METRUM
Jelajah Komunitas

“Stork Project Indonesia” Berdayakan Pelukis di Masa Pandemi

SALAH satu sektor yang terpukul hebat, dan kerap luput dari perhatian, di masa pandemi Covid-19 adalah seni. Banyak seniman, khususnya pelukis, kehilangan pendapatan mereka karena galeri-galeri mereka terpaksa tutup, sementara minat belanja masyarakat terhadap karya mereka anjok karena keterbatasan dana.

Dilansir dari VOA, seorang remaja perempuan mencoba membantu sejumlah pelukis di Jakarta mengatasi masalah ini dengan menggelar prakarsa untuk memberdayakan mereka sekaligus membantu orang-orang lain yang mengalami kesulitan finansial.

Nama prakarsa itu “Stork Project Indonesia” atau “Proyek Bangau Indonesia”. Penggagasnya adalah remaja berusia 17 tahun bernama Clarine Winarta, siswa Jakarta Intercultural School.

Clarine Winarta berambisi bantu lebih banyak pelukis di masa pandemi. (Foto courtesy: pribadi)
Clarine Winarta berambisi bantu lebih banyak pelukis di masa pandemi (Foto courtesy: pribadi).*

Stork Project adalah sebuah kegiatan non-profit yang ditujukan untuk membantu para seniman lokal dan komunitas lukis yang terdampak pandemi Covid 19 secara finansial. Proyek ini memperoleh penghasilan dari penjualan produk-produk seperti kaos, celemek dan tote bag yang dilukis secara langsung oleh seniman-seniman yang dibantu.”

Proyek ini melakukan pendekatan yang tidak biasanya. Produk-produk seharga 500 hingga 600 ribu rupiah ini ditawarkan melalui akun jejaring sosial Instagram.

Hasilnya cukup menggembirakan, Setiap produk yang ditawarkan proyek amal itu terjual habis. Pada tahap pertama, yang tak lama digelar setelah proyek itu didirikan pada Juni 2020, Stork Project berhasil menjual 120 kaos. Hasil serupa dicapai pada tahap kedua dan ketiga, ketika mereka menawarkan 40 celemek dan 80 tas.

Bagi Edi Bonetski, seorang pelukis di Jakarta, kehadiran Stork Project mencerahkan hidupnya. Pandemi virus corona benar-benar menghimpit jiwa seni dan kehidupannya. Karya-karyanya terus mengalir, namun tidak ada cara untuk memasarkannya. Tak heran ia menyambut gembira tawaran Stork Project untuk memanfaatkan jiwa seninya sementara ia juga mendapat pemasukan dari jerih payahnya.

Edi Bonetski mencurahkan hasrat seni dengan bantuan Proyek Bangau. (Foto: pribadi)
Edi Bonetski mencurahkan hasrat seni dengan bantuan Proyek Bangau(Fo to: pribadi).*

“Pertama-tama, para seniman barangkali menganggap ini bukan sesuatu yang membuat mereka happy, karena mereka terbiasa dengan sistem kerja komisi. Tapi kalau saya, ketika mendapat tawaran ini ‘ayo sikat, hajar, bismillah, kapan lagi kalau bukan sekarang?’. Senang karena diapresiasi, diorganisir dengan baik, kemudian dijual. Ada tahapan-tahapan yang menggembirakan. Ini seperti pola kerja lembaga atau galeri,” kata Edi Bonetski.

Dibantu ibu dan sepupunya dalam menjalankan proyek, Clarine juga menerima rekomendasi dari guru seninya. Ia memilih seniman lukis berdasarkan karya mereka dan komitmen mereka untuk menyelesaikan target yang ditetapkan. Clarine mengaku, ia tidak membatasi proses kreatif mereka. Segera setelah menyelesaikan pekerjaan, para seniman itu mengirim produk mereka ke Clarine dan tim-nya, untuk kemudian dipajang dalam katalog akun Instagram Stork Project Indonesia (storkproject.id).

Selain Edi Bonetsi, pelukis lain yang terlibat dalam proyek itu adalah Rohadi Cumik, Yayat Lesmana, Zulfikar, Dani Sugara, Toto Duko, Fachriza dan R. B. Ali. Rata-rata, mereka membutuhkan waktu dua pekan hingga satu bulan untuk menyelesaikan desain mereka.

Syafrudin memperantarai para seniman lukis Jakarta dengan Proyek Bangau. (Foto: pribadi)
Syafrudin memperantarai para seniman lukis Jakarta dengan Proyek Bangau (Foto: pribadi).*

Kesuksesan Stork Project sebetulnya juga tak lepas dari usaha Syafrudin, seniman lukis sekaligus guru seni, yang merupakan teman lama ibu Clarine. Ia yang memperantarai Clarine dengan para seniman lukis Jakarta yang terlibat dalam proyek itu. Syafrudin merasa, ia perlu membantu teman-teman sesama pelukis yang secara finansial terimbas hebat pandemi Covid-19.

“Memasarkan karya lukis di masa pandemi banyak kendala. Market-nya benar-benar tertutup. Orang-orang tidak berani datang ke galeri. Kalaupun ada yang berminat, mereka hanya melihatnya lewat layar virtual. Kedua, para pembeli umumnya pengusaha, dan Covid-19 juga berdampak secara ekonomi pada mereka,” kata Syafrudin.

Pada tahap pertama proyek ini, Clarine berhasil mengumpulkan sekitar 30 juta rupiah. Dana itu sudah bersih dari uang yang harus dibayarkan ke para seniman atas karya seni mereka. Dana itu kemudian dimanfaatkan Clarine untuk membeli 300 paket bahan makanan pokok. Seratus paket didonasikan ke komunitas seni setempat yang disebut Galeri Kreatif Perupa Jakarta Raya, dan sisanya ke masyarakat lain yang membutuhkan.

Sedangkan untuk celemek, Clarine mengumpulkan dana Rp 15 juta. Setengah dari dana tersebut digunakan untuk membantu seorang anak berusia enam tahun bernama Rafael yang didiagnosis gagal ginjal stadium 5. Dana tersebut disumbangkan melalui platform crowdfunding kitabisa.com. Sebagian dana lainnya digunakan untuk membantu warga di Desa Fatuneno, Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Clarine berencana untuk menggelar tahap berikut Stork Project pada 2021, dengan menghadirkan celemek dan produk-produk baru.

“Saya ingin proyek ini berkembang, dan membantu lebih banyak lagi pelukis. Dan saya harap Stork Project bisa menjadi platform bagi para seniman untuk menjual karya mereka. Kami juga berencana menambah produk sesuai permintaan, dan network jualan mudah-mudahan bisa lebih luas lagi.” (M1-VOA/ab/uh)***

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.

%d blogger menyukai ini: