METRUM
Jelajah Komunitas

Pesan Literasi Al-Quran

Oleh Dr. Tatang Muttaqin*

COGITO ergo sum, “Saya berpikir maka saya ada.” Itulah ungkapan terkenal filusuf dan ahli matematika Perancis yang lahir di La Haye-lah, Rene Descartes (1596-1650) yang namanya diabadikan menjadi Universitas Paris V (Université Paris Descartes Paris V). Frase inilah yang menjadi elemen dasar filsafat Barat.

Tatang Muttaqin (Dok.Pribadi).*

Jika Barat menonjol dengan kosa kata berpikir maka Jepang menonjol dengan kosa kata baca sehingga membaca menjadi bagian hidup (way of life) Bangsa Jepang. Hampir di semua kesempatan, di pusat pertokoan umum dan area transportasi publik, orang Jepang tak pernah lepas dari membaca, lego ergo sum, “saya baca maka saya ada” karena agar berpikir benar diperlukan rujukan untuk selanjutnya menjadi tulisan sehingga mencapai budaya “saya menulis maka saya ada, scribo ergo sum.”

Budaya baca Jepang memang sudah dikenal sejak zaman baheula. Setelah hancur lebur dan dilucuti Tentara Sekutu sebagai konsekuensi kekalahan dalam Perang Dunia II, Jepang segera menata diri untuk melakukan recovery sehingga dalam waktu hanya 40 tahun mampu menjadi penyeimbang keadikuasan Amerika Serikat dalam bidang ekonomi dan pencapaian kemajuan teknologi sehingga beragam perusahaan raksasa dunia lahir dari Jepang.

Tak pelak mantan Direktur Hudson Research Institute di New York, Herman Khan sejak lama memprediksikan bahwa “the 21st Ceuntry will likely become the Japanese Century” atau setidaknya, abad ke-21 akan menjadi abad Amerika-Jepang, di mana Amerika akan memegang peranan utama di bidang militer dan ekonomi, sementara di pihak lain Jepang tampil sebagai kekuatan ekonomi atau dalam istilah buku Prof. Ezra Vogel, “Japan as Number One. Lessons for America.” Bahkan, futurolog masyhur, Alvin Toffler sejak tahun 1981 telah meramalkan kedigjayaan tersebut dengan tajuk “Japan’s Secret: Face Future Without Fear.”

Di samping keuletan, etos kerja, sikap disiplin bangsa Jepang dan kemampuannya menangkap tanda-tanda zaman, seorang pemerhati Jepang Arifin Bey dalam “Peranan Jepang dalam Pasca Abad Amerika” (1990) menyebut dua faktor penting kemajuan Jepang, yaitu: (1) perhatian besar yang diberikan pada pendidikan; dan (2) adanya scientific spirit yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat Jepang.

Faktor penting pertama telah memiliki landasan yang kuat sejak era Reformasi Meiji lebih dari seabad lalu yang memberikan perhatian istimewa pada dunia pendidikan, bahkan jika ditelusuri lebih apik jauh sebelum Restorasi Meiji, pendidikan telah mendapat perhatian yang tinggi sehingga tercatat ada sekira 50.000 ‘terakoya’. Terakoya merupakan pesantren ala Jepang, di mana tempat ibadah dijadikan ruang pembelajaran untuk rakyat biasa; 300 buah sekolah untuk para Samurai, serta sekitar 1000 sekolah yang dimasuki Samurai maupun rakyat biasa.

Di era Reformasi Meiji melalui slogan “fukuko kyoohei” atau “negara yang makmur dan pertahanan yang kuat,” Jepang segera mendirikan Kementerian Pendidikan pada tahun 1817 yang merancang program pendidikan nasional yang berlaku di semua kabupaten/kota. Enam dasa warsa selanjutnya, tepatnya tahun 1877, Universitas Tokyo berdiri sebagai gabungan tiga sekolah shogun di Tokugawa, yaitu: (1) Akademi Kong Fu Tse; (2) Fakultas Kedokteran; dan (3) Fakultas Pengetahuan Asing.

Adapun faktor scientific spirit yang merata hampir di semua masyarakat Jepang berakar dari nilai keagamaan, yaitu kagaku shinkoo atau ‘agama sains’ yang termanifestasikan dalam wujud minat baca masyarakat terhadap bidang sains dan teknologi yang terus mengalami peningkatan.

Pertemuan budaya sains dan teknologi yang mengakar pada masyarakat Jepang dengan pilihan kebijakan yang tepat dari pemerintah menjadi kunci massif dan intensifnya budaya baca. Pilihan kebijakan negara tercermin di saat kalah dalam Perang Dunia II, Kaisar Jepang langsung mendata berapa jumlah sekolah dan guru yang tersisa dan menetapkan pendidikan sebagai prioritas pembangunan utama dibanding dengan bidang-bidang lainnya sehingga angka partisipasi pendidikan dasar dan menengah mencapai 100 persen dan angka partisipasi perguruan tinggi mencapai 60 persen.

Untuk memaksimalkan penguasaan ipteknya, pada tahun 1958 Jepang juga mencanangkan pembebasan dari ketergantungan impor dan menjadi negara mandiri dalam memproduksi beragam produk dan inovasi yang berbasis sains dan teknologi. Bersamaan dengan itu sosialisasi dan pendidikan sains dan teknologi pada masyarakatnya mulai gencar ditanamkan melalui institusi pendidikan, keluarga, pranata sosial dan juga media massa cetak dan elektronik.

Terkait pendidikan, diterapkan pendidikan iptek sejak dini lewat pendidikan formal dari tingkat pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi. Semangat untuk meneliti sudah ditanamkan sejak SD dengan memanfaatkan musim libur panjang bagi murid-muridnya untuk melakukan sebuah penelitian bertema bebas sebagai pekerjaan rumah. Pada tingkat SLTP-SLTA, para guru ilmu alam dituntut menyerahkan proposal penelitian yang bisa dilaksanakan secara kolektif satu kelas.

Jika ditelusuri lebih jauh, tradisi keilmuan Jepang tak dapat dilepaskan dari ide-ide budaya ketimuran, khususnya Cina sehingga nampak suatu kesatuan yang utuh antara aspek spiritual, ilmu dan teknologi sebagaimana terekam dalam teks-teks tradisi Taoisme dan Kong Fu Tse; seperti dalam “jalan dan nilai-nilai kehidupan” (Daode-Jing) dan petunjuk manual kehidupan (I-Jing). Jika Daode-Jing memandang alam pada prinsipnya dari sisi metafisis, pembahasan dalam I-Jing lebih bersifat prinsip-prinsip ilmiah yang lebih detail tentang bagaimana alam bekerja dan berjalan.

Dari perspektif strategi pemerintahannya, untuk menjamin konsistensi pelaksanaan kebijakan, pemerintah dengan payung hukum Goverment Policy Evaluation Act (Act No. 86/2001) melakukan evaluasi dan pengendalian yang menuntut setiap kementerian harus memiliki misi dan strategi atau semacam Rencana Strategis (Renstra) Kementeian yang ditetapkan Menteri terkait untuk menjadi rujukan dalam evaluasi kinerja kementeriannya.

Dalam Renstranya, Kementerian Kementerian Pendidikan Sains dan Teknologi memiliki 13 sasaran kebijakan yang dioperasionalisasikan melalui sasaran pelaksanaan. Terkait budaya baca, nampak sekali sekalipun sudah membudaya, pemerintah Jepang tetap menempatkan pada posisi prioritas tertinggi, yaitu sasaran kebijakan poin 1. Pelaksanaan dan pemasyarakatan pendidikan sepanjang hayat (lifelong learning society) yang diarahkan untuk merealisasikan sebuah masyarakat, di mana semua warganya dapat terus belajar dalam setiap kesempatan dan tempat sepanjang hayat dikandung badan serta memanfaatkan pengalaman dan pengetahuannya secara baik dan tepat guna.

Tujuan tersebut dicapai melalui 5 sasaran pelaksanaan, yaitu: (1) mempromosikan standar pengukuran reformasi pendidikan; (2) perluasan kesempatan belajar sepanjang hayat; (3) meningkatkan keterampilan pendidikan di dalam komunitas; (4) meningkatkan keterampilan pendidikan dalam rumah tangga; dan (5) mempromosikan pendidikan dan pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Untuk menopang kebijakan tersebut, ada juga sasaran kebijakan poin 7. Promosi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara komprehensif melalui sasaran pelaksanaan 7.1. mendorong sumberdaya manusia yang senantiasa berinteraksi dengan iptek dan merangrang masyarakat untuk terus tertarik dalam iptek.

Sinergi lintas lembaga pemerintah dan pranata sosial kemasyarakatan dalam mendukung budaya baca nampak juga dari dukungan infrastuktur yang memadai untuk melakukan pembelajaran sepanjang hayat sehingga di manapun dapat membaca dan belajar dengan aman dan relatif nyaman semisal sistem transportasi massal yang memungkinkan warga membaca buku dalam bis dan juga kereta bawah tanah (subway), serta berbagai ruang publik lainnya semisal pusat pembelanjaan, lapangan olah raga dan beragam pusat kegiatan komunitas lainnya.

Makro sistem lain yang tak kalah pentingnya adalah media massa, baik cetak maupun elektronik. The Asahi Shimbun misalnya, merupakan salah satu koran terbesar yang selalu memberikan informasi tentang perkembangan sains yang diterbitkan secara popular sehingga terasa renyah dan enak dibaca. Televisi publiknya, yaitu Nippon Housou Kyoku (NHK) juga menyediakan slot khusus pendidikan, yaitu Nippon Housou Kyoku Kyouiku Terebi, atau NHK Education TV yang didesain untuk peningkatan pendidikan dan pengetahuan masyarakat Jepang.

Di samping TV publik, semua TV swasta juga menyajikan beragam acara yang bernuansa ilmiah atau sains dan teknologi, bahkan hampir semua tayangan TV dalam prime time yang paling diminati pengiklan karena banyak ditonton diisi dengan penyampaian beragam mata pelajaran sains sekolah.***

* Menyelesaikan PhD di Universitas Groningen Belanda dan Executive Education di Universitas Harvard, serta Ketua Pembina TK Siti Masitoh Jayaraga, Garut.

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: