METRUM
Jelajah Komunitas

Arah Pandang: Memeluk Bahasa Ibu

PADA Program Acara Arah Pandang, Bincang Ideologi dan Politik Internasional pada Kamis petang, 20 Februari 2020, membahas tentang bahasa ibu karena setiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Talkshow yang disiarkan mulai pukul 18.30 – 19.30 WIB di Metrum Radio itu, menghadirkan narasumber tetap Arah Pandang, yaitu Desmond Satria Andrian (Mentor Geostrategy Study Club dan Dosen HI International Women University/IWU) dan Host Dian Awallina.

Apa itu bahasa ibu? Bahasa Ibu (native language) adalah bahasa pertama yang dikuasai atau diperoleh anak. Di mana pun anak itu lahir, kemudian ia memperoleh atau menguasai bahasa pertamanya maka bahasa yang dikuasai itu merupakan bahasa Ibu. Umumnya, bahasa pertama yang dikuasai seorang anak adalah bahasa Ibu (bahasa daerahnya) bukan bahasa nasional atau internasional.

Mengapa Bahasa Ibu diperingati secara internasional? Mengapa Bahasa Ibu penting bagi pelestarian kebudayaan? Mengapa Bahasa Ibu strategis bagi peradaban?

Asal Usul

1948

Mohammed Ali Jinnah, Gubernur Jenderal Pakistan, mendeklarasikan bahasa Urdu sebagai bahasa resmi Pakistan (21/3/1948). Warga Bangla yang tinggal di Pakistan Timur tidak menerima klaim sepihak itu.

1952

Pecah konflik rakyat Bangladesh dengan pemerintah Pakistan pada tahun 1952 diakibatkan keputusan memilih Urdu sebagai bahasa nasional. Padahal, mayoritas masyarakat Pakistan kala itu berasal dari wilayah timur yang kini menjadi Bangladesh. Warga pun beranggapan bahwa bahasa Bangla yang seharusnya menjadi bahasa nasional. Permasalahan inilah yang memicu aksi protes hingga terjadi pembunuhan yang dilakukan aparatur sipil negara hingga memakan korban pada 21/2/1952. Gerakan berlangsung bertahun-tahun. Akhirnya, kemenangan berada di pihak Pakistan Timur yang berhasil memisahkan diri dan membentuk negara Bangladesh tahun 1971.

9 Januari 1998

Rafiqul Islam seorang Bangli yang tinggal di Vancouver Kanada menulis surat kepada Kofi Annan yang isinya menyarankan perlunya resolusi bahasa internasional untuk mengambil langkah untuk menyelamatkan bahasa dunia dari kepunahan dengan mendeklarasikan Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day).

17 November 1999

UNESCO menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional karena pada tanggal tersebut, Bangladesh mengalami pembunuhan di tahun 1952 dalam memperjuangkan bahasa Bangli di Dhaka.

21 Februari 2000

Hari Bahasa Ibu Internasional mulai diperingati pertama kali

16 Mei 2009

Majelis Umum PBB meminta negara-negara anggotanya untuk mempromosikan semua bahasa yang digunakan oleh orang-orang di dunia.

Ancaman Kepunahan

Bahasa lebih dari sekedar alat komunikasi. Tapi ini adalah kondisi kemanusiaan. Nilai-nilai, keyakinan dan identitas tertanam di dalamnya. Selain itu, bahasa disebut sebagai instrumen paling kuat untuk melestarikan dan mengembangkan warisan kita yang berwujud dan tidak berwujud. Semua langkah untuk mempromosikan penyebaran bahasa ibu akan mendorong keragaman linguistik dan pendidikan multibahasa, juga untuk mengembangkan kesadaran penuh tentang tradisi linguistik dan budaya di seluruh dunia. Kemudian, bahasa juga untuk menginspirasi solidaritas berdasarkan pemahaman, toleransi dan dialog.

Akan tetapi, banyak keanekaragaman bahasa semakin terancam karena makin banyaknya bahasa yang hilang. Diduga setiap dua minggu, sebuah bahasa lenyap. Dengan hilangnya bahasa, secara langsung juga berdampak pada hilangnya warisan budaya pula. Ketika sebuah bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga. Termasuk, sejumlah besar produk budaya, seperti legenda, puisi, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi turut punah

Di Indonesia sendiri tercatat sejumlah bahasa daerah punah di kepulauan Maluku. Walaupun Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa daerah dan budaya serta menjadi negara kedua yang memiliki bahasa daerah terbanyak setelah Papua Nugini, ancaman punahnya bahasa daerah juga tengah dihadapi. Bahasa yang punah itu adalah bahasa Kayeli, Palumata, Moksela, Hukumina, Piru, Loun, bahasa di Maluku Tengah dan Pulau Ambon.

Maka, merujuk masalah itu, perlu usaha yang serius dalam merawat bahasa ibu, seperti memasukkannya dalam kurikulum pembelajaran, pembuatan kamus, dan melakukan penelitian- penelitian terhadap kondisi bahasa. Dengan begitu, bahasa ibu tidak akan punah dan tidak tergerus oleh modernisasi serta arus globalisasi. Alhasil, generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya walaupun harus melambung tinggi menggapai modernisasi sebab menjaga bahasa berarti menjaga budaya.

Bahasa dan Hegemoni

Bahasa juga adalah cara berpikir untuk melawan hegemoni seperti yang dilakukan oleh masyarakat Bangla saat melawan Pakistan yang memutuskan Bahasa Urdu sebagai bahasa nasional. Padahal, sebagian besar warga Pakistan barat saat itu berasal dari Bangla atau Pakistan Timur. Dapat dibayangkan, warga Bangla yang diwajibkan menggunakan bahasa Urdu maka akan lenyap semua nilai, sistem budaya dan sistem sosial serta peradaban Bangla. Di Afrika demikian juga, sangat sedikit negara di kawasan ini yang menggunakan bahasa ibu lantaran semua menggunakan bahasa bekas negara penjajahnya.

Keadaan itu dapat dikaji melalui beberapa hal, yaitu (1) secara materialisme dialektis: bahasa diambil dari realitas sosial yang secara fundamental memiliki asal dalam bentuk produksi; (2)  kekuatan bahasa terletak pada sejauh mana bahasa dapat dipahami dalam kerangka yang lebih luas dari kehidupan masyarakat penciptanya; dan (3) nilai penggunaan bahasa dalam kehidupan sosial.

Dalam pandangan ini, bahasa dan semua gejala kebudayaan lainnya mencerminkan pola hubungan ekonomi karena bahasa terikat akan kelas-kelas yang ada di dalam masyarakatnya. Oleh karena itu harus dikaitkan dengan hubungan sosialnya. Maka, bahasa merupakan suatu sarana penting dan strategis dalam perjuangan proletariat melawan kapitalisme, menolak kungkungan hegemoni.

Selamat Hari Bahasa Ibu Internasional! (M1)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: