METRUM
Jelajah Komunitas

Perjalanan Dalam Negeri Tak Perlu PCR, Skenario Menuju Endemi

BANDUNG – Pemerintah telah menetapkan aturan perjalanan dalam negeri tidak perlu lagi menyertakan bukti negatif Covid-19 dengan PCR per 8 Maret 2022 lalu. Menurut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, hal tersebut merupakan bagian dari skenario pandemi menuju endemi. Tren kasus akan menurun dan tidak ada varian baru, Covid-19 ini sudah seperti flu biasa.

“Kasus akan selalu ada tapi jumlahnya tidak masif. Maka dari itu hidup normal sedang ditata. Yang pertama, perjalanan makin dibolehkan, yang kedua hasil PCR tidak perlu perlu lagi, dengan vaksinasi sudah mendekati 100 persen,” katanya, Kamis (10/3/2022).

Kelonggaran tersebut, kata Ridwan, memungkinkan menonton bola di stadion dibuka kembali. Namun, karena berdempetan harus diperkuat vaksin booster.

Capaian vaksinasi di Jabar hingga 9 Maret 2022 berdasarkan data Pikobar Jabar mencapai 90,02%, dosis II 71,44% dari sasaran 37 juta jiwa. Dosis III baru 5,6%. Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 11 Tahun 2022 tentang Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). SE ini berlaku efektif sejak ditandatangani Ketua Satgas Suharyanto pada 8 Maret 2022.

Tetap waspada

Pelaksana Tugas Wali Kota Bandung Yana Mulyana berpandangan, kebijakan tersebut memberi kemudahan bagi pelaku perjalanan, maupun wisatawan beraktivitas. Kendati demikian, kewaspadaan akan risiko penyebaran Covid-19 mesti tetap terjaga.

Ikhtiar pemulihan ekonomi di Kota Bandung, ucap Yana, terus berjalan. Kebijakan perjalanan tanpa menunjukkan hasil PCR, maupun antigen menunjang ikhtiar itu.

Kondisi pandemi Covid-19 di Kota Bandung, ucap Yana, masih fluktuatif. Dari aspek bed occupancy ratio (BOR) isolasi pada rumah sakit sudah menunjukkan penurunan, menjadi 49%. Dari aspek pertambahan
kasus harian sempat di bawah 1.000 kasus pada 6-7 Maret 2022.

“Mudah-mudahan, tren kasus Covid-19 di Kota Bandung terus menurun, telah melewati fase puncak,” ucap Yana.

Pihaknya, ucap Yana, mengedepankan kehati-hatian dalam memberikan relaksasi aktivitasi tambahan. Bagi sektor-sektor yang telah memperoleh relaksasi, dia mengingatkan, betul-betul mengaktivasi aplikasi PeduliLindungi dengan konsisten. Langkah tersebut merupakan bentuk cara perlindungan diri dari risiko penyebaran Covid-19.

Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kota Bandung Asep Saeful Gufron menambahkan, situasi saat ini masih fluktuatif, tapi terkendali. Hal itu berdasarkan sejumlah indikator, di antaranya BOR rumah sakit maupun tempat isolasi terpadu, positivity rate, dan angka kesembuhan.

“BOR di rumah sakit sempat 60%, kini menjadi 49%. Positivity rate juga menurun (membaik), dari 13,45%, terkini menjadi sekitar 11%. Angka kesembuhan tinggi,” ucap dia.

Sejauh ini, angka tertinggi pertambahan kasus harian di Kota Bandung terjadi sekitar 3 pekan lalu. “Seingat saya jumlah kasus harian saat itu mencapai 1.675. Itu paling tinggi,” ucap Asep. (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.