METRUM
Jelajah Komunitas

Komunitas Cepot Lipet Bandung

KOMUNITAS sepeda ­lipat yang terus bermunculan ­diharapkan menjadi wadah positif dalam mempererat ­jalinan persahabatan dan ­persaudaraan di ­antara pencinta dan penggemar sepeda lipat.

Dari beragam jenis sepeda yang ada, boleh jadi sepeda ­lipat atau sepeda tilep ­merupakan sepeda yang ­sangat ideal untuk digunakan oleh para komuter. Ukurannya yang secara umum relatif lebih kecil serta bisa ditilep ­menjadikan sepeda lipat sangat cocok ­ketika dikombinasikan dengan ­moda transportasi publik lain seperti bus atau ­kereta api.

Banyak orang menduga ­sepeda lipat ­merupakan jenis sepeda yang baru muncul ­belakangan ini. Kenyataannya tidak demikian. Sejumlah ­sumber menyebutkan bahwa ­sepeda lipat sudah ada sejak abad ­ke-19 silam.

William Grout disebut-sebut sebagai orang pertama yang membidani kelahiran sepeda ­lipat pada 1878. Akan tetapi, Emmit G Latta adalah orang yang pertama kali ­mematenkan sepeda lipat. ­Latta ­mematenkan sepeda ­lipat ­buatannya di Amerika Serikat pada 16 ­September 1887. Sepeda lipat itu ­kemudian diluncurkan ke hadapan publik pada 21 ­Februari 1888.

Di masa-masa awal ­kemunculannya, selain sebagai sarana rekreasi, olah raga, dan mainan anak-anak, sepeda lipat juga ­digunakan untuk ­transportasi pekerja pabrik dan kurir barang. Di samping itu, sepeda lipat digunakan juga untuk kepentingan militer, terutama di masa-masa perang.

Berdasarkan ukuran rodanya, kebanyakan sepeda lipat sekarang memiliki ukuran roda 20 inci dan 16 inci. Dari segi mobilitas, ­sepeda lipat 20 inci jauh lebih cepat ­dibandingkan dengan sepeda lipat 16 inci. Namun, dari ­aspek kepraktisan dan ­portabilitas, sepeda ­lipat 16 lebih unggul ­ketimbang sepeda lipat 20 inci. Di samping itu, dari segi penampilan, ­sepeda lipat 16 inci jauh lebih unyu-unyu ­ketimbang sepeda ­lipat ukuran 20 inci.

Kendati popularitasnya ­sempat surut ­selama beberapa dekade, sepeda lipat tidak ­benar-benar lenyap dari peredaran. Bahkan, di akhir 1970-an, popularitas sepeda ini ­mulai kembali menanjak. Itu ditandai dengan hadirnya ­beberapa pabrikan baru yang khusus memproduksi sepeda lipat.

Hari jadi 

Di Indonesia, demam sepeda lipat mulai ­terlihat sekitar era 2000-an. Bersamaan ­dengan itu, berbagai komunitas sepeda lipat terus bermunculan. Salah satunya adalah ­Cepot Lipet Bandung (CLB), yang pada ­Minggu (29/4/2018) menggelar perayaan hari jadinya yang ­­ke-1. Menyelaraskan ­dengan usianya yang baru satu tahun, tema perayaan hari jadi CLB tahun ini adalah “CLB Ngahiji”. Ngahiji dalam bahasa Sunda ­maknanya adalah bersatu. ­Diharapkan lewat perayaan hari jadinya yang perdana itu, CLB menjadi wadah yang mampu menyatukan persahabatan ­serta persaudaraan antara pencinta dan penggemar sepeda lipat, ­terutama yang berada di kawasan Bandung Raya.

Seperti perayaan-perayaan komunitas sepeda pada ­umumnya, gowes bareng ­merupakan salah satu menu wajib pada ­puncak perayaan hari jadi. ­Begitu pula pada “CLB Ngahiji”. Halaman Gedung Sate yang menghadap Lapang ­Gasibu menjadi arena titik kumpul pencinta dan penggemar sepeda lipat yang mengikuti gowes bareng dalam rangka milad ­ke-1 CLB, Minggu pagi di ­pengujung ­bulan April 2018.

Tak ada bayaran apa pun ­untuk ikut gowes bareng “CLB Ngahiji”. Siapa pun bisa ikut. ­Antusiame pencinta dan penggemar sepeda ­lipat untuk mengikuti gowes bareng ini ­begitu kentara. Pencinta dan penggemar ­sepeda lipat yang berpartisipasi bukan hanya ­berasal dari seputaran Bandung Raya, ada ­juga yang ­berasal dari kota-kota lain di luar Bandung.

Sembari menunggu waktu start, para ­partisipan yang berkumpul di halaman sisi timur Gedung Sate akrab berbincang dan bercengkerama. Beberapa di antaranya boleh jadi baru pertama kali jumpa pada acara gowes tersebut. Kendati demikian, sama sekali tidak menghilangkan ­nuansa ­keakraban lantaran ­sebelumnya mereka ­sering berinteraksi lewat dunia maya. ­Sembari menunggu waktu start pula, tidak sedikit selier ­(sebutan bagi pengguna ­sepeda lipat) melakukan selfie dan wefie dengan latar Gedung Sate, sekadar untuk kenang-­kenangan atau juga untuk bahan unggahan di ­jejaring media sosial.

Pukul tujuh lebih sedikit, saat mentari ­mulai meninggi ­dengan sinarnya yang ­semakin cerah, panitia dengan ­pelantang suara ­menginformasikan selier untuk bersiap karena acara gowes bareng “CLB Ngahiji” segera dimulai. Keceriaan menghiasi ­wajah-wajah selier begitu ­bendera start diacungkan ­pertanda gowes bareng ­memperingati hari jadi ke-1 CLB resmi dimulai.

Ratusan sepeda lipet ­beragam tipe serta merek ­langsung membanjiri Jalan ­Diponegoro. Iring-iringan ­bergerak menuju timur, ­kemudian berbelok ke arah ­selatan menuju Jalan LLRE Martadinata dan ­sejumlah jalan lain untuk melakukan city tour.

Selain gowes bareng, ­perayaan hari jadi CLB ke-1 ­juga dimeriahkan dengan ­beberapa acara menarik lain. Ada lomba foto ­bersepeda, lelang rangka sepeda, ­panggung musik, gelaran barista kopi dan — tentu saja yang banyak ditunggu-­tunggu — doorprize. Semoga di ­perayaan hari jadinya yang ­kedua, tahun depan, makin banyak suguhan acara menarik disajikan buat para selier.

Wilujeng milangkala, CLB! (Djoko ­Subinarto, penulis lepas, pengguna sepeda ­lipat, Sumber: Pikiran Rakyat 12-08-2018)***

komentar

Tinggalkan Balasan