METRUM
Jelajah Komunitas

Resistensi terhadap Antibiotik Ancam Kelangsungan Hidup Badak di Kenya

TANDUK yang dimilikinya menjadi sasaran empuk sejumlah pemburu liar di Afrika. Saat ini, bahaya baru tengah mengancam badak yang berada di taman nasional Kenya, yakni resistensi terhadap antibiotik. Wartawan VOA Arash Arabasadi melaporkan penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat mengakibatkan hewan-hewan tersebut kehilangan nyawanya.

Percaya atau tidak, apa yang terjadi di Taman Nasional Kenya yang satu ini merupakan hal yang baik. Sejumlah penjaga taman menenangkan badak-badak yang terancam punah, membius dan mengebor tanduk hewan itu, dan menjadikannya berteknologi tinggi dengan menaruh alat pelacak ke dalam lubang tersebut. Proses itu membantu melindungi badak dari ancaman terbesarnya, yaitu perburuan liar.

Seorang mahasiswa doktoral dari Maseno University, Collins Kebeni memaparkan, “Ketika hewan terancam punah, maka hewan itu dipantau seperti halnya manusia. Binatang langka itu tidak bisa dibiarkan sakit, dan jika sakit perlu dirawat. Jadi, obat apa yang digunakan pada hewan-hewan langka itu?.”

Jawabannya adalah antibiotik. Namun saat ini, badak-badak itu menderita sebagai akibat penggunaan antibiotik yang berlebihan secara global. Antibiotik yang digunakan secara berlebihan itu berakibat pada meningkatnya resistensi terhadap obat-obatan yang terjadi pada manusia dan juga satwa liar.

Untuk menyelidiki tingkat resistensi, para ilmuwan harus meneliti lebih dalam melalui kotoran untuk kemudian diperiksa lebih lanjut di laboratorium.

Di laboratorium, para peneliti mengisolasi gen bakteri E. coli dan mempelajari resistensinya terhadap delapan jenis antibiotik yang paling umum dipergunakan.

“Tempat di mana penelitian itu dilakukan, tingkat sanitasi orang-orang yang tinggal di sana masih rendah. Jadi, kita lihat sebagian besar bakteri patogen yang resisten ini menyebar melalui pembuangan limbah tinja manusia, yang kemudian akan mengalir ke hilir, dan akan mencapai hewan yang terancam punah ini,” tambah Kebeni.

Badak rentan terhadap jenis-jenis bakteri tuberculosis tertentu. Resistensi terhadap antibiotik tersebut dapat mempersulit proses penyembuhan.

“Perlu dipertimbangkan upaya dan cara untuk mengurus hewan-hewan itu serta bagaimana hal tersebut mempengaruhi kesehatan, karena kita bisa terjangkit dan menularkannya, yakni gen-gen yang resistan pada mikroba karena manusia punya resistensi pada mikroba akibat penggunaan antibiotik,” tukas Kebeni.

Masih belum jelas bagaimana badak menjadi resistan pada mikroba, akan tetapi badak-badak tersebut terancam punah dengan populasi sekitar 29 ribu yang masih bertahan hidup. (M1-voa/mg/lt)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: