METRUM
Jelajah Komunitas

Ramadan Momentum Meningkatkan Literasi

Oleh Dr. Tatang Muttaqin*

MAYORITAS penduduk Indonesia beragama Islam sehingga jika dilacak pada sumber mata airnya, spirit dasar way of life Indonesia bermuara pada nilai-nilai Islam yang tersurat dalam Al-Quran. 

Tatang Muttaqin (Dok.Pribadi).*

Dilihat dari perspektif Al-Quran, perintah membaca atau iqra merupakan pesan Allah pertama kepada Nabi Muhammad SAW yang saat ini diperingati sebagai napaktilas momentum turunnya kitab suci umat Islam di Gua Hira. Dengan demikian, seorang muslim sejatinya selalu mendasarkan kehidupannya pada membaca dan belajar sepanjang hayat, sejak lahir sampai tutup usia sebagaimana firman Allah: Bacalah! Dia yang mengajar manusia dengan perantaraan pena (Al-Alaq 96:1).

Pembacaan terhadap “buku kecil” kitab suci Al-Quran dan “buku besar” berupa alam semesta akan melahirkan beragam ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga manusia berpotensi menjadi khalifah (pengelola, hamengku buwana) di muka bumi Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi (Al-Baqarah 2:30). Dengan Ilmu manusia dapat mengenal Tuhan, Dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi seraya berkata, Tuhan tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia (Ali-Imran 3: 191).

Secara ajaran, Islam benar-benar sempurna dengan memandang Ilmu sebagai kesatuan utuh yang bersifat holistik, suatu pendekatan yang mengaitkan dunia nyata dengan aspek nilai-nilai spritual. Dengan demikian, falsafah ilmu pengetahuan umat Islam harus bersifat holistik, yang bersumber pada ajaran ketuhanan dan keteraturan alam semesta.

Uniknya, pesan Tuhan untuk terus membaca tersebut tak sepenuhnya ditunaikan sehingga budaya baca umat Islam relatif tertinggal jika dibanding tradisi Jepang di atas. Di saat budaya baca belum solid, kehadiran beragam produk teknologi melahirkan kemudahan dan kenyamanan sehingga masyarakat langsung meloncat pada budaya audio-visual, televisi, telpon pintar yang lebih menarik dan menyenangkan.  Hal ini berdampak pada budaya konsumerisme sehingga tiada waktu tanpa berbelanja dan tidak ada ruang yang lebih baik selain mal atau belanja online. 

Jika ini yang terjadi, maka kita semakin jauh dari lego ergo sum, saya baca maka saya ada untuk selanjutnya saya berpikir maka saya ada, cogito ergo sum, dan mendokumentasikannya sehingga menjadi saya menulis maka saya ada, scribo ergo sum, yang ada justru saya berbelanja maka saya ada,  emo ergo sum.

Tak pelak, di masa normal sebelum pandemi Covid-19, tempat pembelanjaan yang paling banyak ada di Indonesia, juga orang yang paling sering belanja di luar negeri adalah orang Indonesia dan waktu terbanyak tersedot untuk berbelanja, bahkan di malam hari sekalipun, di masa sebelum Covid-19 tetap belanja dengan maraknya fenomena Midnight Sale di pusat perbelanjaan kota besar.

Penguasaan iptek oleh umat Islam menjadi tak terhindarkan dan membaca dan berpikir menjadi titik mula untuk mencapai kejayaan dan kemakmuran. Seorang pakar dari Massachuset Institute of Technology (MIT), Lester Thurow menegaskan bahwa kemakmuran suatu negara ditentukan terutama oleh akal pikir dan imaginasi yang mampu melahirkan penemuan dan pengorganisasian teknologi baru.

Dengan kata lain, pengetahuan merupakan basis baru bagi kesejahteraan suatu bangsa. Jika umat Islam tak mampu membaca dan berpikir untuk selanjutnya berkreasi, maka tidak termasuk hamba yang baik (shalih) yang akan dipilih Tuhan untuk mewarisi dunia ini karena dunia hanya diwariskan kepada hamba yang shalih sebagaimana tersurat dalam firmanNya: Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh (Al-Anbiya 105). 

Agar umat Islam tak terus tertinggal maka perlu dilakukan ikhtiar untuk kembali merevitalisasi pesan Nuzulul Quran untuk menanamkan budaya baca dan literasi dengan cara: (1) memastikan pelaksanaan pembelajaran sepanjang hayat dalam upaya penguasaan sains dan teknologi bagi masyarakat sejak di usia dini sampai perguruan tinggi bahkan sampai akhir hayat; (2) advokasi, sosialisasi dan internalisasi budaya belajar sepanjang hayat melalui beragam pranata sosial dan kemasyarakatan, keluarga dan media massa sehingga semuanya berkontribusi terhadap peningkatan informasi di bidang sains dan teknologi.

(3) memastikan anggaran yang memadai untuk pendidikan dan memastikan pemanfaatannya secara efektif dan efesien; (4) mensinergikan upaya pembelajaran sepanjang hayat dengan berbagai kebijakan dan penyediaan teknologi informasi dan komunikasi sehingga pembelajaran dapat dilakukan tanpa terkendala ruang, jarak dan waktu termasuk kemudahan dan keterjangkauan dalam mengakses pembelajaran dan perpustakaan digital merupakan solusi yang sangat membantu karena dapat menghilangkan kendala geografis.***

* Menyelesaikan PhD di Universitas Groningen Belanda dan Executive Education di Universitas Harvard, serta Ketua Pembina TK Siti Masitoh Jayaraga, Garut.

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: