METRUM
Jelajah Komunitas

“Our Story, Our Land”, Refleksi dan Ruang Sakral dalam Pertunjukan Tari

MAHASISWA Integrated Arts Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan menggelar pertunjukan tari “Our Story, Our Land” pada Sabtu, 15 Juni 2024, mulai pukul 15.00 WIB. Kegiatan dilaksanakan di Gedung Pascasarjana Universitas Katolik Parahyangan. Dalam acara ini, panitia telah mempersiapkan dua ruang pertunjukan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Ujian Akhir Semester mata kuliah “Tubuh sebagai Media” yang dikembangkan dan diampu oleh Dr. Feriyal Amal Aslam. Gerakan tubuh yang disajikan berbeda daripada pertunjukan tari pada umumnya. Pendekatan multidisiplin dan refleksi yang mendalam menjadi ciri khas dari mata kuliah ini.

Selamat Datang di Ruang Sakral Kami

“Welcome to our sacred space…” Dr. Feriyal menyambut peserta. Halaman berubah menjadi ruang sakral. Dr. Feriyal menambahkan bahwa kelas dan studio menjadi ruang sakral baginya dan mahasiswanya, itu adalah ruang aman dan nyaman untuk berbagi hal-hal batiniah yang mendalam secara terbuka. Dengan sambutan demikian, Dr. Feriyal memperluas ruangan dan menyambut peserta untuk menyaksikan dan mengalami pertunjukan secara utuh.

Mata kuliah Tubuh dan Media melibatkan mahasiswanya untuk melakukan refleksi dan jurnal. Mengeksplorasi diri secara multidisiplin dari kebudayaan, musik, pengalaman tubuh atau somatik, dan tari. Mahasiswa dipandu untuk berpijak dan jujur pada diri sendiri sebagai landasan dalam eksplorasi seni. Proses yang dilalui bersama-sama mendorong aktualisasi diri dan penyembuhan mental emosional. Mata kuliah ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana pertunjukan bisa dibangun dengan kesadaran dan kepekaan terhadap budaya dan pengalaman hidup.

Sepanjang perkuliahan tersebut, Dr. Feriyal menyebutkan ada tiga dosen tamu yang terlibat untuk memperkaya pengalaman mahasiswa. Dr Ari Palawai dari Universitas Syiah Kuala telah membagikan kuliah “Exploring Sound and ‘Phonocentricity’ in Indonesian Culture and Society”, M Rhaka Katresna telah berbagi mengenai “Dance and Healing: A Personal Journey on Embracing Neurodiversity” dan Dr. Eko Supriyanto yang rencananya bakal membagikan penciptaan koreografi di pekan berikutnya.

“I learned about sound and phonocentricity that I previously have no idea about… and we learned how to explore our emotions through our body, also talking about disability like autism and others (Saya belajar tentang suara dan fonosentrisitas yang sebelumnya saya tidak tahu… dan kita belajar bagaimana menggali emosi melalui tubuh kita, juga berbicara tentang disabilitas seperti autisme dan lainnya),” jelas Dr. Feriyal seraya memperkenalkan Rhaka yang juga hadir di ruang pertunjukan.

Poster kegiatan.*

Eksplorasi Maskulinitas dan Femininitas

Atom, seorang mahasiswa yang tampil dalam acara ini memperkenalkan diri dan memberikan pengantar tentang pertunjukannya.

“In this performance I explore the femininity and masculinity within someone’s mind. It’s based on the experience of a person (dalam pertunjukan ini, saya mengeksplorasi femininitas dan maskulinitas dalam pikiran seseorang. Ini didasarkan pada pengalaman seorang individu),” ujar Atom yang menari bersama seorang perempuan.

Dalam aksinya, tampil seorang laki-laki yang menunjukkan gerak-gerak feminin. Musik gemulai berdendang, semakin mendorong si laki-laki lebih lincah dalam mengekspresikan dirinya. Teknik dan gerakan vogue ditunjukkan dengan semangat. Vogue, atau yang dikenal juga sebagai voguing, adalah tarian rumah modern yang sangat bergaya dan berasal dari Harlem, New York pada akhir 1980-an.

Tarian tersebut tak lama sehingga kemudian si laki-laki menggunakan topeng untuk menutupi wajahnya. Sedangkan Si perempuan mulai bereaksi dengan gerak yang menunjukkan amarah. Gerakan bergulir dengan hentakan dalam gaya tradisi.

Interaksi di antara kedua penari menunjukkan pergumulan antara sifat maskulin dan feminin yang ada di dalam diri seseorang. Jelas menggambarkan pergumulan internal yang dialami seseorang mengenai ekspresi gender, apakah itu feminin dan maskulin.

Di akhir pertunjukan, Atom dan Dr. Feriyal mengundang penonton untuk membagikan refleksi tentang apa yang dirasakan dan dipikirkan selama menyaksikan pertunjukan.

Melepas Topeng Identitas

Dr. Feriyal memandu penonton pindah ke halaman parkir. Ryan yang tampil bertopeng sedang duduk, seakan menyambut kedatangan penonton. Setelah semua hadirin duduk, musik bermain bersamaan dengan pertunjukan tari.

Keseluruhan pertunjukan Ryan terbagi dalam empat bagian. Bagian pertama menunjukkan Ryan menari dengan topeng putih. Serupa panji, gerak-gerak halus dan teratur mengalir. Dalam pikiran saya, muncul bayangan dan pikiran tentang sikap dan perilaku seseorang yang ideal dan baik.

Topeng hitam diikatkan di sisi kepala, tampak menjadi penanda menuju bagian berikutnya. Gerak-gerak mulai menjadi tidak teratur dan tampak representatif bak pantomim. Saya merasakan ada perubahan dari dalam diri seseorang yang dipengaruhi oleh lingkungannya.

Kemudian topeng hitam kini menimpa topeng putih. Penari menunjukkan aksi seperti duduk bermain permainan gawai atau smartphone. Warna gerak tradisi mengalir dengan hentakan. Berakhir dengan jatuhnya penari ke lantai. Pada akhirnya, penari melepaskan semua topeng. Berdiri dengan irama dan memberikan gestur menasehati kepada topeng. Ini berlanjut hingga pertunjukan berakhir.

Di akhir pertunjukan, Ryan menjelaskan proyek pertunjukannya yang berjudul “Topeng Melalui Saya”. Ini merupakan tari semi-dramatologi yang bereferensi dari tari tradisional topeng Cirebon. Ryan meniru aspek keabstrakan tari topeng Cirebon dengan efek dan gerakan berbeda-beda pada setiap orang. Sama seperti pertunjukan Atom sebelumnya, peserta diundang untuk membagikan refleksinya selama dan setelah menyaksikan pertunjukan.

Pengalaman pribadi adalah referensi utama dari karya ini. Pandangan Ryan mengenai keberadaan “topeng-topeng dalam hidup” dan diwujudkan tanpa konteks yang jelas. Menyaksikan pertunjukan Ryan memancing penontonnya untuk membandingkan pengalaman hidup dirinya dengan apa yang ia saksikan. Sehingga menghasilkan interpretasi yang lebih luas dan bermakna bagi masing-masing penonton.

Perspektif Baru Pertunjukan di Bandung

Menyaksikan kedua pertunjukan tadi adalah pengalaman baru dan unik bagi saya, khususnya jika dibandingkan dengan lanskap seni pertunjukan di kota Bandung pada umumnya.

Mata kuliah “Tubuh sebagai Media” yang dikembangkan oleh Dr. Feriyal jelas memberikan perspektif baru tentang pertunjukan sebagai media refleksi diri dan kesadaran sosial dan budaya. Dengan dibagikannya ruang sakral untuk berbagi hal batiniah yang mendalam, ini bisa menjadi kesempatan bagi warga masyarakat untuk melihat kembali apa yang ada di dalam diri dan sekitarnya.

Umumnya, kita dikenalkan bahwa seni sekedar keindahan. Komentar “bagus, menarik”, lalu ditinggalkan begitu saja. Kita perlu berhenti sejenak dan merenungkan apa dan mengapa sebuah ekspresi seni hadir. Ruang pertunjukan ini memberikan pengalaman tersebut, meskipun belum dikenal dengan baik atau asing bagi penonton yang hadir.

Semoga ruang-ruang refleksi tersebut bisa terus hadir dan mengafirmasi bahwa setiap tubuh adalah media untuk mengenal dunia tempat kita tinggal. (Kaladian Raharja)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.