertawa keras.
“Kita berada di dalam uia kutup yang berbeda. Menurut makro kosmos, orang seperti you hanya ada satu di antara 100 juta manusia. Sementata orang seperti saya hanya ada setiap 10 juta seoran. Jadi kita sama-sama langka. Cuna jenis you lebih langka.”
Sang Tokoh menyimak serius.

“Perbedaan lain, you masuk klasitfikasi percaya kepada kebaikan, sementara kami justeru sebaliknya hanya percaya kepada kekuasaan. “
“Lantas kenapa Anda harus mencari dan bersoalan dengan saya?”
Orang itu kembali mengarahkan pukulan jarak jauhnya ke benda yang ada disitu. Seketika barang tersebut hancur.
“Hubungan kita bagaikan alam, siapa kuat dia menguasai. Kalau saya melawan you tapi you tidak melawan saya, saya tidak memperoleh power atau kekuasaan apapun. Gak ada hasilnya.
Peraturannya, you harus melawan! Kalau you udah melawan dan you tumbang, maka kekuasaan saya di anatara jenis kami bertambah lebih besar lagi. Saya bisa dianggap penting di kelompok saya. Bisa masuk jajaran elit.
Di samping itu saya dapat tambahan besar kemampuan saya.”
Sang Tokoh masih menyimak.

“Dan, jangan lupa, kalau saya kalahkan you, satu jenis seperti you hilang dari muka bumi. Berarti 100 juta manusia kehilangan.”
“Kalau saya tetap tidak mau melawan?”
“Keluarga you terancam!”
“Jadi?”
“Kita harus bertarung. Supaya you gak lepas lagi.”
“Kapan?”
“Besok. “
“Iya Besok. Di Bali juga. Tempatnya nanti kami atur!”
Orang itu beserta dua pengikutnya langsung pergi meningalkan Sang Tokoh yang masih termenung***

(Bersambung)

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.