METRUM
Jelajah Komunitas

Surat Terbuka Buat Tuan I Wayan Koster

Oleh Wina Armada Sukardi*

Jakarta, 30 Maret 2023.

Tuan I Wayan Koster yang terhormat, saya tak mengenal secara pribadi Tuan, karena memang tidak ada hubungan apapun sama sekali sebelumnya. Jadi, tak ada rasa benci, atau sebaliknya, juga tak ada rasa kagum, dari saya kepada Tuan. Surat ini saya tulis semata-mata sebagai bentuk kecintaan saya kepada sepak bola Indonesia, rasa cinta dan bangsa kepada bangsa dan masyarakat Indonesia.

Wina Armada Sukardi.*

Tuan I Wayan Koster, selanjutnya dalam surat ini saya sebut Tuan Wayan Koster saja, tentu Tuan sudah mendengar, akhirnya FIFA bukan hanya menunda pengundian untuk menentukan group peserta kejuaraan sepak bola dunia U-20 di Bali, tapi FIFA juga lebih jauh lagi dengan tegas telah membatalkan atau mencopot status Indonesia sebagai tuan rumah kejuaraan dunia sepak bola U-20 yang semula dijadwal cuma sekitar dua bulan lagi bakal diselenggarakan. Dengan begitu, harapan Indonesia untuk membuat sejarah baru di dunia persepakbolaan sirna sudah.

Harapan anak-anak muda Indonesia untuk ikut merasakan terjun dalam kejuaraan dunia sepak bola telah pupus pula. Keinginan masyarakat merasakan atmosfir dari sebuah kejuaraan sepak bola dunia, hilang. Dari berbagai pemberitaan jelas terungkap, FIFA mengambil keputusan membatalkan Indonesia sebagai tuan rumah kejuaraan dunia terutama setelah muncul pernyataan kepada publik dan surat Tuan Wayan Koster kepada Menpora yang menolak serta melarang kesebelasan Israel bertanding di Bali. Saya ingin mengetahui bagaimana perasan Tuan Wayan Koster mengenai hal ini setelah FIFA membatalkan kejuaraan dunia sepak bola U-20 di Indonesia?

Tuan Wayan Koster, kata orang, Bali merupakan tanah kepingan surga yang ada di dunia. Bali bukan hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tapi juga budayanya yang unik. Di Bali pelaksanaan ritual keagamaan dapat menyatu dengan kebudayaannya. Selaras dengan itu, budaya dan masyarakat Bali sangat terkenal toleran terhadap berbagai perbedaan, dan menjamin keamanan terhadap berbagai perbedaan itu. Itulah sebabnya jika ada suatu event atau penyelenggaraan yang tidak dapat dilaksanakan di daerah lain, Bali menjadi solusinya. Tinggal pindahkan saja ke Bali. Beres. Pasti lancar dan aman.

Mau ada berbagai kontes-kontesan ratu-ratuan, yang bermasalah di daerah lain, dipindahkan ke Bali, dapat berlangsung lancar dan aman. Begitu pula ketika ada musyawarah parlemen dunia, penyelenggaraan di Bali menjadi pilihan tepat. Kehadiran wakil Israel pun tak menimbulkan gaduh apapun. Semuanya aman, sebagaimana pula amannya jika di Bali ada seorang wanita berjalan tengah malam seorang diri hanya mengenakan bikini atau naik motor. Tak ada yang mencela terhadap pilihan dan sikap wanita itu.

Bali memang istimewa. Khusus. Baik alamnya maupun budayanya. Soal ini tentulah Tuan Wayan Koster lebih menguasai dari saya. Namun yang saya tidak faham, dan sekaligus ingin bertanya kepada Tuan Wayan Koster, mengapa tetiba Tuan Wayan Koster hanya dua minggu sebelum pelaksanaan undian dan sekitar tiga bulan penyelenggaraan kejuaraan dunia U-20, mengeluarkan pernyataan dan mengirim surat yang menyatakan menolak kehadiran kesebelasan Israel di Bali? Menolak kesebelasan Israel bertanding di Bali. Mengapa Tuan?

Tuan Wayan Koster berdalih, itu bukan sekedar pendapat pribadi, tetapi pendapat yang juga sudah sesuai dengan pendapat pemerintah, sehingga Tuan menghindari mengambil beban tanggung jawabnya secara pribadi. Betulkah begitu Tuan Wayan Koster? Terhadap hal ini terus terang saya heran dan agak bingung. Bagaimana tidak, ternyata bertolak belakang dari keterangan Tuan Wayan Koster, Presiden Joko Widodo malah menegaskan jangan campur adukan politik dengan sepak bola. Perlu diingat pula, bukankah PSSI lewat ketua umum barunya, Erick Thohir, dari awal sudah menegaskan dengan gamblang PSSI bakal menerima kehadiran kesebelasan Israel? Bukankah Tuan Wayan Koster sendiri sudah memberikan jaminan pemerintah kepada FIFA untuk boleh dan menjamin pelaksanaan kejuaraan dunia sepak bola U-20 di Bali?

Tuan Wayan Koster, jika saja Tuan bukanlah Gubernur Bali, tapi misalnya gubernur wilayah lain, lantas Tuan Wayan Koster mengeluarkan pernyataan dan penolakan itu, sejatinya tidak begitu masalah. Daerah lain, dari awal berbeda dengan Bali yang memiliki toleransi begitu besar. Bali yang menghormati perbedaan. Bali yang sudah sehari-hari biasa hidup dengan berbagai orang asing. Bali yang berbagai kebudayaan dapat hidup berdampingan dengan damai. Makanya jika ada pimpinan wilayah lain membuat pernyataan dan penolakan itu, saya sih tidak begitu peduli. Mungkin FIFA pun demikian. Tapi Bali? Hal itu sulit diterima, terutama juga oleh FIFA.

Makanya, Tuan Wayan Koster, penolakan Anda tidak hanya mengejutkan sebagian anak bangsa ini, tapi juga mengejutkan FIFA. Jika Bali sebagai barometer Indonesia saja sudah menolak kesebelasan Israel, itu artinya bagi FIFA sudah dapat dipastikan, tidak mungkin ada harapan yang lebih baik untuk daerah lain di Indonesia. Kalau Bali saja yang selama ini terkenal begitu toleran sudah menolak, apalagi daerah lain pasti lebih keras menolak. Maka FIFA hanya dalam hitungan beberapa hari setelah Tuan Wayan Koster mengeluarkan pernyataan penolakan itu, langsung membatalkan rencana undian pembagian group dan lantas diikuti dengan pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah kejuaraan dunia U-20.

Tuan Wayan Koster, pernyataan dan penolakan Tuan juga dianggap FIFA sebagai sebuah penghianatan terhadap komitmen dan tanggung jawab yang sudah diberikan hitam di atas putih. FIFA menilai dalam konteks ini ternyata Indonesia tidak siap. Dapat ditafsirkan Indonesia dipandang sebagai negara munafik. Tidak sportif. Tidak menghargai komitmen. Jaminan tertulis yang sudah diberikan saja, dapat dibatalkan begitu saja hanya tiga bulan jelang berlangsung kejuaraan dunia U-20. Bagi FIFA sudah sepantasnya mandat menjadi tuan kejuaraan dunia U-20 yang diberikan kepada Indonesia dicabut.

Tuan Wayan Koster, adakah Anda faham hal ini karena pilihan dan tindakan Tuan Wayan Koster?

Tuan Wayan Koster, soal politik terhadap Israel sudah tidak perlu diragukan lagi, bangsa Indonesia sampai hari ini masih berseberangan atau bertentangan dengan Israel. Tak perlu pula disangsikan Indonesia sepenuh hati mendukung perjuangan Palestina. Ini prinsip dasar yang sudah dipegang dan dibuktikan oleh Indonesia. Hal itu sudah tidak usah diragukan lagi. Kendati demikian, hal itu tidak berarti serta merta otomatis kita wajib menolak kesebelasan Israel bertanding di Indonesia

Tuan Wayan Koster, sebelum mengambil keputusan harusnya Tuan Wayan Koster menyimak fakta yang ada. Palestina yang ingin kita perjuangkan kemerdekaannya malah dengan besar hati tidak menolak kesebelasan Israel bertanding di Indonesia. Buat Palestina, kehadiran kesebelasan Israel di Indonesia tidak mengurangi secuil pun tekad dan kerasnya Indonesia mendukung Palestina melawan Israel. Walaupun kesebelasan Israel diperbolehkan bertanding di Indonesia, pemerintah dan rakyat Palestina tetap yakin Indonesia memberikan dukungan penuh kepada mereka. Tidak ada satu pun bangsa di dunia yang mendukung palestina sebesar yang diberikan oleh Indonesia. Dengan begitu, pemerintah Palestina memaklumi jika ada kesebelasan Israel sampai hadir dan bertanding di Indonesia di bawah naungan FIFA. Apalagi di Bali. Lalu kenapa Tuan Wayan Koster malah menolaknya?

Demikian pula mungkin Tuan Wayan Koster sudah mengetahui ada beberapa pemain Israel berlaga dalam kompetesi liga Palestina? Lantas kenapa Tuan Wayan Koster lantang menolak kesebelasan Israel?

Jangan dilupakan pula, ada segelintir pemain sepak bolak Israel yang muslim atau beragama Islam, sehingga kurang relevan menempatkan isu agama untuk menolak kesebelasan Israel. Namun kenapa Tuan Wayan Koster dengan gagah perkasa menyatakan. dan memberikan surat penolakan kesebelasan Israel bermain di Bali? Kenapa, Tuan? Kenapa?

Tuan Wayan Koster, kesediaan kita menerima kesebelasan Israel tidak sedikitpun mengurangi perjuangan kita membela Palestina. Juga tidak merugikan Palestina secuil pun. Makanya rakyat dan Pemerintah Palestina sama sekali tidak keberatan. Tapi mengapa Tuan Wayan Koster sampai bertindak “lebih Palestina dari Palestina sendiri?”
Begitu pula mengapa Tuan Wayan Koster sampai mengambil keputusan yang berbeda dengan PSSI dan pemerintah pusat Indonesia? Apa sebenarnya yang ada dalam alur pikiran Tuan Wayan Koster?

Oh ya jangan lupa, para pemain kesebelasan Israel juga masih muda. Jika mereka mendapat sambutan dan sikap yang baik dari Indonesia yang nota bene “musuh politik” Israel, bukan tidak mungkin beberapa dari pemain itu justru terkesan dengan Indonesia dan dapat menjadi semacam “juru siar” mengenai kebaikan Indonesia kepada para warga negara Israel.

Tuan Wayan Koster, lihat apa yang sekarang terjadi akibat pilihan dan sikap Tuan? Begitu banyak dampak buruk yang dialami Indonesia, dan juga Bali sendiri. Begitu juga dampak negatif baik yang dirasakan langsung oleh kesebelasan Indonesia maupun bangsa dan masyarakat Indonesia.

Dari aspek kesebelasan Indonesia, sudah jelas para “bintang Indonesia” yang sudah digodok sekitar tiga tahun kehilangan kesempatan. Mereka tidak dapat merasakan tanding di kejuaraan dunia. Sesuatu yang sangat penting baik untuk pemainnya sendiri maupun jutaan generasi muda pemain bola lainnya. Asa pemain kesebelasan U-20 pastilah hancur berantakan. Hati mereka yang sudah melambung harus terhempas secara keras. Pemain dan anak-anak muda yang mau belajar dari tampilan kesebelasan kita ketika menghadapi kesebelasan lain pada level dunia, juga menjadi tertutup.

Belum lagi kita bicara dari segi finansial. Persiapan di semua aspek membutuhkan biaya tidak sedikit. Semua itu menjadi tidak mencapai sasaran.

Tuan Wayan Koster, kerugian untuk bangsa dan masyarakat Indonesia lebih besar lagi. Ada kerugian nyata ada pula kerugian “opportunity loss” atawa “kerugian atas hilangnya kesempatan yang ada.” Kerugian nyata pun banyak. Mulai dari labeling kepada bangsa Indonesia yang dinilai tidak dapat memegang janji dengan teguh. Setelah memberikan jaminan pemerintah, Tuan Wayan Koster malah mengirim surat ke Menpora yang berisi penolakan kesebelasan Israel bertanding di wilayah Bali. Penolakan yang cuma sekitar tiga bulan dari perhelatan sepak bola internasional ini di mata asing langsung membuat kita langsung dicap tidak dapat dipercaya. Janji bangsa Indonesia dianggap cuma manis di bibir sementara hatinya lain. Bangsa yang tidak sportif. Selain itu kini tiba-tiba kita diklasifikasi sebagai bangsa yang rasis, tidak dapat membedakan dimana harus bersikap tegas secara politik, dan dimana harus mengedepankan toleransi keolahragaan.

Tuan Wayan Koster, dengan dibatalkannya kejuaraan sepak bola U-20 disini, Indonesia juga kehilangan mempromosikan semua kebaikan Indonesia. Dari alamnya, budayanya dan berbagai potensi perekonomian Indonesia lainnya, termasuk ribuan UKM yang sebelumnya mendapat kesempatan mempromosikan dan menjual produknya.

Bagi Bali sendiri, sikap Tuan Wayan Koster dapat mengubah pendapat orang tentang Bali yang selama ini termasuk paling toleran, paling dapat menerima perbedaan, dapat juga terkikis. Bali yang selama ini terkenal “sebagai tanah dan budaya surga dunia“ mungkin saja memperoleh persepsi lain. Dan kalau ini terjadi wisata Bali yang sudah tumbuh sehat lagi, dapat terganggu oleh perkara ini.

Ke depan kesempatan Indonesia untuk menyelenggarakan event-event internasional menjadi lebih terbatas, apalagi di bidang olah raga. Organisasi olah raga internasional bakal berpikir ulang lagi untuk mengadakan acara di Indonesia. Dalam sport mereka tidak mau ada rasis. Sedangkan Indonesia justeru kali ini dipersoalkan sikap toleransinya terhadap perbedaan.

Tuan Wayan Koster, sadarkan Tuan semua itu terutama lantaran perbuatan Tuan Wayan Koster? Suka tidak suka, mau tidak mau, Tuan sudah menorehkan tinta hitam dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, khususnya di bidang olah raga, lebih khusus lagi di dunia lapangan sepak bola. Nama Tuan Wayan Koster tidak diragukan lagi masuk dalam daftar nama hitam persepakbolaan dan sejarah bangsa Indonesia ke depan. Setiap membicarakan persepakbolaan Indonesia di arena internasional, nama Tuan Wayan Koster yang telah menghilangkan kesempatan Indonesia menjadi tuan rumah kejuaraan dunia U-20 pasti muncul.

Ini, mohon maaf, dapat menghadirkan beban yang teramat besar dan berat buat Tuan Wayan Koster dan keluarga, walaupun tidak dapat melebihi kerugiaan dan derita sebagian dari beban masyarakat Indonesia dirugikan.

Hanya parahnya lagi, catatan sejarah ini tak dapat di-delete atau dihilangkan. Saya kepo atau ingin tahu, apa yang dirasakan hati dan pikiran Tuan Wayan Koster soal ini? Jangan-jangan saya salah besar, ternyata dapat saja Tuan Wayan Koster tidak memiliki perasan khusus apa-apa ikhwal kasus ini. Boleh jadi Tuan cuma “kesal” dituding sebagai biang kerok gagalnya Indonesia menjadi penyelenggara kejuaraan dunia U-20?

Apapun jawaban dari Tuan Wayan Koster, boleh jadi kini sudah saatnya Tuan melakukan kontemplasi terhadap yang oleh sebagian masyarakat, khususnya pengemar sepak bola, blunder dan “dosa-dosa” Tuan. Tuan dapat merenungkan dalam-dalam. Tuan dapat berpikir holistik dan jernih, termasuk siapa tahu, Tuan Wayan Koster berjiwa besar mau minta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia dan lantas mundur dari kursi gubernur Bali sebagai bentuk pertanggung jawaban.

Tabik.***

*Penulis, wartawan senior

komentar

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.