METRUM
Jelajah Komunitas

Siaran Perdana Toa Damai: “Protes Boleh tapi Kalem”

HALO Metronom! Ada yang baru lagi nih di program acara Metrum Radio, Toa Damai!

Toa Damai adalah sebuah platform yang diciptakan oleh anak muda untuk menyuarakan damai dengan jargon “Protes Boleh tapi Kalem”. Toa Damai rencananya akan menemani Nonoman Metrum 2 minggu sekali, setiap Minggu siang pada pukul 13.30-14.30 WIB di Metrum Radio.

Toa Damai terdiri dari 4 orang, yaitu: Rhaka (Manajer Produksi), Faris (Produser), Vera (Humas), dan Bubuy (Jurnalis).

Pada awalnya, 4 anak muda ini tidak bepikir untuk membuat komunitas pada bidang penyiaran radio. Apalagi rencana awalnya adalah menggarap channel Youtube dengan isi konten audiobook. Hingga Rhaka mencetuskan ide untuk membuat komunitas belajar dalam bentuk podcast untuk memperkenalkan Toa Damai kepada masyarakat.

Kenapa Toa Damai?

Banyak nama keren yang diambil dari Bahasa Inggris maupun Bahasa Sansakerta. Namun, saat berdikusi panjang Rhaka berujar, “Coba deh kasih nama dari Bahasa Indonesia, sehingga nanti Indonesia itu akan lebih familiar di telinga orang-orang.” Secara tidak langsung juga akan melestarikan Bahasa Indonesia di era globalisasi ini. Diskusi berlanjut dan menghasilkan kata kunci “Damai” sebagai kata yang dipilih.

“Setelah itu, untuk kata pendampingnya, kita memilih kata ‘Toa, kenapa? Karena selain jarang digunakan, kata “Toa” sering merujuk pada aksi protes mahasiswa seperti demo,” tukas Rhaka. Ia menambahkan, kata “Toa” juga melambangkan aksi komunitas yang lantang, namun tetap kalem dengan jargon “Protes Boleh tapi Kalem.”

Tidak disangka-sangka, yang tadinya tidak terencana, tidak adanya kejelasan, atau hanya untuk senang-senang saja, kini terbentuk komunitas yang mempromosikan nilai-nilai penting.

“Melalui program acara yang kita buat dan beberapa event yang diikuti, hasilnya kita menyadari nilai-nilai penting yang perlu disampaikan seperti nilai empati, self-love, kesadaran diri, dan partisipasi diri. Semua ini membuat Toa Damai mengerucutkan kembali dan menemukan tujuan serta keinginan untuk turut membangun kedamaian dalam masyarakat dan mengajak masyarakat untuk ikut belajar bersama,” ujar Rhaka.

Toa damai mengajak untuk belajar dan mengaplikasikan praktik, baik dalam berorganisasi maupun kehidupan sehari-hari berdasarkan proses yang dialami di komunitas. Praktik baik yang dimaksud meliputi dimensi yang di antaranya partisipasi dalam perencanaan, pengambilan keputusan serta pengimplementasian, kelompok organisasi jaringan, pembelajaran dan pelatihan (transfer pengetahuan), serta inovasi.

Sejauh ini, kegiatan yang sudah dilaksanakan Toa Damai adalah Workshop Penyiar: Dasar bersama Amaranoeva pada Minggu (28/2/2021).  Adapun rencana kegiatan mendatang adalah mendukung dan menjadi sponsorship 5 UMKM. “Kita juga sedang mencari hibah mengenai isu-isu perempuan, kesetimbangan gender, dan akses edukasi pendidikan, dan kita pun sudah merencakan berbagai workshop lainnya,” ujar Rhaka.

Acara diakhiri dengan memberikan sedikit spoiler untuk episode selanjutnya mengenai bincang-bincang seputar buku Drinking Tea, Living Life di kafe Teabumi. Jadi, bagaimana kelanjutannya? Yuk ikuti kegiatan kami, biar makin penasaran dan makin kenal. (M9)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: